FK-KMK UGM. Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan melaksanakan kegiatan Follow-up Kedua Pendukung Sebaya ASSIST sebagai bagian dari rangkaian pengabdian kepada masyarakat yang diketuai oleh dr. Bagas Suryo Bintoro, Ph.D. Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 14 September 2026, di Gedung T. Jacob FK-KMK UGM ini melibatkan 49 pendukung sebaya dari kelas VIII dan IX SMP Stella Duce 1 Yogyakarta serta difasilitasi oleh empat alumni pendukung sebaya. Kegiatan tersebut menjadi ruang monitoring dan evaluasi sekaligus penguatan kapasitas siswa dalam menjalankan perannya sebagai pendukung sebaya dalam upaya pencegahan perilaku merokok.
Follow-up Kedua dirancang dengan pendekatan reflektif dan partisipatif. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga diajak melihat kembali pengalaman yang telah mereka lalui selama menjalankan peran sebagai pendukung sebaya. Melalui proses refleksi, siswa berbagi cerita mengenai interaksi dengan teman-teman di lingkungan sekolah, termasuk pengalaman ketika menyampaikan informasi mengenai rokok dan dampaknya.
Peserta dapat mengidentifikasi berbagai situasi yang mereka hadapi ketika berkomunikasi dengan teman sebaya, baik ketika pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik maupun saat menghadapi respons yang tidak sesuai harapan. Proses ini membantu siswa memahami bahwa peran pendukung sebaya membutuhkan kemampuan berkomunikasi, mendengarkan, dan menyesuaikan pendekatan dengan kondisi orang yang diajak berbicara.
Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan diskusi mengenai tricky situations atau situasi berisiko yang dapat muncul ketika memberikan informasi tentang bahaya rokok kepada teman sebaya. Dalam sesi ini, peserta diajak mengenali situasi yang berpotensi menjadi tantangan serta mendiskusikan cara meresponsnya. Pendekatan komunikasi yang efektif dan empatik menjadi bagian penting agar informasi kesehatan dapat disampaikan tanpa membuat teman sebaya merasa dihakimi.
Diskusi tersebut sekaligus memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dari pengalaman satu sama lain. Setiap peserta memiliki pengalaman dan cara berinteraksi yang berbeda. Dengan berbagi cerita, mereka dapat melihat berbagai kemungkinan respons dan mempertimbangkan pendekatan yang lebih tepat ketika menghadapi situasi serupa di lingkungan sekolah.
Selain mengevaluasi pengalaman, peserta juga mengikuti sesi identifikasi karakter diri sebagai pendukung sebaya. Kegiatan ini diarahkan untuk membantu siswa mengenali kekuatan, potensi, serta karakter yang dapat mendukung mereka dalam menjalankan peran. Pemahaman terhadap diri sendiri menjadi bagian penting karena kemampuan menjadi pendukung sebaya tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan tentang kesehatan, tetapi juga bagaimana seseorang membangun hubungan dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya.
Keterlibatan empat alumni pendukung sebaya turut memberikan warna tersendiri dalam kegiatan. Alumni dapat menjadi bagian dari proses berbagi pengalaman dengan peserta yang saat ini menjalankan peran serupa. Interaksi tersebut memberikan gambaran bahwa pengalaman sebagai pendukung sebaya dapat menjadi proses belajar yang berkelanjutan dan berkembang seiring dengan pengalaman yang diperoleh.
Untuk melengkapi proses pembelajaran, kegiatan juga diisi dengan tur edukatif ke Museum Bio-paleoantropologi dan Museum Anatomi FK-KMK UGM. Kunjungan tersebut memberikan pengalaman belajar di luar sesi utama sekaligus memperkenalkan peserta pada lingkungan akademik dan sumber pembelajaran yang tersedia di FK-KMK UGM.
Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan peran remaja dalam pencegahan perilaku merokok dan promosi kesehatan. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran reflektif dan partisipatif. SDG 5 Kesetaraan Gender melalui keterlibatan peserta secara setara serta SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi FK-KMK UGM dan SMP Stella Duce 1 Yogyakarta. (Kontributor: Sinta Ristiyanti).



