FK-KMK UGM dan Mitra Resmikan Implementasi APALS untuk Pendidikan Anestesiologi

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) bersama RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta menyelenggarakan program Advance Perioperative Anesthesia Life Support (APALS) pada 1–2 Mei 2026 sebagai upaya memperkuat kompetensi tenaga kesehatan dalam menghadapi kegawatan perioperatif di ruang operasi. Kegiatan yang berlangsung di RSUP Dr. Sardjito tersebut diikuti oleh dokter spesialis anestesi, penata anestesi, serta tenaga kesehatan terkait sebagai bagian dari pengembangan standar keselamatan pasien dan peningkatan kualitas layanan anestesi di Indonesia.

Program APALS dirancang sebagai sarana pelatihan berbasis simulasi klinis yang mendekati kondisi nyata di lapangan. Peserta dihadapkan pada berbagai skenario kegawatan perioperatif yang menuntut kemampuan pengambilan keputusan cepat, koordinasi tim, serta penerapan algoritma penanganan secara sistematis. Pendekatan simulasi ini mengadopsi prinsip pendidikan medis modern yang menekankan pembelajaran aktif dan reflektif untuk meningkatkan kesiapan tenaga kesehatan dalam menghadapi situasi kritis.

Melalui simulasi tersebut, peserta dilatih untuk memahami pentingnya komunikasi efektif dan kerja sama tim dalam proses penyelamatan pasien. Setiap skenario dirancang untuk mengasah kemampuan klinis sekaligus memperkuat koordinasi antartenaga kesehatan, sehingga penanganan pasien dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terstandar. Dengan adanya kesamaan algoritma dan prosedur, APALS diharapkan mampu menciptakan “bahasa bersama” bagi tenaga anestesi di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia.

Ketua Kolegium Penata Anestesi, Dr. Ns. Rahmaya Nova Handayani, menyampaikan bahwa APALS memiliki potensi besar untuk diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan penata anestesi. Menurutnya, pelatihan ini dapat menjadi fondasi penting dalam membangun kompetensi penanganan kegawatan perioperatif sejak masa pendidikan. Hal senada juga disampaikan Ketua Asosiasi Pendidikan Keperawatan Anestesiologi Indonesia (AIPKANI), Emanuel Ileatan Lewar, yang berharap ilmu dan pengalaman dari APALS dapat disebarluaskan ke berbagai daerah agar peningkatan mutu layanan anestesi dapat dirasakan secara lebih merata.

Kolaborasi antara AIPKANI dan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN) menjadi salah satu poin penting dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Sinergi antarlembaga tersebut menunjukkan bahwa keselamatan pasien di ruang operasi membutuhkan pendekatan kolaboratif antarprofesi. Keterlibatan dokter dan penata anestesi dalam satu sistem pembelajaran yang terintegrasi dinilai mampu meminimalkan perbedaan persepsi serta memperkuat budaya keselamatan pasien di lingkungan rumah sakit.

Puncak kegiatan berlangsung pada 3 Mei 2026 di Hotel Alana Yogyakarta melalui penandatanganan nota kesepahaman implementasi APALS. Kesepakatan tersebut melibatkan PERDATIN, Kolegium Penata Anestesi, dan AIPKANI sebagai bentuk komitmen bersama dalam meningkatkan mutu pendidikan dan pelayanan anestesiologi di Indonesia. Melalui implementasi ini, kurikulum APALS direncanakan akan diintegrasikan ke dalam Program Studi Keperawatan Anestesiologi tingkat Sarjana Terapan, sehingga lulusan ke depan memiliki kompetensi kegawatan yang lebih terstandar dan aplikatif.

Selain meningkatkan kompetensi klinis, APALS juga diharapkan mampu membangun budaya keselamatan yang lebih kuat di rumah sakit. Dengan tim yang memiliki standar komunikasi, koordinasi, dan prosedur yang seragam, kualitas pelayanan perioperatif dapat meningkat secara signifikan dan memberikan dampak langsung terhadap keselamatan pasien.

Kegiatan ini juga mendukung pencapaian SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan keselamatan pasien, peningkatan kualitas layanan kesehatan, serta pengembangan kompetensi tenaga medis dalam penanganan kegawatan. Selain itu, kegiatan ini mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui integrasi kurikulum APALS dalam pendidikan tenaga kesehatan berbasis praktik dan simulasi klinis. Kolaborasi antara PERDATIN, Kolegium Penata Anestesi, dan AIPKANI juga mencerminkan implementasi SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui penguatan kerja sama lintas organisasi profesi dan institusi pendidikan dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia. (Kontributor: Nashiruddin/ Editor: Irham Hanafi).