FK-KMK UGM Tingkatkan Kapasitas Tenaga Kesehatan untuk Wujudkan Layanan Ramah Pasien Tuli

FK-KMK UGM. Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan menyelenggarakan Pelatihan Komunikasi Inklusif bagi Tenaga Kesehatan di Layanan Kesehatan Primer Kota Yogyakarta untuk memperkuat kemampuan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang ramah dan mudah diakses oleh pasien Tuli. Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian pengabdian kepada masyarakat ini berlangsung pada 10–11 September 2026 di Aula Kresna Husada, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dengan melibatkan dokter dan perawat dari seluruh puskesmas di Kota Yogyakarta.

Pelatihan dilaksanakan dalam dua batch selama dua hari untuk memberikan kesempatan yang lebih optimal kepada peserta dalam memahami materi sekaligus melakukan praktik komunikasi secara langsung bersama komunitas Tuli. Pembagian peserta tersebut juga menjadi bagian dari upaya menciptakan proses pembelajaran yang lebih efektif, terutama dalam sesi praktik komunikasi yang membutuhkan interaksi secara langsung.

Kegiatan diawali dengan sambutan drg. Arumi Wulansari, M.P.H., perwakilan dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta. Ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pelatihan yang dinilai penting untuk mendukung peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang inklusif. Dalam sambutannya, drg. Arumi juga menyampaikan harapan agar tidak ada lagi pasien penyandang disabilitas yang mengalami hambatan ketika mengakses layanan kesehatan di fasilitas kesehatan.

Ketua tim pengabdian kepada masyarakat, dr. Ardhina Ramania, M.P.H., menjelaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan hasil pengembangan program yang telah dilakukan selama kurang lebih satu tahun. Program ini diarahkan untuk menjembatani kesenjangan komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien Tuli yang selama ini dapat menjadi salah satu hambatan dalam memperoleh layanan kesehatan secara optimal.

Materi pelatihan disusun untuk memberikan pemahaman sekaligus pengalaman praktis kepada peserta. Peserta diperkenalkan dengan situasi komunikasi ketika berinteraksi dengan pasien Tuli, identitas dan budaya Tuli, serta penggunaan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Selain itu, peserta mempelajari pemanfaatan berbagai media bantu komunikasi yang telah dikembangkan, antara lain flipchart anamnesis, response card, kartu obat, dan lanyard sebagai tanda pengenal disabilitas dalam pelayanan kesehatan.

Peserta membagikan pengalaman mereka ketika memberikan pelayanan kepada pasien Tuli, termasuk kendala dalam melakukan komunikasi secara langsung, ketergantungan pada pendamping, hingga kemungkinan terjadinya kesalahpahaman dalam penyampaian informasi dan instruksi medis. Dalam diskusi tersebut, seorang dokter turut menyoroti kebutuhan waktu komunikasi yang lebih panjang, penggunaan gestur yang jelas, serta dukungan sistem pelayanan yang lebih ramah disabilitas.

Keterlibatan komunitas Tuli dari DPC GERKATIN Kota Yogyakarta menjadi bagian penting dalam pelaksanaan pelatihan. Komunitas Tuli tidak ditempatkan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi dilibatkan sebagai subjek sekaligus mitra dalam kegiatan. Mereka berkontribusi dalam pengembangan media kit komunikasi inklusif yang digunakan selama pelatihan, menyampaikan materi mengenai budaya Tuli, serta memimpin praktik BISINDO dan role play komunikasi inklusif.

Pelibatan tersebut memungkinkan proses pembelajaran berlangsung secara lebih kontekstual karena tenaga kesehatan dapat berinteraksi langsung dengan komunitas Tuli. Melalui praktik dan simulasi, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai komunikasi inklusif, tetapi juga memiliki kesempatan untuk memahami pengalaman serta kebutuhan komunikasi pasien Tuli dalam situasi pelayanan kesehatan

Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan yang inklusif. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan dengan mengurangi hambatan komunikasi dalam akses layanan kesehatan bagi penyandang disabilitas. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara FK-KMK UGM, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dan DPC GERKATIN Kota Yogyakarta. (Kontributor: Sinta Ristiyanti dan Alvira Rahmasari).