Layanan Kesehatan Ramah Tuli Menjadi Fokus FGD yang Diselenggarakan FK-KMK UGM Bersama Puskesmas di Kota Yogyakarta

FK-KMK UGM. Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan (Center for Health Behavior and Promotion/CHBP) FK-KMK UGM menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) need assessment layanan kesehatan ramah Tuli pada Rabu (24/6/2026) di Gedung Penelitian dan Pengembangan FK-KMK UGM. Kegiatan ini melibatkan tenaga kesehatan yang terdiri atas dokter, bidan, dan perawat dari sepuluh puskesmas di Kota Yogyakarta sebagai bagian dari upaya merancang program penguatan layanan kesehatan yang lebih inklusif bagi komunitas Tuli.

FGD dipandu oleh Ketua Tim Pengabdian CHBP FK-KMK UGM, dr. Ardhina Ramania, M.P.H., didampingi Nia Lestari Muqarohmah, S.Kep., Ns., M.P.H., Sinta Ristiyanti, S.Pd., M.A., selaku asisten CHBP, serta Victor Maikel Piter Asyerem sebagai perwakilan mahasiswa dalam tim pengabdian. Kegiatan ini menjadi tahapan awal dalam menyusun program pengabdian masyarakat yang berfokus pada peningkatan keterampilan komunikasi inklusif bagi tenaga kesehatan layanan primer di Kota Yogyakarta.

Dalam pengantarnya, dr. Ardhina Ramania menjelaskan bahwa hasil kegiatan pengabdian sebelumnya menunjukkan masih rendahnya pemanfaatan layanan kesehatan oleh komunitas Tuli. Salah satu faktor yang menjadi penyebab utama adalah adanya hambatan komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien Tuli. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi kenyamanan pasien dalam mengakses layanan kesehatan, tetapi juga dapat menghambat proses penyampaian informasi medis, penyampaian keluhan, hingga pemahaman terhadap prosedur dan rekomendasi kesehatan yang diberikan.

Diskusi ini mengungkapkan bahwa layanan kesehatan inklusif tidak cukup hanya menyediakan fasilitas fisik yang ramah bagi penyandang disabilitas. Kesiapan tenaga kesehatan untuk berkomunikasi sesuai kebutuhan pasien menjadi aspek yang tidak kalah penting. Selama ini, komunikasi dengan pasien Tuli di puskesmas umumnya dilakukan melalui tulisan tangan, pesan pada telepon genggam, membaca gerak bibir, menggunakan isyarat sederhana, serta bantuan anggota keluarga atau pendamping.

Meskipun berbagai cara tersebut cukup membantu dalam komunikasi dasar, para peserta mengakui masih menghadapi kesulitan ketika harus menjelaskan informasi medis yang lebih kompleks. Penjelasan mengenai prosedur tindakan medis, hasil pemeriksaan, konseling kesehatan, hingga proses rujukan sering kali memerlukan pendekatan komunikasi yang lebih terstruktur dan mudah dipahami oleh pasien Tuli.

Pelaksanaan kegiatan ini sejalan dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera diwujudkan melalui upaya memperluas akses layanan kesehatan yang ramah dan inklusif bagi komunitas Tuli. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan komunikasi inklusif bagi tenaga kesehatan layanan primer. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan diwujudkan melalui upaya mengurangi hambatan komunikasi dalam pelayanan kesehatan sehingga kelompok rentan memperoleh layanan yang setara. Selain itu, SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan diwujudkan melalui kolaborasi antara FK-KMK UGM, puskesmas, dan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dalam mengembangkan layanan kesehatan primer yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (Kontributor: Sinta Ristiyanti, Nia Lestari Muqarohmah).