Pekan terakhir November 2025 menghantarkan duka bagi Pulau Sumatera. Bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang telah menghanyutkan kehidupan di provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatra Barat. Menurut data Rekapitulasi Terdampak Bencana Banjir dan Longsor Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat Tahun 2025 oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), per 26 Januari 2026, 53 kabupaten/kota terdampak akibat bencana ini. 1.201 jiwa melayang, 142 warga hilang, dan 113.900 orang masih mengungsi menantikan harapan. 175.050 rumah rusak, dengan jabaran 53.412 rumah mengalami rusak berat, 45.085 rumah mengalami rusak sedang, dan 76.553 rumah mengalami rusak ringan.
Dari 53 kabupaten-kota terdampak, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, menjadi wilayah dengan korban meninggal dunia paling banyak sejak hari pertama bencana, begitu pula dengan pengungsinya. Per 26 Januari 2026, korban jiwa mencapai 246 orang dan sekiranya 33.300 warga masih mengungsi.
Tim Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang terdiri atas Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK dan Pokja Bencana FK-KMK UGM serta RS Jejaring AHS UGM segera melakukan respons kebencanaan. Ketua Pokja Bencana FK-KMK UGM, Sutono, S.Kp., M.Sc., M.Kep, menceritakan bahwa sejak 30 November 2025, Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Dr. dr. Sudadi, SpAn-TI, Subsp.N.An(K), Subsp.An.R(K), telah menggerakkan Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK, Pokja Bencana FK-KMK UGM, dan AHS UGM untuk berkoordinasi dan segera melakukan asesmen di Banda Aceh. Sebelum memberikan respons, tim perlu memperhatikan kondisi lokasi dan berbagai hal yang dibutuhkan oleh korban bencana.
Pada 2 Desember 2025, tim asesmen yang terdiri dr. Agung Widianto, SpBKBD dan Apt Gde Yulian Yogadhita, M.Epid menuju Banda Aceh dan berkoordinasi dengan perwakilan Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes yang sudah berada di Provinsi Aceh. Berdasarkan koordinasi tersebut, tim FK-KMK UGM memfasilitasi berdirinya Health Emergency Operation Centre (HEOC) atau Pusat Pengendali Operasional Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Aceh sebagai pusat krisis kesehatan akibat bencana sekaligus memutuskan Kabupaten Aceh Utara sebagai daerah tujuan respons kebencanaan tim FK-KMK UGM selaku wilayah yang paling terdampak oleh bencana.
“Dari hasil asesmen tersebut, diputuskan untuk segera membentuk tim Emergency Medical Team (EMT) yang memberikan respons akut untuk korban beserta tim pendukungnya (tim support),” kata Sutono.
Setelah hasil asesmen diterima, FK-KMK UGM bergerak cepat mengirimkan tim gabungan bernama Tenaga Cadangan Kesehatan-Emergency Medical Team (TCK-EMT) Pokja Bencana – AHS UGM yang terjun secara berkesinambungan ke dalam lima kelompok. Tim EMT terdiri atas anggota Pokja Bencana FK-KMK UGM, tenaga kesehatan dari rumah sakit jejaring AHS UGM —antara lain RSUP Dr. Sardjito, RSA UGM, RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, RSUD Wates, RSUD Sleman, dan RS Mata dr. YAP—yang terdiri atas dokter umum, dokter spesialis, maupun perawat. Terdapat pula tim pendukung yang melibatkan ahli teknik, sanitarian, ahli gizi, apoteker serta tim kesehatan jiwa.
Dari Balut Luka ke Bangun Tata Kelola
Pada 4 Desember 2025, tim TCK-EMT AHS UGM batch 1, atau disebut sebagai Tim Aceh 2, beranggotakan 14 orang berangkat menuju Aceh Utara dan lekas menuju ke RSUD dr. Muchtar Hasbi sebagai sasaran lokasi respons kebencanaan. Meskipun rumah sakit itu hanya sedikit terdampak secara fisik, tetapi akses menuju rumah sakit terendam hingga mencapai kedalaman hampir dua meter. Hampir 80 persen karyawan rumah sakit turut terdampak akibat bencana banjir tersebut, sehingga menyebabkan rumah sakit tidak beroperasi.
Sesampainya di RSUD dr. Muchtar Hasbi, Tim Aceh 2 yang diketuai oleh dr. R. Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B, Subsp. Onk (K) dipersilakan oleh Direktur Rumah Sakit untuk membantu memberikan pelayanan kesehatan dan menggunakan ruangan-ruangan yang tidak beroperasi. Segera setelah menghuni RSUD dr. Muchtar Hasbi, tim menemukan listrik rumah sakit padam, tidak ada koneksi jaringan, tiadanya air, dan tidak ada pasien. Hanya ada beberapa perawat yang berjaga.
