FK-KMK UGM. Museum Bio-Paleoantropologi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menerima kunjungan edukatif bagi siswa SMA Negeri 9 Yogyakarta sebagai bagian dari penguatan pembelajaran biologi berbasis pengalaman langsung. Kegiatan ini untuk mengedukasi siswa mengenai asal-usul manusia serta proses evolusi melalui pendekatan ilmiah. Kunjungan ini dilaksanakan pada 20 dan 21 Januari 2026 di Museum Bio-Paleoantropologi, Gedung T. Jacob FK-KMK UGM.
Kunjungan ini merupakan bagian dari pendalaman materi Biologi kelas XII yang bertujuan memperkaya pemahaman siswa melalui observasi langsung. Dengan menghadirkan sumber belajar autentik, museum memberikan pengalaman yang tidak sepenuhnya dapat diperoleh melalui buku teks. Siswa diajak melihat secara langsung fosil, artefak, serta dokumentasi ilmiah yang menggambarkan perjalanan panjang evolusi manusia, sehingga konsep-konsep yang sebelumnya bersifat abstrak menjadi lebih konkret dan mudah dipahami.
Mereka tidak hanya mengamati, tetapi juga berdiskusi dan mengajukan pertanyaan terkait berbagai konsep evolusi. Materi yang dipelajari mencakup teori asal-usul kehidupan seperti abiogenesis dan biogenesis, serta perbandingan pemikiran tokoh-tokoh evolusi klasik seperti Lamarck, Darwin, dan Weismann. Selain itu, siswa juga mempelajari bukti-bukti evolusi melalui fosil, anatomi perbandingan, embriologi, biogeografi, hingga pendekatan genetik modern.
Pembelajaran semakin komprehensif dengan pengenalan mekanisme evolusi seperti seleksi alam, mutasi, dan arus gen (gene flow) yang menjelaskan perubahan spesies dari waktu ke waktu. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaitkan konsep evolusi dengan fenomena nyata dalam kehidupan, termasuk adaptasi manusia terhadap lingkungan.
Lebih jauh, kunjungan ini memberikan perspektif yang lebih luas mengenai hubungan antara perubahan biologis dengan perkembangan budaya dan peradaban manusia. Museum menjadi ruang belajar yang hidup, di mana siswa diajak memahami bahwa manusia merupakan bagian dari proses evolusi yang dinamis, dipengaruhi oleh interaksi antara faktor biologis, lingkungan, dan inovasi teknologi.
Bagi pengelola museum, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen untuk menghadirkan pembelajaran yang inklusif dan inspiratif bagi generasi muda. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan ilmiah, tetapi juga terdorong untuk mengembangkan rasa ingin tahu, berpikir kritis, serta minat terhadap bidang sains dan kesehatan.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan literasi kesehatan dan pemahaman tentang evolusi manusia dalam konteks kesehatan. SDG 4: Pendidikan Berkualitas dalam penyediaan pembelajaran berbasis pengalaman yang interaktif dan ilmiah. SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pemanfaatan museum sebagai sarana inovatif dalam pendidikan sains. SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh melalui penguatan pemahaman sejarah manusia sebagai dasar membangun masyarakat yang inklusif dan berpengetahuan. SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dalam kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi dan sekolah dalam menciptakan pengalaman belajar yang bermakna. (Kontributor: Ilham Novitasari).




