FK-KMK UGM. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK), Fitness Professional Academy, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa, HOPE Wellness, Fitness Plus, serta Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI) menyelenggarakan Webinar Series Muscle is Medicine Seri 3 bertajuk “Biomechanisms and Safety of Resistance Training”. Kegiatan yang berlangsung secara daring pada Kamis, 4 Juni 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan, akademisi, praktisi kebugaran, dan masyarakat umum mengenai prinsip biomekanika serta aspek keselamatan dalam latihan resistensi berbasis bukti ilmiah.
Webinar menghadirkan dr. Tanjung Subrata sebagai narasumber utama yang membahas berbagai aspek biomekanika, mekanisme cedera, teknik latihan yang aman, hingga pedoman keselamatan pada berbagai jenis latihan resistensi. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya edukasi promotif dan preventif untuk mendorong masyarakat menerapkan aktivitas fisik yang aman dan efektif dalam menjaga kesehatan jangka panjang.
Dalam sesi awal, dr. Tanjung menjelaskan bahwa biomekanika merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana tubuh bergerak dan berinteraksi dengan gaya yang bekerja selama aktivitas fisik. Pemahaman terhadap prinsip biomekanika dinilai sangat penting karena dapat membantu seseorang melakukan gerakan secara lebih efektif, efisien, dan aman. Posisi tubuh, arah gerakan, serta distribusi beban latihan memiliki pengaruh besar terhadap aktivasi otot dan risiko terjadinya cedera.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa sebagian besar cedera olahraga tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat akumulasi berbagai faktor seperti kesalahan teknik, penggunaan beban yang tidak sesuai kapasitas tubuh, kurangnya pemanasan, maupun latihan berlebihan tanpa waktu pemulihan yang memadai. Oleh karena itu, setiap individu perlu memahami batas kemampuan tubuhnya dan menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama dalam berlatih.
Pada sesi diskusi pertama, peserta aktif membahas berbagai teknik latihan yang umum diterapkan di pusat kebugaran, termasuk pentingnya scapular positioning, penggunaan alat seperti leg press, serta pengaruh perubahan posisi tubuh terhadap kerja kelompok otot tertentu. Narasumber menegaskan bahwa perkembangan ilmu olahraga modern saat ini semakin didasarkan pada hasil penelitian ilmiah sehingga berbagai metode latihan perlu terus dievaluasi agar tetap relevan, aman, dan efektif.
Materi berikutnya membahas titik-titik rawan cedera (point of injury) serta pentingnya pengaturan pernapasan dan waktu gerakan selama latihan. dr. Tanjung menjelaskan bahwa sinkronisasi antara pola napas dan gerakan memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas tubuh, meningkatkan efisiensi gerakan, serta mengurangi tekanan berlebihan pada sistem muskuloskeletal maupun kardiovaskular.
Pada sesi akhir, peserta memperoleh penjelasan mengenai pedoman keselamatan umum dalam latihan, termasuk keselamatan pada bahu, siku, lutut, punggung, dan sistem kardiovaskular. Narasumber mengingatkan pentingnya menjaga posisi tulang belakang tetap netral, memperhatikan arah gerakan sendi, menggunakan perlengkapan yang sesuai, menjaga hidrasi, serta melakukan asesmen kondisi kesehatan sebelum memulai program latihan jangka panjang.
Diskusi kedua juga membahas berbagai topik yang sering ditemui di lapangan, seperti variasi gerakan lat pulldown, pemilihan beban latihan yang sesuai, pemulihan pasca olahraga intensitas tinggi, hingga penggunaan terapi dingin setelah latihan. Dalam kesempatan tersebut, dr. Tanjung kembali menekankan bahwa keamanan latihan sangat dipengaruhi oleh kemampuan individu, mobilitas sendi, teknik gerakan, dan penerapan prinsip progresivitas yang tepat.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui peningkatan literasi kesehatan dan promosi aktivitas fisik yang aman untuk mencegah penyakit kronis. SDG 4 Pendidikan Berkualitas dengan menyediakan akses pembelajaran berbasis ilmu pengetahuan terkini bagi tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara institusi pendidikan, organisasi profesi, praktisi kebugaran, dan berbagai mitra dalam memperkuat promosi kesehatan berbasis bukti ilmiah. (Kontributor: Yuka Nabila).




