FK-KMK UGM. Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM memublikasikan artikiel ilmiah dengan judul “Secondary Narcolepsy and Cognitive Impairment in Craniopharyngioma Survivors: A Case Report” dalam jurnal BMC Neurology tahun 2026, yang diterbitkan pada tahun 2026 (doi: 10.1186/s12883-026-04629-7). Artikel ini ditulis oleh dr. Amelia Nur Vidyanti, Sp.N, Subsp. NGD (K), dr. Atika Rahmadini, Rifki Habibi Rahman, Dr. dr. Astuti Prodjohardjono, Sp.N, Subsp. NGD (K), dr. Desin Pambudi Sejahtera, Sp.N, Subsp. ENK (K), dan Muhammad Hardhantyo. Penelitian ini mengangkat isu penting terkait kualitas hidup penyintas tumor otak kraniofaringioma, khususnya gangguan tidur berat dan penurunan fungsi kognitif yang kerap luput dari perhatian dalam praktik klinis.
Studi yang dilakukan oleh tim peneliti FK-KMK UGM bersama RSUP Dr. Sardjito ini berfokus pada laporan kasus seorang pasien perempuan berusia 19 tahun yang mengalami narkolepsi sekunder dan gangguan kognitif pasca terapi tumor kraniofaringioma. Kasus ini menjadi perhatian karena menunjukkan dampak jangka panjang yang signifikan terhadap kualitas hidup pasien, di mana individu tersebut mengalami durasi tidur ekstrem hingga 22–23 jam per hari serta kesulitan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Kraniofaringioma sendiri merupakan tumor jinak yang berkembang di area hipotalamus, pusat pengatur fungsi hormonal dan siklus tidur. Kerusakan pada area ini dapat menyebabkan gangguan tidur berat seperti hipersomnia dan narkolepsi sekunder. Penelitian ini menyoroti bahwa kondisi tersebut sering tidak terdiagnosis secara optimal karena perhatian klinis lebih banyak terfokus pada gangguan hormonal dan metabolik, sementara aspek neurologis dan tidur kurang mendapat perhatian.
Dalam proses diagnosis, tim peneliti menggunakan pemeriksaan polisomnografi dan multiple sleep latency test untuk memastikan kondisi pasien. Intervensi terapi yang diberikan berupa kombinasi methylphenidate untuk meningkatkan kewaspadaan serta donepezil untuk mendukung fungsi kognitif. Hasilnya menunjukkan perbaikan yang signifikan, di mana durasi tidur pasien berkurang menjadi sekitar 9 jam per hari setelah satu tahun pemantauan, disertai peningkatan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari. Penelitian ini menunjukkan bahwa gangguan tidur dan penurunan kognitif merupakan komplikasi serius yang perlu mendapat perhatian dalam penanganan penyintas kraniofaringioma. Pendekatan komprehensif berbasis multidisiplin terbukti mampu meningkatkan luaran klinis serta kualitas hidup pasien secara signifikan.
Penelitian ini selaras dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya peningkatan akses terhadap layanan kesehatan yang komprehensif dan berkualitas bagi pasien dengan gangguan neurologis. Selain itu, temuan ini juga mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas karena gangguan kognitif yang dialami penyintas berdampak pada keberlanjutan pendidikan mereka, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan. (Kontributor: Zulfa Faiqoh).




