FK-KMK UGM. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) menyelenggarakan pelatihan daring bertajuk “Penerapan dan Pengukuran Patient-Centered Care (PCC) di Fasyankes” untuk memperkuat pemahaman dan kemampuan peserta dalam menerapkan serta mengukur pelayanan yang berpusat pada pasien sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien.
Pelatihan ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep., MPH, CQIPS, Dr. Fridawaty Rivai, S.KM., M.Kes., serta Dr. dr. Zulkarnain Abubakar, MARS. Melalui perspektif dan pengalaman masing-masing narasumber, peserta memperoleh pemahaman mengenai konsep PCC, strategi penerapannya di fasilitas pelayanan kesehatan, hingga berbagai metode untuk mengukur pengalaman pasien.
Dalam sesi pertama, Eva Tirtabayu Hasri memaparkan perspektif global mengenai Patient-Centered Care. Pendekatan PCC menempatkan kebutuhan, nilai, preferensi, dan tujuan pasien sebagai bagian penting dalam proses pelayanan kesehatan dan pengambilan keputusan. Dengan demikian, pasien tidak hanya diposisikan sebagai penerima layanan, tetapi juga menjadi bagian yang perlu didengarkan dan dilibatkan dalam proses perawatan.
Penerapan pelayanan yang berpusat pada pasien membutuhkan dukungan yang lebih luas daripada sekadar perubahan perilaku tenaga kesehatan. Transformasi tersebut juga memerlukan sistem organisasi yang mendukung, lingkungan kerja yang kondusif, serta pendidikan dan pelatihan yang membantu tenaga kesehatan menerapkan pendekatan PCC secara konsisten.
Pembahasan berikutnya disampaikan oleh Dr. Fridawaty Rivai yang mengulas konsep dan penerapan PCC di fasilitas pelayanan kesehatan. Menurutnya, PCC bukan sekadar upaya meningkatkan kenyamanan atau menyediakan fasilitas tambahan bagi pasien, melainkan perubahan dalam cara organisasi merancang dan memberikan pelayanan kesehatan.
Penerapan PCC mencakup penghormatan terhadap nilai dan pilihan pasien, koordinasi pelayanan, penyediaan informasi dan edukasi, perhatian terhadap kenyamanan fisik, dukungan emosional, keterlibatan keluarga dan orang terdekat, kesinambungan pelayanan, serta kemudahan akses terhadap layanan.
Sementara itu, Dr. dr. Zulkarnain Abubakar membahas pentingnya pengukuran PCC di fasilitas pelayanan kesehatan. Peserta diperkenalkan pada sejumlah instrumen untuk mengukur pengalaman pasien dan penerapan pelayanan berpusat pada pasien, antara lain Picker Patient Experience Survey atau PPE-15, CAHPS, PCPCM, dan P-CAT.
Pemilihan instrumen, menurut pemaparan narasumber, perlu disesuaikan dengan karakteristik fasilitas pelayanan kesehatan dan populasi pasien. Selain itu, pengujian validitas dan reliabilitas menjadi langkah penting agar data yang diperoleh dapat memberikan gambaran yang tepat. Hasil pengukuran selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar untuk mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dan mengembangkan strategi peningkatan pengalaman pasien secara berkelanjutan.
Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan mutu dan keselamatan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kebutuhan pasien. SDG 4 Pendidikan Berkualitas diwujudkan melalui peningkatan pengetahuan dan kapasitas tenaga kesehatan dalam menerapkan PCC. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan tercermin melalui pertukaran pengetahuan dan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan dalam mendorong peningkatan mutu pelayanan kesehatan. (Kontributor: Helen Anggraini Budiono).



