FK-KMK UGM. Program Studi Magister Ilmu Biomedik, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan episode terbaru Podcast Retina Biomedika bertema “Behind The Scenes Double Degree UGM X Kobe” pada Senin, 4 Mei 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring dari Ruang Podcast Skills Lab Magister Ilmu Biomedik ini menghadirkan alumni program double degree UGM dan Kobe University, dr. Satrio Adi Wicaksono, M.Biomed, sebagai narasumber utama. Podcast tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman terkait proses pendidikan internasional, mulai dari tahapan pendaftaran, kehidupan akademik di Jepang, hingga tantangan adaptasi budaya dan riset di laboratorium luar negeri.
Dalam diskusi tersebut, dr. Satrio membagikan pengalamannya selama menjalani pendidikan dan penelitian di Jepang. Ia menjelaskan bahwa ritme kerja di laboratorium Jepang memiliki disiplin waktu yang sangat tinggi. Aktivitas penelitian biasanya dimulai sejak pagi dan dapat berlangsung hingga malam hari. Kondisi tersebut menuntut mahasiswa untuk memiliki kemandirian, kemampuan beradaptasi, serta manajemen waktu yang baik dalam menjalani kehidupan akademik internasional.
Selain membahas budaya akademik, podcast ini juga mengulas tantangan kehidupan sehari-hari di Jepang, termasuk biaya hidup yang relatif tinggi. dr. Satrio menjelaskan bahwa mahasiswa perlu mengelola pengeluaran dengan bijak, salah satunya melalui kebiasaan memasak sendiri dan memanfaatkan fasilitas tempat tinggal yang disediakan kampus. Menurutnya, strategi sederhana tersebut dapat membantu mahasiswa internasional menjalani kehidupan yang lebih efisien selama studi di luar negeri.
Diskusi juga menyoroti perbedaan sistem pendidikan antara Indonesia dan Jepang. Di Jepang, mahasiswa dapat menyelesaikan studi dengan fokus pada publikasi ilmiah tertentu, sementara di UGM terdapat sejumlah persyaratan tambahan seperti presentasi akademik dan target publikasi. Oleh karena itu, kemampuan bahasa Inggris, kesiapan mental, dan konsistensi dalam penelitian menjadi faktor penting yang harus dipersiapkan sejak awal.
Narasumber juga menekankan pentingnya jejaring internasional dalam pengembangan riset. Menurut dr. Satrio, koneksi dengan peneliti maupun profesor dari luar negeri membuka peluang kolaborasi yang sangat luas, terutama pada bidang-bidang yang masih berkembang di Indonesia. Ia mencontohkan pengalaman kolaborasi dengan peneliti dermatologi di Jepang dalam pengembangan riset kulit serta kerja sama dengan pakar bidang kardiologi.
Pembahasan mengenai peluang pendanaan turut menjadi perhatian peserta podcast. Beberapa skema beasiswa yang dapat dimanfaatkan mahasiswa antara lain LPDP, Beasiswa Unggulan Kemendikbud, dan Beasiswa Pendidikan Indonesia. Selain itu, tersedia pula sejumlah dukungan pendanaan dari institusi pendidikan maupun pihak ketiga di Jepang untuk mahasiswa internasional.
Kegiatan ini juga mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penguatan akses terhadap pendidikan tinggi dan pengalaman akademik internasional. Selain itu, kegiatan ini sejalan dengan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui pengembangan kolaborasi akademik internasional antara UGM dan institusi pendidikan luar negeri. Penguatan kapasitas riset dan pengembangan sumber daya manusia kesehatan juga mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan kompetensi tenaga kesehatan berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi global. (Kontributor: Intan Salsabila).




