FK-KMK UGM. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM menyelenggarakan webinar bertajuk Sharing Session Exploring Research Topics in Disaster Health Management sebagai ruang diskusi akademik untuk mengeksplorasi peluang penelitian di bidang manajemen bencana kesehatan. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari kalangan peneliti serta praktisi yang memiliki pengalaman dalam pengembangan sistem manajemen bencana kesehatan. Webinar dilaksanakan secara daring pada Kamis, 5 Maret 2026, dan diikuti oleh 55 peserta melalui Zoom serta sekitar 120 peserta yang menyaksikan melalui kanal YouTube. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, mahasiswa, praktisi kesehatan, hingga pemangku kebijakan yang memiliki perhatian terhadap pengembangan sistem penanggulangan bencana kesehatan.
Kegiatan dibuka oleh dr. Muhammad Alif Seswandhana selaku pembawa acara yang menyampaikan apresiasi atas partisipasi para peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut. Pengantar webinar kemudian disampaikan oleh Happy R. Pangaribuan, SKM., MPH., selaku Kepala Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM. Dalam pengantarnya, ia menegaskan bahwa Indonesia dapat disebut sebagai “laboratorium bencana” karena sering menghadapi berbagai jenis bencana, khususnya bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
Kondisi tersebut menuntut penguatan sistem manajemen bencana kesehatan yang didukung oleh kontribusi akademisi, peneliti, mahasiswa, serta pemangku kebijakan melalui penelitian maupun penyusunan policy brief untuk memperkaya kebijakan publik. Ia juga berharap diskusi dalam webinar ini dapat berlangsung interaktif sehingga peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga turut memberikan pandangan serta pertanyaan yang memperkaya pembahasan.
Pada sesi pemaparan materi, Madelina Ariani, SKM., MPH. menyampaikan topik mengenai eksplorasi peluang penelitian dalam manajemen bencana kesehatan. Ia menjelaskan bahwa perkembangan sistem manajemen bencana kesehatan di Indonesia mengalami beberapa fase penting. Sebelum tahun 2004, pendekatan yang dominan berfokus pada respons terhadap bencana.
Periode 2004 hingga 2018 kemudian menjadi fase transisi menuju pendekatan kesiapsiagaan yang lebih sistematis. Selanjutnya pada periode 2018 hingga 2022 terjadi penguatan sistem kesiapsiagaan yang lebih terstruktur, terutama setelah berbagai bencana besar seperti gempa bumi, tsunami, likuefaksi, dan erupsi gunung berapi. Memasuki periode pascapandemi Covid-19 sejak tahun 2023, pengembangan sistem bencana kesehatan semakin diarahkan pada pembangunan ketahanan sistem kesehatan.
Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya sistematis untuk memperkuat manajemen bencana kesehatan, termasuk melalui penyusunan regulasi dari tingkat nasional hingga daerah, pengembangan kurikulum kebencanaan kesehatan, penguatan sistem pelaporan bencana, serta penyusunan pedoman nasional. Upaya tersebut menunjukkan adanya kemajuan dalam kecepatan respons terhadap bencana jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, seperti yang terlihat dari perbandingan penanganan tsunami Aceh tahun 2004 dengan gempa bumi Mamuju tahun 2021.
Madelina Ariani juga menyoroti adanya kesenjangan antara praktik penanganan bencana dan publikasi ilmiah di Indonesia. Menurutnya, beberapa negara seperti Jepang dan Filipina telah lebih dahulu mengembangkan publikasi ilmiah terkait kesiapsiagaan bencana sehingga menjadi rujukan global. Oleh karena itu, penelitian di bidang manajemen bencana kesehatan perlu terus diperkuat dengan memperhatikan perencanaan penelitian, standar data, kepemilikan data, metode penelitian, serta aspek etika penelitian. Berbagai desain penelitian dapat digunakan, baik pendekatan kuantitatif maupun kualitatif, seperti cohort study, case control, maupun studi kasus.
Kegiatan ini juga mendukung pencapaian SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya penguatan sistem kesehatan dalam menghadapi bencana yang berdampak pada keselamatan masyarakat. SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan kapasitas akademik serta penelitian di bidang manajemen bencana kesehatan yang melibatkan mahasiswa dan peneliti. Sementara itu, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan tercermin dari kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan dalam membangun sistem manajemen bencana kesehatan yang lebih kuat dan berkelanjutan. (Kontributor: Alif Seswandhana).




