FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Gunungkidul, dan RS Panti Rahayu Gunungkidul menyelenggarakan Kick-Off Meeting Program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Penguatan dan Perluasan Program Gizi Berbasis Pangan Lokal: Pendekatan Peer Trainer dan Kader untuk Ibu Hamil dan Menyusui” sebagai upaya memperkuat pencegahan stunting berbasis masyarakat. Kegiatan yang berlangsung di Balai Kapanewon Paliyan, Gunungkidul, pada 7 Mei 2026 ini menjadi awal pelaksanaan tahun kedua program yang berfokus pada pemanfaatan pangan lokal untuk meningkatkan status gizi ibu hamil, ibu menyusui, serta balita.
Ketua Program Pengabdian FK-KMK UGM, Digna Niken Purwaningrum, S.Gz., M.P.H., Ph.D., menjelaskan bahwa masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan tumbuh kembang anak sehingga perhatian terhadap kesehatan ibu menjadi investasi penting bagi kualitas generasi mendatang. Dalam pelaksanaannya, tim memanfaatkan dua komoditas pangan yang mudah dijumpai di wilayah Paliyan, yakni tempe dan pisang Utri. Tempe dipilih karena mengandung protein nabati berkualitas tinggi serta kaya akan zat besi, kalsium, seng, folat, vitamin B kompleks, dan senyawa bioaktif hasil fermentasi yang berperan sebagai antioksidan sekaligus mendukung pertumbuhan. Sementara itu, pisang Utri menjadi sumber energi, serat pangan, kalium, vitamin B6, vitamin C, serta senyawa fenolik yang turut memberikan manfaat bagi kesehatan ibu dan anak.
Melalui serangkaian penelitian dan analisis kandungan gizi yang dilakukan oleh Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN, kedua bahan tersebut kemudian diformulasikan menjadi produk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang disesuaikan dengan kebutuhan gizi ibu hamil yang berisiko mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) maupun anemia. Menurut Digna, kombinasi zat gizi makro, mikronutrien, dan senyawa bioaktif dari kedua bahan pangan tersebut mampu mendukung pemenuhan kebutuhan gizi ibu hamil, ibu menyusui, serta anak melalui penerapan pola makan bergizi seimbang.
Memasuki tahun kedua pelaksanaan pada 2026, cakupan program diperluas dengan melibatkan lima kalurahan baru, yaitu Giring, Grogol, Mulusan, Pampang, dan Sodo. Selain tetap memberikan perhatian kepada ibu hamil, program kini juga menyasar ibu menyusui melalui edukasi mengenai pemenuhan gizi pasca persalinan, pentingnya pemberian ASI eksklusif, serta praktik pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) yang tepat. Perluasan sasaran tersebut dilakukan untuk memastikan intervensi gizi berlangsung secara berkesinambungan sejak masa kehamilan hingga periode awal kehidupan anak.
Digna mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025 tim berhasil mengembangkan produk PMT berbasis tempe dan pisang, melatih kader kesehatan, serta mendistribusikan PMT sebanyak 24 kali kepada 51 ibu hamil di tujuh desa wilayah kerja Puskesmas Paliyan. Hasil tersebut menjadi dasar bagi pengembangan program pada tahun berikutnya dengan cakupan yang lebih luas.
Salah satu inovasi yang diterapkan pada tahun kedua adalah pendekatan peer trainer, yaitu model pembelajaran berbasis komunitas yang melibatkan kader serta ibu binaan tahun pertama sebagai pelatih bagi kader baru di wilayah perluasan. Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena proses berbagi pengetahuan dilakukan oleh sesama anggota masyarakat yang memahami kondisi sosial, budaya, serta tantangan yang dihadapi di lingkungan mereka sendiri.
Lebih lanjut, Digna menegaskan bahwa keberhasilan sebuah program pengabdian tidak hanya ditentukan oleh inovasi yang dikembangkan, tetapi juga oleh kolaborasi yang kuat dengan berbagai pemangku kepentingan. Oleh karena itu, FK-KMK UGM bersama BRIN, IDI Gunungkidul, RS Panti Rahayu Gunungkidul, pemerintah daerah, serta kader kesehatan akan terus memperkuat sinergi dalam meningkatkan status gizi ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan kelompok rentan lainnya melalui pendekatan berbasis masyarakat.
Ia berharap pemanfaatan pangan lokal seperti tempe dan pisang dapat menjadi contoh bahwa bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar memiliki potensi besar untuk mendukung upaya pencegahan stunting. Dengan pengolahan yang tepat, pangan lokal tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil dan menyusui, tetapi juga berpotensi menjadi menu PMT yang mudah direplikasi di berbagai daerah serta membuka peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan produk pangan lokal bernilai tambah.
Kegiatan ini mendukung SDG 2 Tanpa Kelaparan melalui peningkatan pemenuhan gizi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita berbasis pangan lokal. SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera diwujudkan melalui upaya promotif dan preventif untuk mencegah stunting sejak masa kehamilan. SDG 4 Pendidikan Berkualitas didukung melalui edukasi gizi serta peningkatan kapasitas kader kesehatan dan masyarakat. SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi didorong melalui peluang pengembangan produk pangan lokal yang bernilai ekonomi. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan diwujudkan melalui kolaborasi FK-KMK UGM, BRIN, IDI Gunungkidul, RS Panti Rahayu Gunungkidul, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam memperkuat program pencegahan stunting secara berkelanjutan. (Kontributor: M. Ilham Gibran).




