FK-KMK UGM Perkuat Peran Remaja sebagai Agen Pencegahan Merokok melalui Training of Trainers

FK-KMK UGM. Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan FK-KMK UGM menyelenggarakan kegiatan Training of Trainers (ToT) bagi Alumni Peer Supporters pada Minggu, 24 Mei 2026, di Kabupaten Magelang. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Program EQUITY Community Development yang bertujuan memperkuat kapasitas remaja sebagai fasilitator sebaya dalam mendukung upaya pencegahan perilaku merokok di lingkungan sekolah. Sebanyak enam alumni Peer Supporter dari SMP Muhammadiyah Muntilan, SMP MPlus Gunungpring, dan SMP Negeri 1 Mertoyudan mengikuti pelatihan ini sebagai peserta.

Program ini dirancang untuk mempersiapkan para alumni Peer Supporter agar mampu menjalankan peran baru sebagai trainer bagi generasi pendukung sebaya berikutnya. Para peserta sebelumnya telah mengikuti pelatihan dan terlibat dalam berbagai kegiatan promosi kesehatan terkait pencegahan merokok di sekolah. Melalui kegiatan ToT, mereka dibekali kembali dengan pengetahuan, keterampilan komunikasi, serta metode fasilitasi yang diperlukan untuk mendampingi dan melatih Peer Supporter baru di sekolah masing-masing.

Kegiatan diawali dengan sambutan dari Prof. Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D. yang menyampaikan apresiasi atas komitmen para alumni Peer Supporter yang bersedia melanjutkan keterlibatan mereka dalam program pengembangan kesehatan remaja. Dalam sambutannya, Prof. Yayi menjelaskan bahwa Program EQUITY mendapatkan dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) guna memperluas jangkauan dan dampak program pencegahan merokok yang telah berjalan selama beberapa tahun terakhir.

Prof. Yayi juga menekankan bahwa keberadaan alumni Peer Supporter sebagai trainer memiliki peran strategis dalam memastikan keberlanjutan program di sekolah. Dengan pendekatan sebaya, pesan-pesan kesehatan diharapkan dapat diterima lebih efektif oleh remaja karena disampaikan oleh teman yang memiliki kedekatan sosial dan pengalaman yang serupa.

Pada sesi materi, peserta mendapatkan pembekalan mengenai berbagai isu kesehatan remaja, khususnya terkait bahaya merokok dan penggunaan rokok elektronik atau vape. Prof. Yayi menjelaskan dampak rokok terhadap kesehatan fisik maupun psikologis serta berbagai strategi yang dapat digunakan remaja untuk menolak ajakan merokok dari lingkungan pertemanan.

Materi berikutnya disampaikan oleh dr. Bagas Suryo Bintoro, Ph.D. yang mengajak peserta untuk memahami pentingnya literasi kesehatan di era digital. Dalam sesi tersebut, peserta dilatih untuk mengenali sumber informasi yang valid, melakukan verifikasi informasi kesehatan, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis terhadap berbagai konten yang beredar di media sosial dan platform digital seperti Instagram, YouTube, maupun teknologi kecerdasan buatan.

Sesi workshop berlangsung interaktif di bawah bimbingan Nia Lestari Muqarohmah, S.Kep., Ns., M.P.H. dan Afif Hilman Jovian, M.Eng. yang sebelumnya juga berperan sebagai trainer dalam program serupa. Melalui metode diskusi kelompok, simulasi, dan roleplay, peserta diajak untuk memahami kembali tujuan setiap sesi pelatihan, memperkuat kemampuan fasilitasi, serta meningkatkan kepercayaan diri dalam menjalankan peran sebagai trainer. Aktivitas tersebut juga menjadi sarana refleksi atas pengalaman mereka selama menjadi Peer Supporter di sekolah.

Kegiatan ini mendukung pencapaian SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan promosi kesehatan serta pencegahan perilaku merokok pada remaja. SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan kapasitas, keterampilan komunikasi, dan kepemimpinan remaja sebagai fasilitator sebaya. SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, tenaga kesehatan, dan remaja dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan generasi muda secara berkelanjutan. (Kontributor: Sinta Ristiyanti).