Pernahkah terbayang memeriksa kesehatan sambil menikmati destinasi wisata di kota yang dikunjungi, atau melakukan medical check-up lalu melanjutkan waktu luang dengan berjalan-jalan menyusuri keramaian kota yang ramai? Konsep itulah yang menjadi inti dari Health Tourism, sebuah perpaduan antara layanan kesehatan dan pengalaman wisata yang kini sedang tumbuh pesat di berbagai belahan dunia.
Secara umum, Health Tourism atau wisata kesehatan merujuk pada perjalanan yang dilakukan seseorang ke suatu destinasi, sebagian atau seluruhnya, dengan tujuan memperoleh layanan kesehatan, baik bersifat medis maupun promotif-preventif. Cakupannya luas, mulai dari medical check-up, perawatan, hingga wellness activities seperti spa, yoga, meditasi, hingga pengobatan tradisional. World Health Organization (WHO) bahkan mengakui potensi wisata kesehatan sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat sistem kesehatan dan perekonomian suatu negara.
Di Asia Tenggara, Malaysia menjadi contoh paling nyata keberhasilan Health Tourism. Penang, misalnya, dikenal sebagai “kota berobat” yang setiap tahunnya menerima ratusan ribu wisatawan medis dari berbagai negara. Layanannya terstruktur rapi. Begitu mendarat, wisatawan sudah dijemput di bandara, hotel sudah terkoordinasi, biaya perawatan transparan, dan rumah sakit siap menerima. Hasilnya, ekosistem yang nyaman dan menggiurkan secara ekonomi.
Indonesia, dengan kekayaan budaya, alam, dan tradisi pengobatan yang berlimpah, sebenarnya menyimpan potensi serupa. Sebagai contoh di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kota yang populer dengan berbagai sebutan mulai dari kota seni, budaya, dan pendidikan. Program Health Tourism dilirik oleh Sistem Kesehatan Akademik atau Academic Health System (AHS) UGM untuk dikembangkan. Peran AHS UGM sebagai inisiator bergerak dalam menggandeng akademisi, rumah sakit, industri perhotelan, dan dinas pariwisata agar program tersebut berjalan dengan baik.
Inisiator Health Tourism di Yogyakarta
Menurut Dr. dr. Sudadi, SpAn-TI, Subsp.N.An(K), Subsp.An.R(K) selaku Ketua AHS UGM, sejak tahun 2020, AHS UGM sudah menetapkan empat tema prioritas. Keempat tema tersebut adalah (1) Healthy Aging atau Menua Sehat, (2) Kesehatan Ibu dan Anak, (3) tanggap darurat bencana kesehatan, dan (4) Health tourism. Tema-tema prioritas tersebut ditetapkan berdasarkan kebutuhan masyarakat sasaran.
Tema Health Tourism dipilih bukan tanpa alasan. Yogyakarta adalah salah satu destinasi wisata paling populer di Indonesia, dengan jutaan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara setiap tahunnya. Potensi ini tentu harus diberdayakan. “Karena Jogja itu daerah destinasi wisata, kalau misalnya kita menyediakan fasilitas kesehatan sambil orang berwisata itu tentu sangat baik. Sehingga Health Tourism itu merupakan salah satu dari empat tema prioritas tersebut,” terang dr. Sudadi.
dr. Sudadi menambahkan, bahwa program Health Tourism ini sudah direncanakan sejak lama. Beliau menyampaikan bahwa cikal bakal Health Tourism di Jogja sudah mulai ditanam sejak masa pandemi Covid-19, ketika AHS UGM berkolaborasi dengan Perhimpunan Dokter Pariwisata untuk menciptakan kegiatan-kegiatan olahraga dan seminar yang menarik wisatawan. Kini, konsepnya diperluas: bukan hanya layanan medis, tetapi juga wellness, pengobatan tradisional, pijat, dan berbagai aktivitas yang meremajakan jiwa dan raga.
