FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) bersinergi dengan Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI) menyelenggarakan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) HOGSI XVII 2026. Kegiatan digelar selama tiga hari, 11-13 Mei 2026, di Royal Ambarrukmo Hotel, Yogyakarta. Tahun ini, PIT HOGSI mengangkat tema: “Implementasi Obstetri Ginekologi Sosial dalam Peningkatan Kuantitas & Kualitas Pelayanan Obstetri dan Ginekologi: Strategi Penurunan AKI, AKB serta Double Burden dengan Integrasi Kesehatan Reproduksi dan Hilirisasi Berbasis Kearifan Lokal”.
Ketua HOGSI, Prof. Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, Sp.OG, Subsp. Obginsos, MPH, dalam konferensi pers PIT HOGSI XVII 2026 mengemukakan, PIT kali ini tak lepas membahas tentang kematian ibu, bayi yang baru lahir, dan double burden. Kesehatan ibu maupun kesehatan bayi akan berpengaruh besar pada pertumbuhan generasi mendatang.
Jika pada dua tahun pertama ibu tidak dapat mengatasi masalah pada bayinya dengan baik atau tidak memberikan ASI secara eksklusif, bayi akan rentan terkena penyakit, stunting, dan tidak akan dapat tumbuh sempurna. Selain itu, apabila Indonesia yang terkenal dengan keragaman kulturnya tidak disentuh dengan cara yang berbeda sesuai dengan kondisi sosial dan budaya, maka upaya yang dilakukan pun tidak berhasil.
“Kita harus bersama-sama berkolaborasi menangani kematian ibu. Dokter subspesialis, spesialis, atau dokter saja tidak akan berhasil. Kita harus melibatkan tenaga kesehatan lain, seperti bidan, perawat, bahkan ahli gizi,” kata Prof. Ocviyanti.
Ketua Panitia PIT HOGSI XVII 2026 sekaligus pengajar Departemen Obstetri dan Ginekologi FK-KMK UGM, Dr. dr. Eugenius Phyowai Ganap, Sp.OG.Subsp.Obginsos, menjelaskan bahwa kegiatan ini diselenggarakan dalam dua fase, dengan fase pertama yaitu pre-simposium berupa enam workshop. Berbagai pelatihan di antaranya tentang masalah kekerasan terhadap wanita dan anak, pelatihan tenaga medis dalam kasus kegawatdaruratan, pelatihan deteksi lesi prakanker, pelatihan Audit Maternal Perinatal Surveilans dan Respon (AMP-SR), pelatihan dokter spesialis obstetri dan ginekologi menjadi seorang pengajar, bagaimana mendirikan pusat pendidikan obstetri dan ginekologi, hingga upaya kolaborasi dalam berinovasi dengan tetap mengedepankan kearifan lokal.
Fase kedua, symposium, menjadi acara utama PIT dengan menghadirkan beragam materi yang mengedepankan masalah kesehatan ibu dan anak, cara menurunkan angka kematian ibu dan bayi, bagaimana menurunkan angka stunting, serta upaya kolaborasi lintas sektoral. Lebih dari 600 peserta berpartisipasi dalam workshop maupun simposium.
“Harapan kami, peserta dapat mengaplikasikan keilmuan atau kebaruan yang didapatkan dan dipelajari dari pertemuan ini untuk bisa menjadi agent of change pelayanan yang lebih baik untuk masalah penurunan angka kematian ibu, angka kematian bayi, stunting, dan juga masalah reproduksi lain yang ada di daerahnya,” tutup dr. Phyowai.
Partisipasi FK-KMK UGM pada PIT HOGSI XVII 2026 merupakan salah satu upaya fakultas dalam mendorong tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan ini mendukung terwujudnya SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dan SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui akses terhadap pendidikan kesehatan serta pencegahan kekurangan gizi pada ibu dan anak. PIT HOGSI juga mendukung tercapainya SDG 5: Kesetaraan Gender, SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan, dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan karena berkontribusi dalam menciptakan keadilan kesehatan pada ibu dan anak-anak di negara berkembang melalui peningkatan kapasitas dan kolaborasi para tenaga kesehatan lintas sektor. (Penulis: Citra/Humas)



