Di Indonesia, kanker payudara masih menjadi masalah kesehatan yang sangat serius. Berdasarkan data Globocan 2022, kanker payudara menduduki peringkat pertama di Indonesia dan peringkat ketiga penyebab kematian akibat kanker. Berbagai faktor memengaruhi tingginya angka kematian akibat kanker payudara di Indonesia, seperti kealpaan dalam deteksi dini hingga akses terhadap layanan pengobatan yang belum memadai dan merata.

Dalam meningkatkan pengelolaan dan pengendalian kanker payudara melalui sistem kesehatan yang lebih responsif dan berkelanjutan di Indonesia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) bekerja sama dengan City Cancer Challenge (C/Can) untuk mendukung program pengendalian kanker payudara berbasis kota di Indonesia. Yogyakarta dipilih sebagai kota percontohan untuk memperkuat sistem perawatan kanker payudara tingkat kota yang sejalan dengan prioritas nasional. Program ini kemudian dinamakan Yogyakarta’s Breast Cancer Initiative (YBCI) dalam peluncuran resminya pada 27 Februari 2026, sebagai yang pertama di Indonesia.

Program ini berlandaskan pada Rencana Kanker Nasional 2024-2034 dan kerangka Global Breast Cancer Initiative (GBCI) oleh World Health Organization (WHO). Selain itu, inisiatif ini juga mendukung implementasi Rencana Aksi Nasional Kanker Payudara (RAN KP) atau Breast Cancer National Action Plan (BCNAP) yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Di level pemerintah pusat, inisiatif ini juga mendapatkan dukungan dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) Kementerian Kesehatan RI yang dipimpin oleh dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid.

YBCI juga didasarkan pada C/Can City Engagement Process Framework (CEPF), yang dikembangkan untuk memanfaatkan kekuatan kolaborasi multisektoral. Lembaga dan institusi di seluruh rangkaian perawatan kanker payudara akan dipetakan dan dilibatkan dalam program ini. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) dinominasikan sebagai mitra pelaksana program di Yogyakarta oleh Kemenkes RI. FK-KMK UGM dan Kemenkes RI memulai dan memfasilitasi kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan di tingkat regional, termasuk pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, organisasi profesi, organisasi pembiayaan kesehatan, masyarakat, dan perwakilan pasien.

Program ini, yang didukung oleh C/Can Model: City Engagement Process Framework, mengambil pengalaman dan pembelajaran dari kota-kota inti dalam memperkuat perawatan kanker di tingkat sistem kesehatan, dimulai dengan pembentukan struktur tata kelola multi-pemangku kepentingan melalui City Executive Committee (CEC) dan Breast Cancer Working Group (BCWG). CEC berfungsi sebagai forum koordinasi lintas institusional strategis untuk memandu implementasi program di tingkat kota, sementara BCWG terdiri atas kelompok kerja tematik yang mendukung perencanaan teknis dan penguatan layanan di seluruh rangkaian perawatan kanker payudara. CEC Yogyakarta dipimpin oleh dr. Gregorius Anung Trihadi, M.P.H., selaku Kepala Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Ketua CEC dan Dr. dr. Kartika Widayati, Sp.PD, Subsp.H.Onk.M(K), FINASIM sebagai Wakil Ketua.

Pelaksanaan inisiatif ini didukung oleh tim yang dipimpin oleh Dekan FK-KMK UGM Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH., Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengembangan Prof. Dr. dr. Lina Choridah, Sp.Rad(K), serta tim pelaksana yang terdiri atas Dr.rer.nat. dr. Dyah Laksmi Dewi M.Sc. Sp.B., Dr. Supriyati, S.Sos., M.Kes., dr. Vincent, Ph.D., dan Ellif Vicha Arynta, S.Keb., Bd. selaku City Programme Manager YBCI. 

Pada 27 Februari 2026, FK-KMK UGM bersama C/Can resmi meluncurkan Yogyakarta’s Breast Cancer Initiative (YBCI) di Auditorium FK-KMK UGM, yang ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama antara Kepala Dinas Kesehatan DIY, Dekan FK-KMK UGM, Direktur Utama RSUP Dr. Sardjito, Kepala Dinas Kesehatan Kab. Sleman, dan Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta.

Yogyakarta Sebagai Kota Pertama Percontohan

Lantas, mengapa Yogyakarta?

