FK-KMK UGM. Pusat Studi Kedokteran Tropis FK-KMK UGM menyelenggarakan kegiatan Tropmed Talk pada Selasa (12/5). Kegiatan ini diselenggarakan secara daring menggunakan platform Zoom dan Youtube, dihadiri oleh 368 peserta yang tersebar di seluruh Indonesia. Pada edisi ini, Tropmed Talk diselenggarakan untuk memberikan edukasi publik terkait Hantavirus dan pemahaman pencegahannya.
Tropmed Talk menghadirkan dua pembicara yang ahli di bidangnya, antara lain dr. Riris Andono Ahmad, MPH., Ph.D, selaku dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi (BEPH) FK-KMK UGM dan dr. Alindina Anjani, Sp.PD sebagai dokter spesialis penyakit dalam RSUP Dr. Sardjito. Kegiatan ini dimoderatori oleh Dr. dr. Citra Indriani, MPH selaku dosen Departemen BEPH FK-KMK UGM.
Kegiatan ini dimulai dengan pemaparan materi dari dr. Riris Andono Ahmad, MPH., Ph.D, dengan materi “Outbreak Hantavirus di Kapal Pesiar Eropa di Eropa”. dr. Riris menyampaikan kronologi terkait awal mula penyebaran virus ini, yang bermula dari temuan kasus medis dari kapal pesiar yang berangkat dari Argentina. Kapal pesiar ini membawa sebuah virus berjenis Hanta strain Andes, ditularkan oleh tikus berjenis Oligoryzomys. Penularan ini menyebabkan 8 orang terinfeksi, 3 orang meninggal, dan 147 orang beresiko tertular. dr. Riris menekankan realita virus ini juga telah dikonfirmasi oleh World Health Organization (WHO) dan menjadi virus yang memiliki fatalitas cukup tinggi hingga 40 persen.
“Virus ini cukup unik dan berbahaya dikarenakan jenis virus Hanta strain Andes ini dapat menular antar manusia,” kata dr. Riris.
dr. Riris turut memberikan karakteristik hantavirus yang cenderung menular melalui dua jalur utama. Pertama, jalur primer yang ditularkan dari tikus yang berkontak langsung dengan manusia. Penularan ini cenderung terjadi dari penghirupan virus dari kotoran, urin, dan air liur tikus yang mengering di debu. Selain itu, penularan ini juga dapat terjadi dari gigitan tikus yang cukup jarang terjadi.
Kedua, jalur sekunder yang ditularkan dari manusia ke manusia. Penularan virus jalur ini terjadi pada droplet pernapasan seperti batuk dan bersin. Selain itu, kontak langsung seperti hidup bersama, terpapar air liur, dahak dan berbagi alat makan juga dapat menularkan virus.
“Demi memutuskan rantai penularan, disarankan untuk mematuhi protokol kesehatan seperti menggunakan APD apabila melakukan kegiatan di area berisiko, jaga jarak pada orang yang bergejala, hindari kontak langsung dengan tikus, dan cuci tangan dengan rutin,” kata dr. Riris.
Pada pemaparan materi kedua, dr. Alindina Anjani, Sp.PD dengan materi “Gejala, Diagnosis, dan Tata Laksana Hantavirus” menjelaskan bahwa hantavirus merupakan jenis penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus RNA. Virus ini memiliki struktur partikel yang terdiri atassegmen Small (S), Medium (M), dan Large (L).
“Virus ini cenderung dibawa oleh tikus yang menularkan melalui kontak air liur, urin, dan feses. Sedangkan, penularan antar manusia sangat jarang terjadi,” kata dr. Alindina.
dr. Alindina juga menegaskan bahwa pada manifestasi klinis, virus ini terbagi menjadi dua wilayah berdasarkan kondisi geografis. Pertama, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS/HCPS). Jenis virus ini dominan ditemukan di Amerika Utara dan Selatan. Virus ini memiliki tingkat kematian tinggi ±30–40 persen. Selain itu, virus ini cenderung menyerang paru-paru dan sistem kardiovaskular yang ditandai dengan gejala sesak nafas progresif disertai edema paru.
Kedua, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Virus ini dominan ditemukan di Asia dan Eropa yang cenderung menyerang organ ginjal dan endotel vaskular. Gejala khas dari virus ini di tubuh berupa oliguria (sedikit urin), nyeri pinggang, dan pendarahan.
“Demi mengantisipasi penularan lebih luas, masyarakat dan tenaga kesehatan perlu menerapkan 3M, antara lain mengenali gejala hantavirus, melaporkan ke dinas kesehatan dan pelayanan kesehatan apabila menemukan kasus yang mencurigakan, dan mencegah penularan dengan memberikan area beresiko menggunakan alat pelindung diri (masker dan sarung tangan),” kata dr. Alindina.
Kegiatan ini turut mendukung komitmen pada Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dengan menekankan pentingnya respons cepat tanggap dalam edukasi publik atas kasus hantavirus yang menjadi kekhawatiran kolektif. Kegiatan ini juga mendorong tercapainya SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan menekankan komitmen dialog publik untuk meluruskan informasi yang keliru atas perkembangan hantavirus, SDG 6: Akses Air Bersih dan Sanitasi Layak dengan menekankan pentingnya menjaga kebersihan di area berisiko penularan hantavirus, serta SDG 17: Kemitraan Untuk Mencapai Tujuan dengan menegaskan pentingnya kolaborasi instansi pendidikan dan kesehatan untuk berkontribusi memutus rantai pencemaran hantavirus, (Reporter/Tedy)



