Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, FK-KMK UGM Petakan Ketahanan Iklim 44 Puskesmas di DIY

FK-KMK UGM. Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan bersama Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial menyelenggarakan workshop “Kesiapan dan Ketahanan Iklim Fasilitas Kesehatan Primer” untuk memperkuat kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan dalam menghadapi risiko perubahan iklim dan bencana di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis, 13 Agustus 2026, di FK-KMK UGM, dengan melibatkan 44 Puskesmas yang berasal dari Kabupaten Bantul, Sleman, dan Gunungkidul.

Workshop ini menjadi bagian dari upaya membangun pemahaman sekaligus memetakan kapasitas dan kerentanan fasilitas kesehatan primer terhadap berbagai ancaman yang berkaitan dengan perubahan iklim. Kegiatan dipimpin oleh Lusha Ayu Astari, S.K.M., M.P.H., bersama Dr. Daniel, M.Sc., Daffa Taufiqulhakim, A.Md.Kes., S.KL., dan Fadliana Hidayatu Rizky U.H., M.H.P.M.

Dalam pemaparannya, Dr. Daniel, M.Sc. menjelaskan bahwa perubahan iklim merupakan persoalan yang memiliki dampak langsung terhadap kesehatan masyarakat dan keberlangsungan pelayanan kesehatan. Peningkatan suhu, banjir, kekeringan, badai, serta berbagai kejadian cuaca ekstrem dapat memengaruhi pola penyakit sekaligus mengganggu operasional fasilitas kesehatan. Dampak tersebut dapat berupa kerusakan infrastruktur, terganggunya akses masyarakat, keterbatasan pasokan air dan listrik, hingga hambatan dalam penyediaan obat maupun vaksin.

Menurutnya, ketahanan iklim fasilitas kesehatan perlu dibangun secara menyeluruh dengan mempertimbangkan kesiapan tenaga kesehatan, kondisi infrastruktur, ketersediaan sumber daya, serta prosedur kesiapsiagaan yang sesuai dengan karakteristik risiko di setiap wilayah. Dengan demikian, Puskesmas tidak hanya mampu merespons kejadian bencana ketika terjadi, tetapi juga memiliki kapasitas untuk mengantisipasi dan mengurangi dampaknya terhadap pelayanan kesehatan.

Selanjutnya, Lusha Ayu Astari, S.K.M., M.P.H. memaparkan instrumen Climate-Resilient and Environmentally Sustainable Healthcare Facility (CRESHCF) yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Instrumen tersebut digunakan untuk membantu fasilitas kesehatan menilai kesiapan dan ketahanannya melalui empat aspek utama, yakni sumber daya manusia; air, sanitasi, dan higiene atau Water, Sanitation, and Hygiene (WASH); energi dan infrastruktur; serta manajemen dan kesiapsiagaan pelayanan.

Hasil pemetaan 44 Puskesmas menunjukkan bahwa 79,5 persen memiliki kapasitas fasilitas kesehatan dalam kategori tinggi, dengan aspek energi mencatat skor tertinggi sebesar 79,8 persen. Namun, WASH masih menjadi prioritas penguatan pada 52,3 persen Puskesmas. Dari sisi kerentanan, sumber daya manusia menjadi perhatian utama, sementara bahaya iklim yang paling banyak dilaporkan adalah badai atau puting beliung, kekeringan, dan banjir. Temuan ini menegaskan perlunya tindak lanjut dan intervensi yang disesuaikan dengan risiko serta kebutuhan masing-masing Puskesmas.

Penguatan aspek WASH dan sumber daya manusia menjadi prioritas untuk meningkatkan ketahanan Puskesmas menghadapi perubahan iklim dan kondisi darurat. Data pemetaan yang dihasilkan FK-KMK UGM dapat menjadi dasar penyusunan strategi adaptasi berbasis bukti melalui kolaborasi perguruan tinggi, Puskesmas, dinas kesehatan, dan pemerintah daerah. Workshop ini menjadi langkah awal untuk memperkuat kesiapan Puskesmas dalam menghadapi risiko iklim serta menjaga keberlanjutan pelayanan kesehatan di DIY.

Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan ketahanan fasilitas pelayanan kesehatan. SDG 6 Air Bersih dan Sanitasi Layak didukung melalui perhatian terhadap aspek WASH. SDG 7 Energi Bersih dan Terjangkau berkaitan dengan penguatan kesiapan energi fasilitas kesehatan. SDG 13 Penanganan Perubahan Iklim diwujudkan melalui pemetaan risiko dan penguatan kapasitas adaptasi sektor kesehatan. (Kontributor: Fadliana Hidayatu Rizky U.H).