FK-KMK UGM Kembangkan Social Prescribing untuk Mendukung Pendampingan Pasien TBC di Sriharjo

FK-KMK UGM. Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) menyelenggarakan observasi dan need assessment sebagai bagian dari persiapan program pengabdian kepada masyarakat bertajuk Social Prescribing Berbasis Komunitas di Desa Sriharjo, Kabupaten Bantul, untuk memahami kondisi serta kebutuhan pasien tuberkulosis (TBC) secara lebih menyeluruh. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu, 29 Juli 2026, di GOR Desa Sriharjo dengan melibatkan tim CBMH UGM dan berkoordinasi bersama UPTD Puskesmas Imogiri II.

Kegiatan ini menjadi tahap awal dalam merancang pendekatan social prescribing atau resep sosial yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Tim CBMH UGM yang terdiri atas Prof. Mub, Bu Siwi, Ika, dan Rara melakukan observasi sekaligus berdiskusi dengan pihak Puskesmas Imogiri II, termasuk Programmer TBC dan Programmer Pengendalian Penyakit Menular.

Dalam kegiatan tersebut, tim turut mengamati pelaksanaan Active Case Finding (ACF) yang diselenggarakan oleh UPTD Puskesmas Imogiri II. ACF merupakan upaya penemuan kasus secara aktif melalui proses screening kesehatan. Pemeriksaan yang dilakukan mencakup tekanan darah, gula darah, rontgen, serta tes Mantoux. Observasi ini memberikan gambaran mengenai proses penemuan kasus sekaligus kondisi yang dihadapi dalam pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat.

Selain mengamati pelaksanaan ACF, tim CBMH UGM melakukan need assessment untuk memperoleh pemahaman awal mengenai kondisi dan kebutuhan masyarakat, terutama pasien TBC. Dalam kegiatan tersebut, tim menemukan satu keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan TBC. Tim kemudian melakukan wawancara singkat untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi pasien dan keluarganya.

Need assessment tidak hanya diarahkan pada kondisi kesehatan pasien. Informasi yang dikumpulkan juga mencakup data demografi, kondisi lingkungan, serta kemungkinan adanya stigma yang dihadapi pasien TBC. Berbagai aspek tersebut penting untuk dipahami karena kondisi sosial dan lingkungan dapat turut memengaruhi pengalaman pasien selama menjalani pengobatan maupun proses pemulihan.

Hasil observasi dan need assessment selanjutnya menjadi bahan awal dalam pengembangan program social prescribing berbasis komunitas. Selama ini, layanan kesehatan dan pengobatan bagi pasien TBC telah berjalan. Namun, pendampingan pasien juga perlu mempertimbangkan faktor di luar aspek medis, seperti kondisi sosial, lingkungan tempat tinggal, hubungan dengan keluarga dan komunitas, serta kebutuhan personal pasien.

Pendekatan social prescribing berupaya melihat kesehatan pasien secara lebih utuh. Penanganan TBC tidak hanya ditempatkan dalam kerangka pemeriksaan dan pengobatan, tetapi juga memperhatikan dukungan sosial yang dapat membantu pasien menjalani proses perawatan. Melalui keterlibatan fasilitas pelayanan kesehatan, keluarga, dan komunitas, dukungan kepada pasien diharapkan dapat diberikan secara lebih sesuai dengan kondisi yang mereka hadapi.

Kegiatan ini mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan upaya penanganan TBC serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, fasilitas kesehatan, pasien, keluarga, dan masyarakat. (Kontributor: Rafi).