Menurut Director C/Can Horizon & Accelerator Hub, Mathieu Morand, Kemenkes RI telah lama mengenal Yogyakarta sebagai kota yang mampu melahirkan berbagai proyek percontohan di bidang kesehatan. Sebelumnya, C/Can juga telah melakukan kunjungan lapangan dan penilaian untuk melihat apakah Yogyakarta berpotensi untuk mendorong penguatan sistem kesehatan di tingkat kota. Berdasarkan kriteria evaluasi yang dilakukan C/Can, Yogyakarta menjadi kota pertama yang tepat untuk mengimplementasikan model penguatan sistem kanker di tingkat kota.

Yogyakarta sangat memenuhi kriteria dari berbagai perspektif sebagai kota percontohan. Kota tersebut telah memiliki fasilitas layanan kanker yang sangat baik. Kolaborasi antar sektor publik, swasta, maupun pemerintah juga banyak dilakukan di sana, yang belum tentu terjadi di wilayah lain di Indonesia. Masyarakat juga berperan dalam menemukan solusi permasalahan kanker. Kondisi ini bagus untuk mendorong penguatan sistem kanker di tingkat lokal,” terang Morand.

Kehadiran FK-KMK UGM sebagai institusi akademik turut menjadi kunci. Morand mengungkapkan, FK-KMK UGM telah masyhur dalam kemampuannya untuk melakukan penelitian implementasi. Harapannya, FK-KMK UGM dapat menjadi jembatan untuk mengimplementasikan pengetahuan ilmiah secara lokal dalam Yogyakarta’s Breast Cancer Initiative dan dapat direplikasikan di berbagai kota lainnya di Indonesia.

Dukungan Metodologi dan Jejaring Global

Sebagai organisasi global nirlaba yang berbasis di Jenewa, Swiss, C/Can memiliki pengalaman lebih dari satu dekade dalam mendorong implementasi dan transformasi sistem kanker di berbagai negara. Saat ini, organisasi tersebut telah berkontribusi dalam membantu peningkatan sistem kanker di 17 negara, khususnya di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Dalam satu dekade itu pula, C/Can telah mengembangkan banyak alat, metodologi, dan pengetahuan tentang penguatan sistem kanker secara efisien.

Dalam program Yogyakarta’s Breast Cancer Initiative, C/Can melakukan pendampingan, perencanaan program, dan pembekalan keterampilan kepada FK-KMK UGM agar program dapat berjalan seefisien mungkin dengan memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman yang C/Can miliki dari seluruh dunia.

“Kami memberikan pendampingan, pelatihan, peninjauan, dan memberikan umpan balik secara langsung di sana (Yogyakarta), sehingga FK-KMK UGM benar-benar siap untuk beraksi nyata dan menjembatani kesenjangan sistem secara efisien,” ujar Morand.

Selain memberikan pengetahuan metodologis, C/Can juga memberikan dukungan teknis seperti pemberian alat needs assessment (penilaian kebutuhan) untuk pelayanan kanker, yaitu kuesioner komprehensif yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data dari berbagai institusi layanan kesehatan di Yogyakarta guna memetakan kondisi sistem layanan kanker saat ini, mengidentifikasi kesenjangan layanan, serta merumuskan rencana aksi prioritas. Alat ini terbukti efektif dalam mengkaji kebutuhan nyata suatu kelompok masyarakat tentang kondisi saat ini dan kondisi ideal yang diinginkan dalam suatu program.

Dukungan lainnya yang diberikan C/Can kepada FK-KMK UGM yaitu akses kepada WHO Indonesia maupun WHO Global dalam menjalankan program. Pada Mei 2026 mendatang, C/Can juga akan mengadakan lokakarya Global Breast Cancer Initiative di Yogyakarta. Lokakarya ini akan mempertemukan para pemangku kepentingan lokal dan nasional untuk mendiskusikan hasil analisis situasi serta merumuskan langkah strategis penguatan layanan kanker payudara di Yogyakarta. Nantinya, C/Can akan memoderasi dan memandu percakapan yang dinarasumberi oleh para ahli dari C/Can maupun dari negara lain di bidang kanker payudara.

“Kami akan berbagi pengetahuan dalam lokakarya tersebut, dan ini juga merupakan salah satu bentuk dukungan kami, sehingga dukungan yang kami berikan kepada FK-KMK UGM dalam menjalankan program ini tidak hanya metodologis, tetapi juga teknis,” terang Morand.

