FK-KMK UGM. Departemen Neurologi FK-KMK UGM bersama Tim Poli Memori RSUP Dr. Sardjito menyelenggarakan kegiatan skrining kognitif, edukasi demensia, stimulasi kognitif, dan senam otak bersama kelompok Lansia Pangrayu dalam rangka memperingati World Alzheimer Month. Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa, 8 September 2026, tersebut berlangsung di Gedung Bhisma RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta diikuti sekitar 200 peserta sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan otak serta pentingnya mengenali gangguan kognitif sejak dini.
Rangkaian kegiatan dirancang dengan pendekatan promotif, preventif, dan edukatif. Pada sesi awal, peserta mengikuti skrining kognitif yang dilakukan oleh dr. Distya Nugrahening P., Sp.N., F.Neurobehavior, dr. Mariesta, Sp.N., dan dr. Basroni. Pemeriksaan tersebut menjadi salah satu langkah untuk membantu mengenali adanya perubahan fungsi kognitif yang perlu mendapatkan perhatian dan evaluasi lebih lanjut.
Setelah skrining, kegiatan dilanjutkan dengan edukasi mengenai demensia yang disampaikan oleh Dr. dr. Astuti, Sp.N., Subsp.NGD(K) dan dr. Mariesta, Sp.N. Materi edukasi memberikan pemahaman mengenai demensia, gejala yang perlu dikenali, berbagai faktor risiko, serta langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan otak. Peserta juga diajak memahami bahwa perubahan fungsi kognitif perlu diperhatikan dan tidak semestinya langsung dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan.
Demensia merupakan kondisi penurunan fungsi kognitif yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengingat, berpikir, berkomunikasi, berperilaku, hingga menjalankan aktivitas sehari-hari. Perubahan tersebut umumnya berkembang secara bertahap. Karena itu, pengenalan tanda dan gejala sejak dini menjadi penting agar kondisi yang mendasarinya dapat dievaluasi dan pasien memperoleh penanganan maupun dukungan yang sesuai.
Dalam sesi edukasi, peserta diperkenalkan pada sejumlah jenis demensia, di antaranya penyakit Alzheimer, demensia vaskular, demensia Lewy body, demensia frontotemporal, demensia campuran, serta gangguan kognitif yang berkaitan dengan kondisi medis lainnya. Setiap jenis dapat menunjukkan karakteristik yang berbeda. Gangguan memori dan fungsi berpikir dapat menjadi salah satu gejala, sementara pada kondisi tertentu dapat muncul perubahan perilaku, gangguan bahasa, gejala parkinsonisme, halusinasi, hingga gangguan tidur.
- Mariesta, Sp.N., menekankan bahwa pola gejala dapat berbeda pada setiap individu. Oleh karena itu, diagnosis demensia tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu keluhan, tetapi memerlukan pemeriksaan dan penilaian oleh tenaga kesehatan.
Pembahasan juga mencakup perjalanan gangguan kognitif yang dapat berkembang dari tahap ringan hingga berat. Ketika kondisi semakin berkembang, seseorang dapat membutuhkan bantuan yang lebih besar dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Dalam situasi tersebut, keluarga dan caregiver memiliki peran penting dalam memberikan pendampingan serta membantu menjaga kualitas hidup penyandang demensia.
Selain mengenali gejala, peserta memperoleh informasi mengenai berbagai faktor yang berkaitan dengan peningkatan risiko demensia. Faktor tersebut meliputi usia, riwayat keluarga, stroke dan penyakit kardiovaskular, hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, cedera kepala, gangguan tidur, pola hidup tidak sehat, serta kurangnya aktivitas fisik, mental, dan sosial.
Upaya menjaga kesehatan otak kemudian diperkenalkan melalui berbagai kebiasaan yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didorong untuk tetap aktif secara fisik, mengonsumsi makanan bergizi, membaca dan mempelajari hal baru, mempertahankan interaksi sosial, menjaga berat badan, serta mengendalikan tekanan darah, gula darah, dan kadar kolesterol. Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa pemeliharaan kesehatan kognitif dapat dimulai sejak sebelum memasuki usia lanjut.
Peserta kemudian mengikuti stimulasi kognitif dan senam otak secara berkelompok yang dipandu oleh dr. Amelia Nur Vidyanti, Ph.D., Sp.N., Subsp.NGD(K) dan Dr. dr. Abdul Gofir, M.Sc., Sp.N., Subsp.NIOO(K). Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk terlibat secara aktif melalui aktivitas mental, fisik, interaksi sosial, dan kebersamaan.
Kombinasi antara skrining, edukasi, stimulasi kognitif, dan aktivitas fisik tersebut memperlihatkan bahwa upaya menghadapi demensia membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Deteksi perubahan kognitif perlu berjalan beriringan dengan peningkatan pengetahuan, penerapan gaya hidup sehat, serta dukungan keluarga dan lingkungan sosial. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya memperoleh pemahaman tentang demensia, tetapi juga memiliki ruang untuk mulai menerapkan langkah-langkah sederhana dalam menjaga kesehatan otak.
Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui promosi kesehatan otak dan deteksi dini gangguan kognitif. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan literasi kesehatan bagi lansia dan keluarga. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan melalui perluasan akses terhadap edukasi dan upaya promotif-preventif kesehatan bagi kelompok usia lanjut. (Kontributor: Distya Nugrahening Pradhani).