Tim teknis segera menghidupkan listrik yang padam dan menemukan satu genset baru yang belum pernah digunakan oleh rumah sakit sejak lima tahun terakhir. Akhirnya, genset tersebut dapat diperbaiki. Listrik rumah sakit dapat kembali menyala.
“Itu merupakan satu pembelajaran bahwa ternyata fasilitas yang semula tidak dianggap perlu, ternyata menjadi perlu. Tim juga mencari lokasi kebocoran air, sehingga permasalahan air juga dapat difasilitasi. Tim medis turut memberikan layanan di sembilan dari 19 puskesmas di Aceh Utara yang terdampak,” terang Sutono.
Hampir sepekan terjun, tim TCK-EMT AHS UGM kembali mengirimkan batch 2 untuk menggantikan batch 1. Diketuai oleh Dr. dr. Yudha Mathan Sakti, Sp.OT., K-Spine, 11 anggota tim batch 2 masih mendukung pemberian layanan di rumah sakit maupun puskesmas. Selama tim batch 2 terjun langsung, tim turut menemukan tiadanya HEOC tingkat kabupaten, sehingga tim mengusulkan berdirinya HEOC Aceh Utara.
Pada tim batch 3, Sutono memimpin 12 orang untuk mendampingi aktivasi HEOC di Kabupaten Aceh Utara dan menggerakkan fungsi manajemen bencana yang nantinya akan dijalankan oleh Dinas Kesehatan wilayah. Tak lupa, tim yang digawangi Sutono masih memberikan layanan kepada rumah sakit dan Puskesmas terdampak.
“Selama ini, tidak ada laporan data dari relawan yang datang, sehingga data Kementerian Kesehatan tidak valid. Dengan adanya HEOC, semua relawan harus melakukan registrasi ke HEOC, lengkap beserta apa saja tugasnya, berapa jumlahnya, kategorinya apa, logistik apa yang dibawa, durasinya berapa, dan laporan hariannya harus dilaporkan ke HEOC. Selanjutnya, HEOC menugaskan atau menempatkan mereka sesuai dengan ketersediaan Nakes yang ada serta tingkat keparahan wilayah. Dengan aktifnya HEOC, data kemudian terkelola dengan baik karena setiap hari HEOC dapat melaporkan data keadaan krisis kesehatan akibat bencana ke provinsi, dari provinsi ke Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, sehingga ada data statistik jurnal harian yang valid, yang selanjutnya dipublikasikan oleh Kemenkes,” jelas Sutono.
Tim batch 4 yang dipimpin oleh apt. Gde Yulian melanjutkan misi tim batch 3 dalam mendampingi pembentukan HEOC di Kabupaten Aceh Utara secara ideal. Tim Gde mengelola, melatih dan mendampingi SDM yang ditempatkan di HEOC Aceh Utara, membuat strukturnya, mendampingi tupoksi SDM Dinas Kesehatan Aceh Utara yang bekerja di HEOC, sembari tetap memberikan layanan Kesehatan di wilayah Puskesmas terdampak. Dalam tim beranggotakan 10 orang tersebut, terdapat tim psikososial berupa psikolog yang menangani kebutuhan mental para korban.
“Secara keseluruhan, tim TCK-EMT AHS UGM telah melayani lebih dari 4.500 warga selama periode EMT kami di rumah sakit dan sembilan Puskesmas terdampak. Kami menangani berbagai jenis penyakit terpola, paling banyak yaitu ISPA, penyakit kulit, hipertensi, dan korban luka,” ujar Sutono.
Perbaikan infrastruktur sistem sudah mulai berjalan melalui bantuan tim batch 5, meskipun belum optimal. Tim ini mulai memandirikan fungsi-fungsi layanan kesehatan, baik rumah sakit maupun Puskesmas. Sebagai penutup, Sutono dan Gde kembali ke Aceh Utara sebagai peninjauan akhir fungsi rumah sakit, berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, dan melakukan asesmen untuk jangka berikutnya. Sutono dan Gde turut mendata kebutuhan korban pascabencana, apa yang perlu disiapkan pascabencana, peningkatan sumber daya manusia dan upaya memandirikannya, serta memperkuat fungsi-fungsi Dinas Kesehatan.
Selain itu, Sutono dan Gde turut menginventarisasi peralatan obat-obatan, bahan habis pakai, termasuk bantuan peralatan baru untuk mendukung Unit Gawat Darurat RSUD dr. Muchtar Hasbi. Sutono dan Gde juga melakukan asesmen di area-area yang sangat terdampak di daerah Langkahan, Aceh Utara. Di sana, tim TCK-EMT AHS UGM memiliki program pendampingan di masyarakat untuk air bersih dan tenaga surya. Bersama Sekolah Vokasi UGM dan Universitas Teuku Umar, Aceh Barat tim TCK-EMT AHS UGM juga ikut memfasilitasi penjernih air di wilayah Bener Meriah.
