FK-KMK UGM. Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan (Center of Health and Behavior Promotion/CHBP) FK-KMK UGM menyelenggarakan koordinasi program pengabdian masyarakat mengenai pengembangan Puskesmas Inklusif HIV bersama Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Puskesmas Tegalrejo, dan Puskesmas Umbulharjo 1. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 9 Juni 2026, di Kantor Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta ini bertujuan menyamakan persepsi dan menyusun langkah implementasi pembelajaran reflektif bagi tenaga kesehatan serta staf puskesmas sebagai upaya memperkuat pelayanan kesehatan yang inklusif, aman, dan bebas stigma.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh tim pengabdian CHBP FK-KMK UGM yang dipimpin oleh Prof. Dr. dr. Mubasysyir Hasanbasri, M.A. selaku ketua tim. Ia didampingi oleh asisten peneliti Tutik Istiyani, S.Sos., Purnama Dewi Siregar, serta perwakilan mahasiswa, yaitu Febriani Putri dan Catherine Rahel Anggrainy. Dari pihak mitra hadir perwakilan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta bersama jajaran Puskesmas Tegalrejo dan Puskesmas Umbulharjo 1.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Tutik Istiyani yang menyampaikan apresiasi kepada Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta atas dukungan yang diberikan dalam mempersiapkan pelaksanaan program. Selanjutnya, Prof. Mubasysyir Hasanbasri memaparkan arah utama pengabdian masyarakat yang berfokus pada pengembangan pembelajaran reflektif. Pendekatan tersebut dirancang agar bersifat praktis, kontekstual, dan sesuai dengan dinamika pelayanan sehari-hari di puskesmas sehingga mudah diterapkan oleh seluruh peserta.
Dalam pemaparannya, tim CHBP FK-KMK UGM menjelaskan bahwa pengembangan Puskesmas Inklusif HIV tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada orang dengan HIV, tetapi juga kepada pasien tuberkulosis (TB) maupun kelompok lain yang berpotensi mengalami stigma dalam pelayanan kesehatan. Melalui pendekatan reflektif, tenaga kesehatan dan staf puskesmas diajak mengenali berbagai bentuk perilaku, komunikasi, maupun prosedur pelayanan yang tanpa disadari dapat memunculkan stigma terhadap pasien.
Pembelajaran ini juga menekankan pentingnya menjaga kerahasiaan status kesehatan pasien sebagai bagian dari etika profesi sekaligus menciptakan lingkungan pelayanan yang aman, nyaman, dan menghargai martabat setiap individu. Dengan demikian, setiap pasien diharapkan memperoleh akses pelayanan kesehatan yang setara tanpa rasa takut terhadap diskriminasi ataupun perlakuan yang tidak adil.
Program pengabdian ini direncanakan berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026 melalui beberapa sesi pembelajaran berbasis skenario kasus. Setiap sesi akan memadukan refleksi individu dan diskusi kelompok yang dilaksanakan secara luring maupun daring. Skema tersebut dipilih agar proses pembelajaran tetap fleksibel tanpa mengganggu keberlangsungan pelayanan kesehatan di masing-masing puskesmas.
Melalui pendekatan berbasis kasus, peserta diharapkan mampu mengidentifikasi permasalahan nyata yang sering muncul dalam pelayanan, kemudian bersama-sama merumuskan solusi yang dapat diterapkan dalam praktik sehari-hari. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas tenaga kesehatan sekaligus membangun budaya pelayanan yang lebih humanis dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Kegiatan ini turut mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan layanan kesehatan yang aman, inklusif, dan bebas stigma bagi seluruh masyarakat. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan dengan mendorong terciptanya akses pelayanan kesehatan yang setara bagi kelompok yang rentan mengalami diskriminasi. Kolaborasi antara FK-KMK UGM, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, serta puskesmas mitra juga mencerminkan implementasi SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Kontributor: Purnama Dewi Siregar).




