FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Jagadhita: Edukasi dan Deteksi Dini Alergi Okupasional pada Masyarakat Industri Kerajinan Perak Kotagede Berbasis Integrasi Kedokteran Multidisiplin” untuk meningkatkan kesadaran dan perlindungan kesehatan kerja para pengrajin perak di Kotagede, Yogyakarta. Kegiatan yang berfokus pada edukasi, deteksi dini, pemeriksaan kesehatan, dan pencegahan risiko penyakit akibat kerja ini dilaksanakan pada Rabu, 29 Juli 2026, di Balai RW 04, Purbayan, Kotagede, Yogyakarta.
Program Jagadhita merupakan bagian dari implementasi pengabdian masyarakat FK-KMK UGM yang mengedepankan pendekatan multidisiplin dalam menjawab persoalan kesehatan di sektor industri informal. Para pengrajin perak menjadi sasaran kegiatan karena aktivitas produksi yang dilakukan secara berulang dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan, sementara sebagian besar proses pembelajaran keterampilan diperoleh secara turun-temurun atau secara mandiri.
Melalui Program Jagadhita, tim FK-KMK UGM mengintegrasikan edukasi kesehatan kerja dengan kegiatan skrining, pemeriksaan fisik, pemeriksaan neurologis, konsultasi, serta pemberian pengetahuan mengenai langkah pencegahan yang dapat dilakukan secara mandiri. Pendekatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai risiko kesehatan akibat pekerjaan, tetapi juga mendorong pengrajin untuk lebih mengenali keluhan sejak dini dan mengambil langkah yang tepat sebelum kondisi berkembang menjadi lebih berat.
Salah satu materi dalam kegiatan disampaikan oleh Dr. dr. Cempaka Thursina, Sp.N., Subsp.Ped(K) dari Departemen Neurologi FK-KMK UGM mengenai “Gangguan Otot dan Saraf Akibat Kerja pada Pengrajin Perak”. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan sejumlah keluhan neuromuskuloskeletal yang dapat muncul pada pekerja industri kerajinan akibat gerakan berulang, posisi tubuh yang kurang ergonomis, maupun beban kerja tertentu. Beberapa keluhan yang dibahas antara lain low back pain atau nyeri punggung bawah, neck pain atau nyeri leher, hingga carpal tunnel syndrome (CTS).
Pemberian edukasi tersebut menjadi penting karena keluhan otot dan saraf yang awalnya dianggap sebagai bagian biasa dari aktivitas pekerjaan dapat berkembang dan mengganggu produktivitas apabila tidak ditangani dengan tepat. Para pengrajin diberikan pemahaman mengenai pentingnya memperhatikan posisi tubuh saat bekerja, mengenali tanda dan gejala gangguan muskuloskeletal, serta menerapkan aktivitas fisik sederhana sebagai bagian dari upaya menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh.
Setelah sesi edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan neurologis yang didampingi oleh Residen Neurologi FK-KMK UGM. Para pengrajin juga memperoleh konsultasi berdasarkan hasil pemeriksaan serta panduan latihan sederhana yang dapat dilakukan di tempat kerja. Rangkaian pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari upaya deteksi dini sehingga masyarakat dapat mengenali kondisi kesehatan yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui edukasi, deteksi dini, dan pencegahan gangguan kesehatan akibat kerja. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan melalui perluasan akses pengetahuan dan pendampingan kesehatan bagi pekerja sektor informal. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan diwujudkan melalui kolaborasi FK-KMK UGM, kader kesehatan, dan masyarakat dalam membangun perlindungan kesehatan kerja yang berkelanjutan. (Kontributor: Bardatin Lutfi Aifa).




