FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada meluluskan mahasiswa Program Studi Doktor, Meistvin Welembuntu, S.Kep., Ns., MAN, dengan predikat Cumlaude sebagai Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan. Dalam ujian terbuka di Auditorium FK-KMK UGM pada Kamis, (27/8). Meistvin Welembuntu memaparkan hasil penelitiannya yang berjudul “Desain Intervensi Optimalisasi Sistem Rujukan di Puskesmas Kepulauan dan Perbatasan Indonesia – Filipina”.
Penelitian yang dilakukan oleh Meistvin bertujuan untuk mengeksplorasi pelaksanaan sistem rujukan kesehatan sekaligus merancang intervensi guna mengoptimalkan layanan rujukan di wilayah kepulauan dan perbatasan. Penelitian dilaksanakan sejak September 2024 hingga Maret 2026 ini berlokasi di Puskesmas Nusa Tabukan, Puskesmas Kahakitang, dan Puskesmas Marore di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, dengan melibatkan masyarakat yang pernah memperoleh rujukan dari puskesmas, tenaga kesehatan, serta para pemangku kepentingan untuk memperoleh gambaran mengenai tantangan sistem rujukan di wilayah kepulauan.
“Pada komponen rujuk bahari ini, saya melibatkan orang-orang yang melakukan praktik pengobatan tradisional itu diberdayakan untuk menjadi target pada peserta program rujuk bahari. Sehingga orang-orang tersebut mempunyai pemahaman yang baik terkait rujukan, serta bisa mengarahkan untuk pertolongan secara medis,” terang Meistvin.
Metode yang digunakan dalam penelitian menggunakan pendekatan penelitian implementasi melalui kerangka Intervention Mapping. Pendekatan tersebut digunakan untuk mengidentifikasi permasalahan, memahami faktor-faktor yang memengaruhi pelaksanaan rujukan, serta menyusun intervensi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan karakteristik wilayah kepulauan perbatasan.
Peningkatan dan pemerataan pelayanan kesehatan primer, termasuk penguatan sistem rujukan, menjadi salah satu prioritas dalam reformasi kesehatan. Meskipun aturan dan mekanisme rujukan telah tersedia, pelaksanaannya di wilayah dengan tantangan geografis masih memerlukan perhatian khusus. Kondisi kepulauan yang dipisahkan oleh laut dan keterbatasan akses terhadap fasilitas pelayanan kesehatan lanjutan menjadi bagian dari konteks yang perlu dipertimbangkan dalam penyelenggaraan sistem rujukan.
“Permasalahan rujukan di daerah kepulauan di Indonesia itu pada dasarnya sama. Alat medis yang disuplai pemerintah pusat ke daerah, itu sama persis. Tidak ada perbedaan di daerah daratan ataupun kepulauan. Sehingga penggunaannya tidak maksimal karena di kepulauan penuh keterbatasan. Harapannya, pemerintah pusat dapat mengidentifikasi pengiriman alat disesuaikan dengan Lokasi geografis dan kondisi daerah tersebut.”
Melalui pengumpulan data dari masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemangku kepentingan, penelitian ini menemukan bahwa salah satu persoalan prioritas adalah masih terbatasnya pemahaman masyarakat mengenai aturan dan fasilitas pelayanan rujukan. Selain itu, pemahaman masyarakat dan tokoh masyarakat mengenai penyakit serta risiko kesehatan juga perlu diperkuat. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pengambilan keputusan masyarakat ketika menghadapi masalah kesehatan dan membutuhkan pelayanan lebih lanjut.
Untuk merancang solusi yang sesuai dengan kondisi lapangan, penelitian ini mengintegrasikan realist review dalam proses pengembangan intervensi. Penelusuran literatur dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai pendekatan yang relevan dalam mengatasi permasalahan yang ditemukan. Hasil kajian kemudian dipadukan dengan diskusi bersama pakar dan dinas kesehatan untuk merancang intervensi yang mempertimbangkan kebutuhan serta konteks lokal masyarakat kepulauan.
Berdasarkan data yang didapatkan, Meistvin Welembuntu mengembangkan Program Rujuk Bahari sebagai salah satu strategi untuk mendukung optimalisasi pelaksanaan rujukan kesehatan. Program ini dirancang sebagai sarana komunikasi, informasi, dan edukasi bagi masyarakat untuk meningkatkan pemahaman mengenai penyakit, risiko kesehatan, aturan rujukan, dan fasilitas pelayanan yang dapat diakses. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat mengambil keputusan kesehatan secara lebih tepat, terutama ketika membutuhkan layanan rujukan dari fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama ke fasilitas yang lebih mampu menangani kondisi pasien.
“Program rujuk bahari ini sudah disesuaikan dengan keadaan lokasi setempat, daerah kepulauan. Kemudian sudah dikonsultasikan dengan para pakar, dan sudah diterapkan oleh tenaga medis di daerah kepulauan. Sehingga, mereka yang hendak turun ke lapangan sudah mempunyai rencana untuk tindakan dalam kegawatdaruratan dan yang lainnya.”
Penelitian ini sejalan dengan SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya memperkuat akses dan pemanfaatan layanan kesehatan yang tepat, SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan melalui perhatian terhadap kesenjangan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah kepulauan dan perbatasan, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Humas/Sitam).


