FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul menyelenggarakan mini seminar bertajuk “Penguatan Kapasitas Layanan Primer untuk Kesehatan Mental Perinatal” di Hall Husada Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Jumat, 7 Agustus 2026. Kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan di puskesmas dan fasilitas kesehatan tingkat pertama dalam mengenali, melakukan deteksi dini, serta memberikan penanganan awal terhadap masalah kesehatan mental pada perempuan sejak masa kehamilan hingga setelah melahirkan.
Mini seminar tersebut merupakan bagian dari program hibah Pengabdian kepada Masyarakat FK-KMK UGM 2026 bertema Perinatal Mental Health Awareness. Program yang dilaksanakan bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul ini diketuai oleh dr. Pramudita Putri Dyatmika Mandegani, MPH, SpOG. Kegiatan menjadi salah satu upaya memperkuat layanan kesehatan primer agar aspek kesehatan mental dapat terintegrasi dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Sejumlah narasumber hadir dalam kegiatan tersebut, yaitu dr. Siti Marlina, M.Sc., Sp.KKLP., dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, serta tim FK-KMK UGM yang terdiri atas dr. Pramudita Putri Dyatmika Mandegani, MPH, SpOG., dr. Winengku Basuki Adi, M.Med.Sc., SpKJ., dan dr. Fitria Murriya Ekawati, MPHC., SpKKLP., PhD. Para peserta mendapatkan pemahaman mengenai konsep kesehatan mental perinatal serta strategi deteksi dan intervensi awal yang dapat diterapkan pada layanan primer.
Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa kesehatan mental perinatal mencakup kondisi kesejahteraan emosional perempuan sejak masa kehamilan hingga satu tahun setelah melahirkan. Periode tersebut merupakan fase yang rentan karena perempuan menghadapi perubahan hormonal, fisik, psikologis, serta sosial yang dapat memengaruhi kondisi kesehatannya.
Masalah kesehatan mental yang tidak dikenali dan ditangani secara tepat dapat memberikan dampak lebih luas. Kondisi psikologis ibu dapat memengaruhi kemampuan pengasuhan, hubungan dalam keluarga, serta proses tumbuh kembang bayi. Oleh karena itu, tenaga kesehatan perlu memiliki kemampuan untuk mengenali berbagai tanda gangguan mental yang terkadang muncul secara tersamar.
Beberapa gejala yang perlu menjadi perhatian antara lain kecemasan berlebihan, perubahan pola tidur dan makan, perasaan sedih yang menetap, serta berkurangnya minat terhadap bayi. Apabila gejala tersebut berlangsung selama lebih dari dua minggu, diperlukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Kondisi yang menetap dapat mengarah pada depresi pascapersalinan maupun gangguan mental yang lebih serius.
Penguatan layanan primer juga dilakukan melalui pemahaman mengenai skrining kesehatan mental. Salah satu instrumen yang dapat digunakan adalah Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). Skrining dapat diintegrasikan dalam pelayanan antenatal care (ANC) selama kehamilan maupun postnatal care (PNC) setelah persalinan. Dengan deteksi yang dilakukan secara sistematis, tenaga kesehatan diharapkan dapat mengidentifikasi ibu yang membutuhkan dukungan lebih lanjut.
Selain skrining, dukungan pasangan dan keluarga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental perempuan selama periode perinatal. Edukasi mengenai pengelolaan stres dan upaya mengurangi stigma terhadap gangguan kesehatan jiwa juga diperlukan agar perempuan merasa aman untuk menyampaikan kondisi psikologis yang dialaminya. Lingkungan sosial yang suportif dapat membantu mempercepat akses terhadap pertolongan.
Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan akses dan kualitas layanan kesehatan mental perinatal. SDG 5 Kesetaraan Gender diwujudkan melalui penguatan pemenuhan hak perempuan untuk memperoleh layanan kesehatan yang berkualitas dan berkeadilan. (Kontributor: Munjayati).




