RABOAN Bioetika FK-KMK UGM Bahas Embrio Surplus dari Perspektif Pasien IVF

FK-KMK UGM. Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) menyelenggarakan RABOAN Bioetika Special Series 4 sebagai bagian dari diseminasi penelitian “Navigating the Moral Maze: An Analysis of the Ethical and Religious Issues Surrounding the Use of Leftover IVF Embryos for Stem Cell Research” untuk memperluas diskusi mengenai persoalan etika dan agama dalam pemanfaatan embrio IVF yang tersisa untuk penelitian sel punca. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara daring pada Rabu, 26 Agustus 2026, sebagai seri keempat sekaligus penutup rangkaian “Biology and Belief: Charting the Ethics of Surplus Embryo Utilization”.

RABOAN Bioetika Special Series 4 menghadirkan dua perspektif yang dekat dengan pengalaman nyata dalam layanan fertilisasi in vitro (IVF), yakni tenaga kesehatan dan pasien. Narasumber yang hadir adalah Ns. Safaatun Hatimah, S.Kep., Perawat Klinik Infertilitas/Permata Hati RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, serta Leonilla Vari Amrta, S.Sos., AFP, CWM, CIC, pasien IVF Klinik Permata Hati RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Diskusi dipandu oleh Prof. Syafaatun Almirzanah, MA, M.Th., Ph.D., D.Min., Ketua Center for Spirituality, Science, and Humanity UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Perspektif perawat memberikan gambaran mengenai pendampingan yang berlangsung selama pasien menjalani proses IVF. Peran tenaga kesehatan tidak berhenti pada tindakan medis, tetapi juga mencakup komunikasi, pemberian informasi, dan pendampingan ketika pasien dihadapkan pada berbagai pilihan selama proses perawatan.

Di sisi lain, kehadiran pasien memberikan dimensi pengalaman yang berbeda. Keputusan mengenai embrio yang tersisa tidak hanya berkaitan dengan prosedur klinis, tetapi dapat bersinggungan dengan harapan pasien, pengalaman menjalani program IVF, nilai-nilai pribadi, serta pertimbangan emosional dan moral. Perkembangan teknologi IVF memang memberikan peluang bagi pasangan yang menghadapi persoalan infertilitas.

Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa persoalan embrio surplus tidak semata-mata berkaitan dengan apa yang secara teknologi dapat dilakukan. Ada pula pertanyaan mengenai apa yang seharusnya dilakukan secara etis. Pilihan mengenai embrio surplus perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas dengan mempertimbangkan keputusan pasien, prosedur klinis, regulasi, nilai yang dianut, serta pertimbangan moral dan keagamaan.

Dalam konteks tersebut, bioetika memiliki peran untuk membantu berbagai pihak melihat persoalan secara lebih menyeluruh. Diskusi tidak diarahkan untuk menemukan satu jawaban yang seragam, melainkan membuka ruang untuk memahami berbagai pertimbangan yang muncul ketika perkembangan ilmu pengetahuan bertemu dengan nilai, keyakinan, pengalaman manusia, dan keputusan personal.

RABOAN Bioetika Special Series 4 menjadi bagian penutup dari rangkaian diskusi “Biology and Belief: Charting the Ethics of Surplus Embryo Utilization” yang telah berlangsung dalam empat seri. Pada Seri 1, pembahasan menghadirkan perspektif etika dan agama bersama Prof. Syafaatun Almirzanah, MA, M.Th., Ph.D., D.Min. dan Dr. CB Kusmaryanto, SCJ., dengan moderator Ns. Wahyu Dewi Sulistyarini, M.S.N.

Seri 2 kemudian memperluas pembahasan melalui perspektif medis dan embriologi dengan menghadirkan Dr. dr. Ita Fauzia Hanoum, Sp.OG., MCE dan Prof. Dr. Moch. Anwar, M.Med.Sc., Sp.OG., K.Fer, dengan moderator Prof. Syafaatun Almirzanah. Sementara itu, Seri 3 menghadirkan perspektif Katolik dan Hindu melalui Dr. Antonius Baur Asmoro, Pr. dan Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR, serta kembali dimoderatori oleh Prof. Syafaatun Almirzanah.

Jika tiga seri sebelumnya membangun pembahasan dari perspektif etis, keagamaan, medis, embriologi, serta lintas agama, Seri 4 melengkapinya dengan pengalaman tenaga kesehatan dan pasien IVF. Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai embrio surplus membutuhkan dialog lintas perspektif agar persoalan dapat dipahami secara lebih utuh.

Sebagai bagian dari diseminasi penelitian, RABOAN tidak hanya menjadi ruang untuk menyampaikan hasil kajian akademik. Forum ini juga menghubungkan penelitian dengan pengalaman dan pandangan pihak-pihak yang berhadapan langsung dengan layanan IVF. Penelitian “Navigating the Moral Maze” sendiri mengkaji persoalan etika dan agama yang muncul dalam pemanfaatan embrio IVF yang tersisa untuk penelitian sel punca.

Kegiatan ini mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan pemahaman mengenai layanan kesehatan reproduksi dan kesejahteraan pasien; SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui diseminasi pengetahuan bioetika; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi lintas keilmuan dan pengalaman. (Kontributor: Rafi).