LERES FK-KMK UGM Dorong Pengembangan Media Ajar Kegawatdaruratan melalui Teknologi VR

FK-KMK UGM. Learning Resource and Innovation Development Unit (LERES), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menerima kunjungan visitasi dari Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang dan Poltekkes Kemenkes Palembang sebagai bagian dari penguatan kolaborasi inovasi di bidang pendidikan kesehatan. Pertemuan ini menjadi langkah awal dalam pengembangan media pembelajaran berbasis teknologi berupa Phantom Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) terintegrasi Virtual Reality (VR) yang diinisiasi oleh kedua institusi mitra. Kegiatan berlangsung pada Kamis, 16 April 2026, bertempat di Ruang Meeting Unit LERES FK-KMK UGM, dengan fokus utama pada penyamaan persepsi dan perumusan arah pengembangan prototipe inovasi.

Dalam forum diskusi tersebut, para peserta membahas berbagai aspek penting terkait desain dan pengembangan alat, khususnya kesesuaian dengan kondisi fisiologis tubuh saat tindakan CPR. Hal ini menjadi krusial untuk memastikan bahwa media pembelajaran yang dihasilkan tidak hanya inovatif secara teknologi, tetapi juga valid secara ilmiah dan mampu merepresentasikan kondisi klinis yang sesungguhnya. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran keterampilan kegawatdaruratan secara lebih realistis dan imersif.

Dosen Program Studi Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang, Efa Trisna, S.Kep., Ns., M.Kes., menekankan bahwa pemanfaatan teknologi Virtual Reality semakin relevan dalam dunia pendidikan kesehatan saat ini. Menurutnya, keterampilan resusitasi jantung paru tidak hanya menjadi kompetensi tenaga kesehatan, tetapi juga penting dikuasai oleh masyarakat umum dalam menghadapi situasi darurat. Oleh karena itu, pengembangan Phantom CPR berbasis VR dinilai sebagai langkah strategis untuk menjawab kebutuhan pembelajaran yang lebih efektif dan aplikatif.

Sebagai unit yang berfokus pada pengembangan inovasi media ajar dan teknologi kesehatan, LERES FK-KMK UGM berperan dalam memfasilitasi kolaborasi ini agar dapat menghasilkan produk yang tidak hanya berhenti pada tahap prototipe, tetapi juga siap diimplementasikan secara luas. Sinergi antar institusi ini mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadirkan solusi inovatif yang mampu menjawab tantangan pendidikan dan pelayanan kesehatan di Indonesia.

Selain itu, pengembangan media ajar berbasis teknologi ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesiapan tenaga kesehatan dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan, sekaligus memperluas akses pembelajaran bagi berbagai kalangan. Dengan pendekatan yang integratif, inovasi ini berpotensi menjadi salah satu model pembelajaran masa depan yang menggabungkan aspek teknologi, ilmu kesehatan, dan kebutuhan praktis di lapangan.

Kegiatan ini turut mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pengembangan inovasi yang meningkatkan kompetensi penanganan kegawatdaruratan demi keselamatan pasien. SDG 4: Pendidikan Berkualitas dari upaya menghadirkan media pembelajaran yang inovatif, interaktif, dan berbasis teknologi mutakhir. SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara institusi pendidikan dalam mengembangkan solusi bersama yang berkelanjutan di bidang kesehatan. (Kontributor: Nari Nawang Purbamandala, Editor: Meilisa Khoiriya).