Mengubah Perjalanan Hidup Penyintas

Sesuai kerangka kerja WHO tentang Global Breast Cancer Initiative, program Yogyakarta’s Breast Cancer Initiative ini diharapkan dapat memberikan dampak positif pada perjalanan hidup perempuan berdasarkan tiga pilar utama, yaitu peningkatan deteksi dini, diagnosis yang tepat waktu, serta akses terhadap pengobatan yang komprehensif. Pertama, program ini diharapkan dapat memberikan akses yang lebih mudah kepada para perempuan di Yogyakarta untuk mendapatkan diagnosis dini, sehingga dapat dilakukan pencegahan atau penanganan lebih awal apabila terdeteksi kanker di tubuh mereka—sebelum semuanya terlambat.

Kedua, melalui program ini, interval waktu antara pemeriksaan diagnostik seperti mamografi, biopsi, waktu tunggu hasil patologi, hingga berkonsultasi dengan ahli onkologi diharapkan hanya membutuhkan waktu kurang dari 60 hari, sesuai anjuran yang distandarkan oleh WHO. Program ini bertujuan untuk mempersingkat proses pemeriksaan hingga mendapatkan hasil diagnosis, sehingga pasien tidak perlu menunggu waktu lama untuk mencapai tahap diagnosis selanjutnya. Selain itu, pasien juga tidak perlu berjuang sendiri, tetapi didampingi untuk benar-benar menjalani setiap tahapan pemeriksaan menuju kesembuhan.

Ketiga, pengobatan pasien tidak berhenti di tengah jalan. Banyak kasus pasien berhenti menjalani pengobatan, tidak hanya di Yogyakarta, tetapi juga di seluruh dunia. Hal ini justru dapat membuka peluang peningkatan keparahan kanker, dan justru dapat membahayakan nyawa pasien. Program ini berkontribusi dalam menyokong para pasien kanker payudara di Yogyakarta untuk benar-benar menyelesaikan pengobatan, sehingga memaksimalkan peluang kesembuhan mereka.

Morand mengungkapkan, banyak perempuan yang menghentikan pengobatan karena mengalami kendala finansial maupun mental. Pada akhirnya, mereka pun menyerah untuk dapat sembuh. Padahal, menurut Morand, jika pasien menyelesaikan pengobatan, mereka memiliki peluang untuk segera pulih dan sembuh.

“Ketiga pilar ini sangat penting untuk dibawa kepada para perempuan di Yogyakarta, untuk mendukung mereka hingga akhir dan menyelesaikan pengobatan. Dengan benar-benar mengikuti tiga pilar WHO itu dan jika Yogyakarta berhasil mengimplementasikannya, dampaknya akan sangat drastis bagi para perempuan yang didiagnosa mengidap kanker payudara,” terang Morand.

Menyongsong Dampak Jangka Panjang

Dampak yang besar membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Morand mengatakan, Yogyakarta’s Breast Cancer Initiative tak dapat tercapai hanya dalam waktu 1-2 tahun. Oleh karena itu, menurut Morand, 5-10 tahun merupakan jangka waktu yang tepat untuk menilik modifikasi sistem kesehatan yang benar-benar baik, sehingga pelayanan kanker payudara menjadi lebih mudah diakses dan tanpa menciptakan kendala baru bagi para pasien selama perjalanan kesembuhannya.

Morand mengungkapkan, tekad C/Can adalah menyediakan apa yang dibutuhkan FK-KMK UGM sebagai jembatan dalam program ini, sehingga FK-KMK dapat mereplikasi program penanganan berbagai jenis kanker lainnya. FK-KMK dapat menjadi aktor implementasi penguatan sistem kesehatan di tingkat nasional dan mampu memandu institusi akademik lainnya di Indonesia maupun dunia untuk mengimplementasikan program serupa.

Director C/Can Horizon & Accelerator Hub itu juga berharap, Dinas Kesehatan (Dinkes) Yogyakarta nantinya tetap dapat membuat program yang kohesif dan melibatkan berbagai pihak untuk tidak hanya melakukan skrining semata. Dalam 10 tahun ke depan, Morand berharap Dinkes Daerah Istimewa Yogyakarta turut membimbing, mendampingi, dan memberikan perawatan menyeluruh kepada pasien.

“Itulah yang kami harapkan agar sistem kesehatan di Kota Yogyakarta bisa menjadi salah satu sistem terbaik di Indonesia dan menginspirasi kota-kota lain di Indonesia,” tutup Morand.

Penulis: Citra Agusta Putri Anastasia
Editor: Yoyo Suhoyo