“Kita mungkin terlambat dari negara tetangga. Contohnya Malaysia, mereka mempromosikan Penang dengan masif. Bahkan beberapa tahun lalu promosi untuk berobat di Penang itu ada di salah satu pameran di mal Jogja. Health Tourism di Jogja, setidaknya kita meniru mereka dengan ada beberapa inovasi.”
Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Program
Pada pelaksanaan program Health Tourism, AHS UGM tidak hanya berfokus pada program yang berjalan, namun berfokus untuk membangun ekosistem yang baik. Ekosistem tersebut merupakan kolaborasi dari lintas sektor. Setiap instansi mempunyai tugas masing-masing yang saling mendukung. Mulai dari rumah saikt yang menyediakan layanan kesehatan, bandara yang menyokong transportasi kunjungan wisatawan, hotel berperan dalam menerima kunjungan wisatawan, serta dinas-dinas terkait yang mempromosikan destinasi wisata Yogyakarta.
Saat ini, AHS UGM telah menggandeng sejumlah mitra dalam pelaksanaan program Health Tourism. Mulai dari Asosiasi Perhotelan, Asosiasi Travel Agent, Dinas Pariwisata Yogyakarta, dan pihak Bandara. Dari kolaborasi ini, sedang dirancang sebuah sistem layanan terpadu bagi wisatawan kesehatan: jalur khusus di bandara untuk memudahkan akses, diskon khusus dari hotel-hotel mitra, dan panduan layanan medis yang transparan.
“Kita sudah konsep wisatawan yang berobat ke Jogja sudah mempunyai jalur khusus di bandara, mereka langsung dijemput, menginap di hotel yang sudah ditawarkan dengan diskon khusus, dan tentunya lokasinya terjangkau dengan rumah sakit yang dituju. Kita berikan pelayanan yang maksimal, sehingga mereka tidak hanya berobat, tapi menikmati kota Jogja.”
Selain itu, AHS UGM juga berkolaborasi dengan beberapa rumah sakit yang sudah tersertifikasi Health Tourism. Sertifikasi ini diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, khusus untuk fasilitas kesehatan yang memenuhi standar pelayanan wisata medis. Di Yogyakarta, saat ini baru empat rumah sakit yang telah tersertifikasi: RSUP Dr. Sardjito, RSA UGM, RS JIH, dan RS Bethesda.
“Seluruh anggota AHS dirangkul untuk saling terlibat. Tapi rumah sakit itu ada sertifikasi untuk menjadi rumah sakit Health Tourism. Nah saat ini di Jogja baru RS Sardjito, RSA UGM, JIH, dan Bethesda. Yang lain, saya kira dengan inisiasi seperti ini akan tertarik untuk mengembangkan,” tutur dr. Sudadi.
Ditambahkan oleh dr. Sudadi bahwa program Health Tourism ini tidak hanya di Yogyakarta. AHS UGM sudah merangkul wilayah Jawa Tengah yang berbatasan, seperti Tawangmangu, Banjarnegara, dan Wonosobo. Bahkan, dukungan terhadap Dieng Culture Festival di dataran tinggi Dieng telah menjadi salah satu wujud nyata kolaborasi lintas daerah tersebut.
Melatih Garda Terdepan di Lokasi Wisata
Program Health Tourism yang dirancang oleh AHS UGM tidak hanya berfokus pada promosi wisata medis. Namun juga memberikan perhatian khusus pada keselamatan wisatawan di lapangan. AHS UGM secara aktif melatih petugas di lokasi-lokasi wisata untuk mampu menangani kasus-kasus kegawatdaruratan dasar, sehingga ketika ada pengunjung jatuh, terkilir, atau mengalami insiden lain, pertolongan pertama sudah bisa diberikan lebih awal sebelum tenaga medis tiba.
“Pelatihan ini sudah dijalankan di berbagai titik wisata di Gunungkidul, seperti di Wonosari dan Nglanggeran. Selain itu juga Hotel-hotel mitra AHS UGM mulai dilatih untuk memiliki karyawan yang terlatih memberikan penanganan awal bagi tamu yang mengalami insiden kesehatan.”
