FK-KMK UGM. Departemen Anestesi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) dan RSUP Dr. Sardjito menyelenggarakan pengembangan layanan di bidang anestesiologi dan terapi intensif melalui pelaksanaan tindakan bronkoskopi berupa Bronchoalveolar Lavage (BAL) yang dilanjutkan dengan bronchoscopy-guided Percutaneous Dilatational Tracheostomy (PDT). Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan pasien kritis di lingkungan rumah sakit pendidikan.Pelaksanaan tindakan berlangsung pada 7 April 2026 di Kamar Operasi Endoskopi Gedung PJT RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
Prosedur ini dilakukan pada pasien perempuan berusia 46 tahun yang dirawat di ICU dengan kondisi klinis kompleks, meliputi gagal napas tipe campuran, penggunaan ventilasi mekanik jangka panjang, pneumonia dengan atelektasis pada paru kanan bagian atas, serta komplikasi neurologis berupa perdarahan intraserebral dan intraventrikular. Selain itu, pasien juga memiliki komorbid aneurisma basilar, hipertensi, penyakit jantung hipertensi, serta gangguan ginjal akut stadium dua dan kondisi hipertensi emergensi yang sedang dalam perbaikan. Kompleksitas kondisi ini menuntut pendekatan intervensi yang presisi dan terintegrasi.
Tindakan bronkoskopi dilaksanakan oleh dr. Irham Hanafi, Sp.An-TI dengan pendampingan dr. Bowo Adiyanto, Sp.An-TI, Subsp.TI(K) selaku dokter penanggung jawab pasien di ruang operasi endoskopi. Prosedur diawali dengan evaluasi menyeluruh terhadap jalan napas dan kondisi paru, khususnya pada lobus paru kanan atas yang mengalami atelektasis. Hasil visualisasi menunjukkan adanya iritasi pada dinding jalan napas disertai akumulasi sekret dalam jumlah signifikan. Oleh karena itu, dilakukan pembersihan jalan napas sekaligus pengambilan sampel BAL guna mendukung pemeriksaan diagnostik lanjutan.
Setelah kondisi jalan napas dinilai lebih optimal, tindakan dilanjutkan dengan prosedur Percutaneous Dilatational Tracheostomy yang dilakukan oleh dr. Erlangga Prasamya, Sp.An-TI dengan asistensi dr. Sondang Kriston Pandjaitan, Sp.An-TI, FCC. Prosedur ini dilakukan dengan panduan bronkoskopi secara langsung, dimulai dengan identifikasi struktur trakea melalui visualisasi lumen sebelum dilakukan tindakan pungsi. Pendekatan ini memberikan tingkat akurasi yang tinggi serta meminimalkan risiko komplikasi selama prosedur berlangsung.
Implementasi bronchoscopy-guided PDT menjadi langkah strategis dalam meningkatkan standar keselamatan pasien, mengingat metode ini telah diakui sebagai standar emas dalam pelaksanaan trakeostomi pada pasien kritis. Penggunaan teknologi visualisasi secara real-time memungkinkan tim medis untuk melakukan tindakan secara lebih presisi, aman, dan terkendali. Ke depan, metode ini diharapkan dapat diterapkan secara rutin sesuai dengan indikasi klinis.
Dalam konteks pengembangan layanan, paparan kasus klinis yang berkelanjutan menjadi faktor penting dalam membentuk kurva pembelajaran tim medis. Hal ini memungkinkan peningkatan kompetensi secara progresif sehingga prosedur dapat dilakukan dengan tingkat efisiensi dan keamanan yang semakin tinggi. RSUP Dr. Sardjito juga telah memiliki Standar Prosedur Operasional resmi sebagai acuan pelaksanaan tindakan ini, yang semakin memperkuat tata kelola layanan berbasis mutu dan keselamatan.
Selain memberikan manfaat dalam aspek pelayanan, tindakan bronkoskopi juga berperan penting dalam mendukung pendidikan subspesialis anestesiologi dan terapi intensif. Prosedur ini merupakan bagian dari kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik dalam program pendidikan berbasis rumah sakit, sehingga pelaksanaannya turut berkontribusi dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia kesehatan.
Pelaksanaan bronkoskopi dengan BAL yang dilanjutkan bronchoscopy-guided PDT ini mencerminkan komitmen FK-KMK UGM dan RSUP Dr. Sardjito dalam menghadirkan layanan kesehatan berbasis teknologi, keselamatan, dan bukti ilmiah. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas penanganan pasien kritis, tetapi juga memperkuat peran institusi sebagai pusat pendidikan dan pengembangan keilmuan di bidang anestesiologi dan terapi intensif.
Kegiatan ini juga sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan kualitas layanan intensif yang aman dan berbasis bukti untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian pasien kritis. SDG 4: Pendidikan Berkualitas dari integrasi layanan klinis dengan proses pendidikan subspesialis yang mendukung peningkatan kompetensi tenaga kesehatan. SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara institusi pendidikan dan rumah sakit dalam mengembangkan layanan kesehatan yang inovatif dan berkelanjutan. (Kontributor: Irham H, Gilar P, Hendro).




