FK-KMK UGM Selenggarakan Guest Lecture Soroti Penanganan Penyakit Tuberkulosis

FK-KMK UGM. Departemen Mikrobiologi FK-KMK UGM berkolaborasi dengan Pusat Studi Kedokteran Tropis FK-K dan Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) cabang Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan Guest Lecture pada Kamis (30/4). Kegiatan ini mengusung tajuk “Tuberculosis: Diagnosis, Challenge, dan Beyond”. Kegiatan ini diselenggarakan secara hybrid bertempat di Auditorium Lantai 8 Gedung Tahir Foundation dan platform Zoom. Serta dihadiri sebanyak 80 peserta, baik secara luring maupun daring.

Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Prof. Dr. dr. Lina Choiridah, Sp.Rad(K) selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengembangan FK-KMK UGM. Prof. Lina menyampaikan bahwa, kegiatan ini merupakan refleksi dan komitmen untuk mengembangkan pengetahuan lebih lanjut dengan mitra internasional. Kegiatan ini menghadirkan akademisi dan praktisi yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kompetensi.

“Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama yang cukup panjang untuk kolaborasi keilmuan dan klinis. Saya harap diskusi ini dapat memberi warna baru pada penanganan penyakit tuberkulosis di Indonesia,” kata Prof. Lina.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi dari Dr. Onno Akkerman, MD, Ph.D, selaku Faculteit Medische Wetenschappen University Medical Center Groningen dan dimoderatori oleh dr. Domas Fitria Widyasari, Sp.MK. Dr. Akkerman menyampaikan bahwa data situasi global terkait penyakit tuberkulosis (TB) pada tahun 2024 menunjukkan masih menjadi masalah kesehatan yang cukup besar di dunia. Total di tahun 2024 tercatat TB Incidence sebayak 10.700.00 kasus (131 per 100.000 penduduk).

“Data ini cukup besar dan menjadi bukti betapa berbahayanya tuberkulosis dalam mengancam kesehatan global,” kata Dr. Akkerman.

Selanjutnya, Dr Akkerman menyampaikan bawah tuberkulosis berjenis Multi-Drug Resistant TB (MDR-TB) menjadi tantangan baru dikarenakan sudah kebal terhadap beberapa obat utama. Total tercatat pada tahun 2024 sebanyak 390.000 kasus (4,8 per 100.000 penduduk). Tingginya angka MDR-TB ini mengindikasikan adanya masalah dalam kepatuhan pengobatan, keterlambatan diagnosis, atau penggunaan antibiotik yang tidak tepat.

“Data 2024, tuberkulosis adalah pembunuh sekitar 1,23 juta orang. Angka kematian yang cukup tinggi ini bukan hanya penyakit menular biasa, tetapi penyakit mematikan yang masih berdampak besar terutama di negara berkembang dengan akses kesehatan terbatas,” kata Dr. Akkerman.

Dr. Akkerman memberikan nasehat bahwa, untuk menekan angka kematian akibat tuberkulosis dibutuhkan adanya diagnosis yang tersistematis. Diagnosis ini menentukan arah pelayanan kesehatan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. Selain itu, Dr. Akkerman menekankan pentingnya juga akses pengobatan dan pengawasan resistensi obat. Hal ini bertujuan untuk memberikan jangkauan akses kesehatan guna menekan adanya penularan lebih lanjut.  Dr. Akkerman juga menegaskan pentingnya juga edukasi masyarakat untuk mendorong kesadaran dalam penanganan penyakit tuberkulosis.

Kegiatan ini turut mendorong SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dengan menekankan pentingnya peningkatan kompetensi antara akademisi dan klinisi untuk mempercepat penanganan pasien tuberkulosis; SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan menegaskan pentingnya edukasi baik di lingkungan kampus maupun secara publik untuk menyadarkan pencegahan mengenai penyakit tuberkulosis; serta SDG 17: Kemitraan Untuk Mencapai Tujuan dengan menekankan pentingnya kerjasama kemitraan di kancah global untuk menekan angka kematian akibat penyakit tuberkulosis (Reporter/Tedy).