FK-KMK UGM. Departemen Obstetri dan Ginekologi (Obgin) FK-KMK UGM menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pendampingan pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan penyuluhan kesehatan bagi ibu hamil bertema “Nutrisi Selama Kehamilan” di Puskesmas Imogiri I, Kabupaten Bantul, pada Kamis (4/6/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu hamil mengenai pentingnya pemenuhan nutrisi selama kehamilan untuk mendukung kesehatan ibu serta tumbuh kembang janin secara optimal.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh tim Departemen Obgin FK-KMK UGM yang terdiri atas trainee dr. Yosi Tamara, Sp.OG., bersama para residen, yaitu dr. Nisa Utami Ika Permatasari, dr. Novita Nurul Khoirunnisa, dan dr. Rizky Firdaus. Selain memberikan pelayanan pemeriksaan USG, tim juga memberikan edukasi komprehensif mengenai kebutuhan gizi selama kehamilan, pola makan sehat, dan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan ibu dan janin.
Dalam penyuluhan, peserta mendapatkan penjelasan mengenai pentingnya periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak awal kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode tersebut dinilai sangat menentukan kualitas kesehatan dan perkembangan anak di masa mendatang. Berdasarkan Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2023, prevalensi stunting di Kabupaten Bantul masih berada pada angka 21,5 persen, sementara target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2024 menetapkan angka 14 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan stunting perlu dilakukan sejak masa kehamilan.
Tim pemateri menjelaskan bahwa kekurangan zat gizi tertentu dapat memberikan dampak serius bagi ibu maupun janin. Defisiensi zat besi, misalnya, meningkatkan risiko anemia pada ibu hamil yang dapat berujung pada perdarahan pascapersalinan dan persalinan prematur. Kekurangan kalsium dan protein juga berkaitan dengan meningkatnya risiko preeklamsia, yang hingga kini masih menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu di Indonesia.
Sementara itu, pada janin, kekurangan asam folat di trimester pertama dapat meningkatkan risiko neural tube defect atau kelainan tabung saraf. Kekurangan yodium juga berpotensi menyebabkan gangguan perkembangan kognitif yang bersifat permanen. Tim juga memaparkan konsep Developmental Origins of Health and Disease (DOHaD), yang menunjukkan bahwa kondisi gizi dalam kandungan dapat memengaruhi risiko terjadinya penyakit tidak menular, seperti hipertensi, diabetes melitus tipe 2, dan penyakit jantung pada saat anak mencapai usia dewasa.
Dalam kegiatan ini, ibu hamil juga diperkenalkan dengan program Multi Micronutrient Supplement (MMS) yang secara resmi diluncurkan Kementerian Kesehatan pada Oktober 2024 sebagai pengganti Tablet Tambah Darah (TTD). MMS mengandung 13 jenis zat gizi mikro, termasuk zat besi, asam folat, vitamin, dan mineral lainnya, sehingga dinilai lebih komprehensif dalam mendukung kesehatan ibu dan janin.
Selain itu, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya pemeriksaan antenatal secara rutin, pola makan bergizi seimbang, konsumsi MMS secara teratur, pemantauan kenaikan berat badan melalui Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), serta pengenalan tanda bahaya selama kehamilan. Tim menekankan bahwa kecukupan jumlah makanan belum tentu menjamin kualitas gizi yang dibutuhkan ibu hamil apabila tidak diimbangi dengan asupan protein hewani dan mikronutrien esensial.
Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak serta pencegahan stunting sejak masa kehamilan. SDG 2 Tanpa Kelaparan melalui edukasi pemenuhan gizi ibu hamil untuk mencegah malnutrisi dan mendukung pertumbuhan janin yang optimal. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan literasi kesehatan masyarakat, serta SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara Departemen Obstetri dan Ginekologi FK-KMK UGM dan Puskesmas Imogiri I dalam memperkuat pelayanan kesehatan maternal secara berkelanjutan. (Kontributor: Munjayati).




