FK-KMK UGM. Departemen Mikrobiologi FK-KMK UGM berkolaborasi dengan Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Departemen BEPH, dan Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyelenggarakan Seminar Pengabdian Masyarakat bertajuk “Penguatan Kompetensi Tenaga Kesehatan Melalui BAKTI-TB (Bangun Kompetensi Tenaga Kesehatan Indonesia untuk Tuberkulosis) dalam Mendukung Indonesia Bebas Tuberkulosis (TB-End) di Daerah Istimewa Yogyakarta”. Kegiatan dilaksanakan di Auditorium FK-KMK UGM Kamis (25/6/2026). Seminar ini bertujuan untuk meningkatkan kompetisi tenaga kesehatan dan mentransfer pengetahuan secara komprehensif terkait epidemiologi klinis, tata laksana TB Resisten Obat (RO), hingga teknologi diagnostik untuk TB.
Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia FK-KMK UGM, Prof. Dr. dr. Hera Nirwati, M.Kes., Sp.MK(K), dalam sambutannya mengatakan bahwa hingga saat ini, TB masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia, terutama dengan adanya tantangan dalam penemuan kasus, peningkatan kualitas pemeriksaan, kepatuhan pengobatan, dan munculnya kasus TB RO. Melalui seminar yang didanai oleh hibah pengabdian masyarakat FK-KMK UGM 2026 ini, FK-KMK berkomitmen dalam mendukung program nasional terkait pengendalian TB serta pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan kualitas layanan kesehatan dan pengendalian penyakit mennular. Di sisi lain, kegiatan ini juga merupakan implementasi dari SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui sinergi antara FK-KMK UGM, pemerintah daerah, dan fasilitas-fasilitas kesehatan di DIY.
“Kami berharap, kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkuat jejaring dan kolaborasi antara tenaga kesehatan, akademisi, serta pemangku kepentingan. Dengan demikian, ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat diimplementasikan di tempat kerja masing-masing dan memberikan dampak nyata dalam peningkatan mutu layanan TB di DIY,” kata Prof. Hera.
Pada sesi keynote speech, Kepala Bidang P2P Dinkes Provinsi DIY, dr. Ari Kurniawati, MPH., berbagi wawasan tentang praktik baik pada enam strategi nasional eliminasi TB. Keenam strategi itu antara lain penguatan komitmen dan kepemimpinan Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota; peningkatan akses layanan TB yang bermutu dan berpihak pada pasien; intensifikasi upaya kesehatan dalam rangka penanggulangan TB; peningkatan penelitian, pengembangan, dan inovasi di bidang penanggulangan TB; peningkatan peran serta komunitas, pemangku kepentingan, dan multisektor lainnya dalam penanggulangan TB; serta penguatan manajemen program.
“Oleh karena itu, pada aksi prioritas yang perlu dilakukan adalah perkuat skrining aktif, investigasi kontak, dan penguatan kader di wilayah padat; perluas kemitraan PPM dengan RS atau klinik swasta untuk penemuan kasus aktif, wajib melakukan strandardisasi pengisian variabel dan audit rutin kelengkapan data, serta mengintegrasikan skrining TB anak dengan layanan anak, gizi, dan kontak serumah,” jelas dr. Ari.
Selain sesi keynote speech, seminar turut menghadirkan dua sesi besar dengan lima pemaparan materi. Wawasab yang dibagikan antara lain terkait epidemiologi tuberkulosis dalam mendukung penguatan kapasitas tenaga kesehatan menuju eliminasi TB di Indonesia oleh Dr. dr. Citra Indriani, M.P.H; handling dan transport spesimen TB oleh dr. Domas Fitria Widyasari, Sp.MK; best practice dan troubleshooting pemeriksaan TB di Lab TB FK-KMK UGM oleh Linda Oktabriana, S.Si; tata laksana klinis tuberkulosis sensitif obat dan multidrug-resistant (MDR-TB) oleh dr. Nur Rahmi Ananda, SpPD, Subsp. PMK (K); dan pemeriksaan mikrobiologi untuk penegakkan diagnostik TB di Fasyankes oleh Prof. dr. Titik Nuryastuti, M.Si., Ph.D., Sp.MK(K). (Penulis: Citra/Humas).



