PKMK FK-KMK UGM Gelar Webinar Refleksi Sejarah Perjalanan FK-UGM dari Kampus di Pedalaman Menuju Institusi Kesehatan Berkelas Internasional

FK-KMK UGM. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM menyelenggarakan webinar seri ketiga dalam rangka refleksi sejarah perjalanan institusi dengan tema “Perjalanan FK-UGM antara tahun 1975 hingga 2000: Sebuah transisi dari sekolah kedokteran di pedalaman menjadi kampus internasional bidang kesehatan”. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah akademisi yang secara langsung mengalami proses transformasi institusi dan menjadi bagian dari perjalanan perkembangan pendidikan kedokteran di Universitas Gadjah Mada. Webinar dilaksanakan secara luring di Gedung Litbang FK-KMK UGM serta diikuti peserta secara daring melalui Zoom Meeting dengan dipandu oleh Aulia Putri Hijriyah, S.Sej. sebagai moderator. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi untuk menelusuri perjalanan panjang FK-UGM dalam membangun pendidikan kedokteran yang tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki kontribusi sosial yang kuat bagi masyarakat Indonesia.

Dalam pengantar kegiatan, Dr. Abdul Wahid, M.Hum., M.Phil. dari Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM menyampaikan bahwa webinar tersebut memiliki arti strategis dalam rangkaian peringatan 80 tahun FK-KMK UGM. Ia menekankan bahwa memahami sejarah institusi merupakan bagian penting untuk melihat perjalanan nilai, gagasan, dan kontribusi akademik yang telah dibangun selama puluhan tahun. Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa saat ini tim sejarah tengah menyusun buku mengenai perjalanan FK-KMK UGM dengan tema utama “Merajut Kedokteran dan Kesehatan Kerakyatan”. Tema ini dipilih karena FK-UGM sejak awal dikenal memiliki karakter khas dalam mengembangkan pendidikan kedokteran yang berpihak pada kebutuhan masyarakat luas. Menurut Wahid, pendekatan memoar para pelaku sejarah menjadi sumber penting dalam penulisan sejarah institusi karena dapat menghadirkan pengalaman personal yang sering kali tidak tercatat dalam dokumen resmi.

Sesi pemaparan pertama disampaikan oleh dr. Budiono Santoso Setradjaja, PhD., SpFK yang membagikan refleksi mengenai perjalanan FK-UGM dari masa keterbatasan menuju institusi pendidikan kesehatan yang berkembang pesat. Ia mengenang masa studinya di kompleks Mangkubumi dan Ngasem pada periode 1969–1975 ketika fasilitas pendidikan dan penelitian masih sangat terbatas. Namun kondisi tersebut justru membentuk semangat belajar dan daya juang yang kuat di kalangan sivitas akademika. Setelah menyelesaikan pendidikan dokter di UGM, Budiono melanjutkan studi doktoral di Newcastle University di Inggris sebelum kembali berkontribusi sebagai staf akademik di FK-UGM. Ia kemudian terlibat dalam pengembangan farmakologi klinis dan pernah berkarier di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Manila sebagai regional adviser di bidang informasi obat dan teknologi kesehatan.

Budiono juga menjelaskan bahwa transformasi FK-UGM berlangsung melalui proses panjang yang dimulai dari masa awal pendidikan kedokteran di Klaten pada akhir 1940-an. Perkembangan berikutnya terjadi ketika kegiatan akademik berpindah ke kawasan Karangmalang dan Sekip pada akhir 1960-an hingga 1980-an, yang menandai penguatan infrastruktur pendidikan dan penelitian. Memasuki pertengahan 1990-an, FK-UGM mulai memperluas jejaring kerja sama internasional serta meningkatkan kapasitas penelitian. Fase ini menjadi titik penting dalam transformasi fakultas dari institusi dengan sumber daya terbatas menjadi pusat pendidikan kesehatan yang mulai diakui secara internasional.

Sesi berikutnya menghadirkan Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc., PhD yang memaparkan refleksi mengenai pengembangan keilmuan serta ketahanan finansial fakultas. Dalam paparannya, ia memperkenalkan metafora “pendekatan toko kelontong” dalam pengelolaan institusi pendidikan tinggi. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan strategi pengembangan yang adaptif dan fleksibel melalui diversifikasi kegiatan akademik, penelitian, pelatihan, serta kerja sama. Menurutnya, pendekatan ini memungkinkan fakultas membangun ketahanan finansial sekaligus memperluas kontribusi akademik bagi masyarakat. Prof. Laksono juga menyoroti pentingnya benchmarking dengan universitas di Inggris yang telah lama menerapkan pengelolaan pendidikan tinggi yang inovatif dan mandiri.

Sebagai pembahas, Dr. Abdul Wahid menempatkan paparan kedua narasumber dalam perspektif sejarah institusi. Ia menegaskan bahwa pengalaman personal para akademisi merupakan bagian penting dari narasi perkembangan FK-UGM. Kisah tersebut menunjukkan bahwa transformasi institusi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya, tetapi juga oleh kepemimpinan akademik, jejaring kolaborasi, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan lingkungan pendidikan tinggi.

Kegiatan ini juga sejalan dengan komitmen terhadap SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui kontribusi FK-KMK UGM dalam pengembangan ilmu kesehatan yang mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan masyarakat. SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penguatan pendidikan kedokteran, penelitian, dan pengembangan kapasitas akademik yang berkelanjutan. Sementara itu, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan tercermin dari upaya memperluas jejaring kolaborasi internasional serta kerja sama lintas institusi dalam pengembangan pendidikan dan penelitian kesehatan. (Kontributor: Fadliana Rizki).