Webinar FK-KMK UGM Edukasikan Aktivitas Fisik untuk Hidup Sehat dan Panjang Umur

FK-KMK UGM. Departemen Fisiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Rumah Sakit Akademik UGM dan Panitia Annual Scientific Meeting FK-KMK UGM menggelar Webinar “Aktivitas Fisik untuk Hidup Sehat dan Panjang Umur: Tinjauan Ilmiah, Preskripsi Aktivitas Fisik, Kebijakan, & Implementasi (Exercise, Longevity and Healthy Lifestyle)”. Webinar diselenggarakan secara daring melalui Zoom pada Sabtu (11/4/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan perspektif ilmiah aktivitas fisik sebagai pilar kesehatan modern, pencegahan penuaan dini, optimalisasi kualitas hidup, hingga integrasi dalam kebijakan kesehatan publik dan layanan kesehatan primer.

Webinar menghadirkan beberapa narasumber ahli yang terbagi atas dua sesi pemaparan materi, antara lain Prof. Dr. dr. Denny Agustiningsih, M.Kes., AIFM., AIFO-K; Prof. Dr. dr. Dicky Moch. Rizal, M.Kes., AIFM., Sp.And., Subsp. Fer; dan Dr. dr. Susiana Candrawati, Sp.KO pada sesi pertama serta Dr(H.C.) dr. H. Hato Wrdoyo, Sp.OG(K); dr. Widya Wasityastuti, M.Sc., M.Med.Ed., PhD., Sp.KKLP; dan dr. Rakjmat Ari Wibowo, M.Sc., Ph.D. pada sesi kedua.

Pada sesi pertama, Prof. Denny membuka materi tentang latihan fisik sebagai pilar kesehatan modern. Prof. Denny menyebut, di era modern ini, aktivitas fisik bukanlah suatu pilihan, tetapi kebutuhan biologis yang wajib untuk dilakukan. Pasalnya, secara global, tidak aktif secara fisik merupakan suatu kondisi krisis kesehatan global. Krisis ini tidak dialami saat sudah lanjut usia, tetapi sejak remaja. Sehingga, pada usia lansia, Prof. Denny menganjurkan untuk tidak hanya fokus pada Indeks Massa Tubuh (BMI), tetapi juga massa otot.

Protein yang dilepaskan oleh otot yang diberi beban maupun diregangkan, bernama myokin, secara umum akan menjaga, memperbaiki, dan memperkuat fungsi seluruh organ tubuh. Oleh karena itu, Prof. Denny menyarankan olahraga aerobik dilakukan 5-7 kali seminggu, diselingi latihan ketahanan atau latihan keseimbangan sebanyak 2-3 kali seminggu.

“Intensitas harus mulai dari rendah, meningkat bertahap, dan dipantau secara obyektif maupun subyektif,” ujar Prof. Denny.

Prof. Dr. dr. Dicky Moch. Rizal, M.Kes., AIFM., Sp.And., Subsp. Fer turut menyampaikan peran latihan fisik dalam pencegahan penuaan dini. Dengan melakukan olahraga secara teratur, beragam sistem dan bagian tubuh yang ikut mengalami perbaikan yaitu sistem jantung dan pembuluh darah, sistem respirasi, sistem otak, metabolisme tubuh, sistem hormonal reproduksi, sistem imun, mikrobioma, dan telomer.

“Ini membuka harapan kita bahwa olahraga menjadi sesuatu yang sangat penting untuk tubuh kita dan dapat menjauhkan kita dari bermacam penyakit, preventif maupun kuratif,” jelas Prof. Dicky.

Dr. dr. Susiana Candrawati, Sp.KO dalam materinya menjabarkan tentang exercise prescription for health and fitness. dr. Susiana merekomendasikan latihan kekuatan dan daya tahan otot berupa latihan 2-3 kali seminggu dengan intensistas ringan (40-50 persen dari 1 RM) untuk yang belum terlatih, meningkat menjadi intensitas sedang (60-70 persen dari 1 RM). Repetisi dilakukan sebanyak 8-12 kali untuk kekuatan otot, dan 15-20 kali untuk daya tahan otot pada orang dewasa.

“Setiap latihan ini dilakukan 2-4 set untuk kekuatan otot dan kurang dari atau sama dengan 2 set untuk daya tahan otot. Antara tiap set, istirahat selama 2-3 menit,” ujar dr. Susiana.

Pada sesi kedua, hadir Walikota Kota Yogyakarta, Dr(H.C.) dr. H. Hato Wrdoyo, Sp.OG(K), mengisi materi berjudul “Leadership and Policy in Promoting Physical Activity for Healthy Aging and Community”. dr. Hasto mengatakan, untuk menjadi negara maju, Indonesia harus memiliki SDM yang berkualitas, SDM dapat bekerja, negara menyerap tenaga kerja, dan memberdayakan perempuan. Oleh karena itu, kualitas SDM usia lansia dan kualitas kesehatan lansia, khususnya perempuan, sangat menentukan bagaimana Indonesia dapat menjadi negara maju dan sejahtera, karena perempuan memiliki angka harapan hidup yang panjang.

Beberapa program yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta untuk mewujudkan lansia yang berdaya antara lain Bina Keluarga Lansia (BKL) dan Sekolah Lansia BKL. “Dalam Sekolah Lansia, terdapat kurikulum dengan Standar Satu (bermanfaat bagi diri sendiri, menemukan kebahagiaan, dan lansia tangguh, Standar Dua (bermanfaat bagi keluarga dan mempertahankan lansia tangguh, dan Standar Tiga (bermanfaat bagi komunitas/kelompok/masyarakat, menjadi Duta lansia),” terang dr. Hasto.

Pemaparan materi selanjutnya dilanjutkan oleh dr. Widya Wasityastuti, M.Sc., M.Med.Ed., PhD., Sp.KKLP yang membahas tentang integrasi latihan fisik dalam layanan primer. Sesi materi ditutup oleh pemaparan dari dr. Rakhmat Ari Wibowo, M.Sc., Ph.D. yang menerangkan tentang translasi fisiologi latihan pada program berbasis komunitas.

Webinar tentang aktivitas fisik yang diselenggarakan oleh FK-KMK UGM menjadi salah satu upaya fakultas dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, dan SDG 5: Kesetaraan Gender. Kegiatan ini berkontribusi dalam menurunkan angka kematian di usia muda, memberikan keterampilan literasi dasar mengenai pentingnya aktivitas fisik, dan turut mendistribusikan pesan pemberdayaan perempuan sebagai upaya mencapai Indonesia Emas 2045. (Penulis: Citra: Humas).