Ke depannya, AHS UGM berencana menerbitkan sertifikasi khusus bagi hotel-hotel yang bergabung dalam program Health Tourism. Tujuannya agar membuktikan bahwa karyawan mereka sudah terlatih dan siap mendukung keselamatan wisatawan. Program serupa juga akan dikembangkan untuk para pemandu wisata dan agen perjalanan yang menangani kunjungan wisatawan kesehatan.
Jogja Health Tourism Board dan Website yang Dinantikan
Di tahun 2026, program Health Tourism melangkah lebih maju. Untuk merealisasikan program ini berjalan dengan lancar, terbentuklah Jogja Health Tourism Board. Jogja Tourism Board merupakan sebuah badan lintas sektor yang akan menjadi pusat koordinasi ekosistem wisata kesehatan di Yogyakarta. Board ini beranggotakan perwakilan dari Dinas Pariwisata, Asosiasi Transportasi, Asosiasi Perhotelan, Rumah Sakit tersertifikasi Health Tourism, dan tentunya AHS UGM sebagai inisiator.
Pertemuan rutin antara para pemangku kepentingan ini sudah beberapa kali digelar, kebanyakan berlokasi di FK-KMK UGM. Satu terobosan digital juga sedang dipersiapkan sebuah website bernama Jogja Health Tourism Board yang akan menjadi portal informasi terpadu bagi siapa saja yang ingin mengakses layanan kesehatan di Yogyakarta.
“Kita juga sudah merancang adanya website, sehingga orang di luar sana akan bisa melihat. Begitu klik Jogja Health Tourism, mereka menjadi tahu tempat untuk berobat, misalnya layanan unggulan di masing-masing rumah sakit di Jogja.”
Melalui website ini, calon wisatawan kesehatan dari dalam maupun luar negeri dapat dengan mudah membandingkan layanan unggulan setiap rumah sakit, memesan akomodasi mitra, hingga merencanakan perjalanan wisata medis mereka secara menyeluruh. Setiap anggota Board akan berkontribusi menyediakan dan memperbarui informasi di platform tersebut.
2026: Titik Akselerasi
Tantangan terbesar yang diakui oleh AHS UGM saat ini adalah membangun kebersamaan dan koordinasi lintas sektor yang kokoh. Ekosistem Health Tourism tidak bisa dibangun oleh satu pihak saja, ia memerlukan komitmen bersama dari semua pemangku kepentingan.
Namun dr. Sudadi optimis bahwa tahun 2026 ditetapkan sebagai titik akselerasi. Dengan berbagai rencana yang sudah tersusun, mulai dari pembentukan Board, peluncuran website, pengembangan sertifikasi hotel, hingga perluasan pelatihan kegawatdaruratan, tentu saja program Health Tourism khususnya di Jogja nantinya berhasil sesuai harapan bersama.
Pada akhirnya, Health Tourism bagi AHS UGM bukan sekadar pelayanan kesehatan. Ini adalah wujud nyata dari visi institusi pendidikan merangkul lintas sektor demi kesehatan masyarakat yang lebih baik dan kesejahteraan yang lebih merata. Mempromosikan destinasi wisata dengan berbagai keunggulan dalam pelayanan kesehatan, dan tentunya membuat perekonomian di destinasi tersebut terus bergerak.
Destinasi wisata di Yogyakarta dengan segala pesonanya, sudah lama menjadi tujuan jutaan orang yang ingin berkunjung. Kini, dengan adanya Health Tourism yang tengah dibangun, Yogyakarta bersiap menyambut wisatawan yang ingin mendapatkan pelayanan kesehatan secara baik dipadu dengan perjalanan wisata yang menyenangkan.
Reporter: Nasirullah Sitam
Narasumber: Dr. dr. Sudadi, SpAn-TI, Subsp.N.An(K), Subsp.An.R(K)
Editor: Supriyati