FK-KMK UGM dan PABI Bahas Pertimbangan Etik dalam Praktik Bedah

FK-KMK UGM. Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) menyelenggarakan Pelatihan Bioetika PABI bertajuk “Scalpel & Conscience: Ketika Pisau Bedah Bertemu Nurani” sebagai ruang pembelajaran dan refleksi mengenai berbagai persoalan bioetika yang dihadapi dalam praktik bedah. Pertemuan perdana pelatihan dilaksanakan pada Kamis, 3 September 2026 dan menjadi awal dari rangkaian enam seri pertemuan yang mempertemukan konsep bioetika dengan situasi klinis sehari-hari.

Praktik kedokteran, khususnya bidang bedah, tidak hanya menuntut ketepatan tindakan dan keterampilan teknis. Setiap keputusan klinis juga dapat melibatkan pertimbangan mengenai hak pasien, pilihan terapi, nilai yang dianut, hingga tanggung jawab profesional dokter. Dalam kondisi tertentu, pilihan yang dinilai paling tepat secara klinis dapat menghadirkan persoalan lain ketika dipandang dari sisi etik.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya menghadirkan ruang pembelajaran bioetika bagi tenaga kesehatan. Melalui Pelatihan Bioetika PABI, peserta diajak untuk melihat kembali berbagai keputusan dalam praktik bedah dengan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada hasil tindakan, tetapi juga mempertimbangkan nilai kemanusiaan dan kepentingan terbaik bagi pasien.

Pertemuan perdana dipandu oleh dr. Carolina Kuntardjo, Sp.B., FINACS., S.H., M.H. Kegiatan diawali dengan sambutan dari Ketua PP PABI, dr. Heri Setyanto, Sp.B., FINACS., Ketua Dewan Etik PABI, dr. Zul Asdi, Sp.B., M.Kes., serta Direktur Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) UGM, Dr. Dra. Retna Siwi Padmawati, M.A.

Setelah pengantar mengenai pelaksanaan pelatihan, peserta memasuki sesi utama yang membahas prinsip-prinsip dasar bioetika. Dr. CB. Kusmaryanto, SCJ. menyampaikan materi mengenai empat prinsip etika biomedis dalam praktik bedah sehari-hari. Materi tersebut mengajak peserta memahami kembali bagaimana prinsip-prinsip bioetika dapat digunakan sebagai landasan ketika tenaga kesehatan menghadapi keputusan klinis yang memiliki dimensi etik.

Pembahasan kemudian dilanjutkan oleh dr. Nur Azid Mahardinata, M.Bio.Et. yang memperkenalkan kerangka analisis etik cepat 4-Box Model untuk Bedah. Kerangka ini membantu peserta melihat persoalan klinis melalui beberapa aspek yang perlu diperhatikan secara bersama sebelum suatu keputusan diambil. Dengan pendekatan tersebut, persoalan tidak hanya dilihat dari satu sisi, tetapi dianalisis secara lebih menyeluruh.

Sesi diskusi dipandu oleh Ns. Wahyu Dewi Sulistarini, M.S.N. Peserta turut menyampaikan pertanyaan, perspektif, dan refleksi berdasarkan persoalan yang dekat dengan praktik profesional. Diskusi yang berlangsung menunjukkan bahwa persoalan etik dapat muncul dalam berbagai situasi dan membutuhkan kemampuan untuk mengenali serta menganalisisnya secara sistematis.

Pertemuan perdana ini menjadi langkah awal dari enam seri Pelatihan Bioetika PABI. Pada pertemuan berikutnya, peserta akan kembali diajak mendiskusikan berbagai topik, kasus, dan persoalan etik yang berkaitan dengan praktik bedah. Rangkaian tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman bahwa bioetika bukan merupakan pengetahuan yang berdiri terpisah dari praktik klinis, melainkan bagian yang hadir dalam berbagai keputusan sehari-hari.

Melalui pembelajaran yang berkelanjutan, bioetika dapat menjadi bagian dari cara tenaga kesehatan merefleksikan tindakan profesionalnya. Kemampuan untuk mengenali persoalan etik dan mempertimbangkan berbagai aspek yang relevan menjadi penting agar keputusan klinis tidak hanya tepat secara medis, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan secara etis.

Kegiatan ini mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada pasien; SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran profesional berkelanjutan; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi dalam penguatan bioetika di Indonesia. (Kontributor: Rafi).