“Itu sangat bermanfaat untuk mereka, termasuk pendampingan kelompok rentan, khususnya ibu hamil, pemeriksaan USG, dan mengaktifkan kembali fungsi-fungsi layanan kesehatan, khususnya untuk kelompok rentan,” ungkapnya.
Kebersamaan dalam Tantangan
Selama terjun dalam memberikan respons kebencanaan di Aceh, Sutono mengenang tantangan terbesar yang dihadapi: komunikasi lumpuh dan listrik padam. Saat listrik masih padam, tim harus mencari air secara mandiri. Infrastruktur rusak, sehingga tim harus menempuh perjalanan yang lama ke Langkahan–dari 30 menit menjadi dua jam–untuk memberikan layanan kesehatan, ditambah kondisi yang rusak berat sesampainya di Langkahan. Beruntung, kebutuhan logistik seperti makanan dan obat-obatan masih dapat diakses dengan mudah berkat pasar daerah dan apotek yang masih beroperasi.
Berbagai rintangan tersebut tak dihadapi oleh tim EMT-AHS UGM sendiri. Tim turut didampingi oleh tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas, akademisi, klinisi, serta mahasiswa FK-KMK UGM. Sutono mengemukakan, pengabdian masyarakat, termasuk respons kebencanaan, menjadi wahana pembelajaran yang utuh bagi mahasiswa. Mahasiswa yang turut terlibat mulai dari mahasiswa Doktoral, Magister Keperawatan, Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), Sarjana Kedokteran, Gizi, dan Keperawatan.
“Ada tim bantuan medis mahasiswa (Sarjana) yang sangat membantu kami untuk mendukung kebutuhan administratif, sedangkan untuk mahasiswa Pascasarjana kami libatkan langsung dalam pelayanan,” tutur Sutono.
Menata Ulang, Menguatkan Langkah
Selama turun menangani bencana di berbagai daerah, termasuk Aceh, Sutono merefleksi bahwa selalu terjadi ‘kedodoran’ dalam manajemen krisis kesehatan atau fungsionalitas HEOC. Sutono menyebut, apabila di setiap Dinas Kesehatan daerah memiliki tim HEOC yang telah terlatih, maka informasi tentang pasien, korban, hingga relawan akan tercatat secara detail, beserta durasi pelaksanaan bantuan dan daftar kebutuhan logistik.
Menurut Sutono, fungsi manajemen kebencanaan seringkali terlupakan oleh tim relawan. Berdasarkan pengalaman respons bencana selama ini, ketika bencana terjadi di berbagai daerah di Indonesia, tim UGM berupaya untuk selalu membawa dukungan medis dan manajemen yang bermuara pada pengaktifan dan pendampingan HEOC.
Oleh karena itu, Sutono mengungkapkan, penanganan pascabencana tetap memerlukan asesmen lanjutan. Dr. dr. Sudadi, SpAn-TI, Subsp.N.An(K), Subsp.An.R(K) selaku Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Pengabdian Kepada Masyarakat FK-KMK UGM menyampaikan bahwa UGM siap untuk mendampingi peningkatan status Rumah Sakit, khususnya di RSUD dr. Muchtar Hasbi, dan mendampingi peningkatan kompetensi SDM di Dinas Kesehatan melalui serangkaian pelatihan.
“Kami akan memberikan pelatihan-pelatihan, termasuk hospital disaster plan di RSUD dr. Muchtar Hasbi dan Dinkes Disaster Plan untuk Dinas Kesehatan Aceh Utara. Kami akan mendampingi dan memberikannya pada fase pasca bencana nanti,” ujar Sutono.
Menutup perbincangan, Sutono berpesan kepada para mahasiswa bahwa pembelajaran nyata adalah ketika di lokasi bencana. Pembelajaran di kelas belumlah sempurna tanpa pembelajaran di lapangan. Oleh sebab itu, mahasiswa perlu terlibat dalam memberikan pelayanan kesehatan secara langsung untuk memahami kondisi nyata masyarakat terdampak, sehingga mereka siap ketika berprofesi sebagai tenaga kesehatan.
“Ini bagian dari implementasi interprofessional education dalam tatanan nyata. Di mana pun pengabdian masyarakat dilakukan, baik dalam kondisi aman maupun bencana, kami selalu mengajak mahasiswa, karena program atau kegiatan kami tidak pernah lepas dari pembelajaran untuk mahasiswa,” tutup Sutono.
Penulis: Citra Agusta Putri Anastasia
Editor: Moh. Hendra Setia Lesmana