FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM menyelenggarakan Pasinaon Piwulang Luhur dengan judul “Ramadan Menjadikan Lebih Baik dan Semangat Belajar Ilmu Dunia dan Akhirat”, pada Rabu (11/3). Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka membekali diri dengan ilmu tepat di 10 hari terakhir bulan Ramadan. Selain itu, kegiatan ini diselenggarakan menggunakan platform Zoom dan diikuti oleh 108 peserta dari seluruh sivitas akademika FK-KMK UGM.
Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D, selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM. dr. Hamim menyampaikan bahwa, Pasinaon Piwulang Luhur ini diselenggarakan untuk membekali diri secara lahir dan batin dalam menghadapi akhir bulan Ramadan.
“Terima kasih kepada ustaz dr. Raehanul Bahraen atas kesediaan waktunya, semoga kegiatan ini memberikan manfaat bagi seluruh sivitas akademika FK-KMK UGM,” kata dr. Hamim.
Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi dari ustaz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK selaku dosen Universitas Mataram sekaligus Da’i Terstandarisasi MUI. dr. Raehanul menyampaikan bahwa, di bulan suci Ramadan ini merupakan bulan yang perlu dihadapi dengan banyak penyesuaian khususnya bagi para tenaga medis. Profesi tenaga kesehatan merupakan profesi pengabdian jangka panjang yang menjadi nilai ibadah secara berkelanjutan. dr. Raehanul menekankan bahwa, profesi tenaga kesehatan menjadi salah satu profesi yang paling mulia dalam mengemban amanah peradaban
“Jika kita mengutip hadits riwayat Imam Syafii ditegaskan bahwa ilmu yang paling berharga setelah halal dan haram ialah, ilmu yang berada di bidang kesehatan. Melalui hadis ini kita dapat belajar sebagai tenaga medis terkait kemuliaan profesi dan semoga dapat memberikan manfaat secara meluas,” kata dr. Raehanul
Selanjutnya, dr. Raehanul menjelaskan bahwa adaptasi diri baik jasmani dan rohani merupakan hal yang paling penting dalam menunjang kinerja di bulan Ramadan. Bagi dr. Raehanul bulan ini merupakan bulan untuk merefleksi diri dan kontrol diri dalam menghadapi dinamika profesi kesehatan yang kompleks. dr. Raehanul menekankan hal ini perlu dipersiapkan secara psikologis untuk menunjang kebermanfaatan secara luas khususnya dalam memberikan edukasi kepada umat
“Menurut hadis dhaif, puasa ini merupakan momentum untuk kesehatan hati dan mengembalikan kekuatan yang telah dirusak oleh syahwat. Hal ini menjadi penting untuk dipelajari khususnya bagi tenaga kesehatan agar manfaat ilmu dan pelayanan dapat berdampak secara meluas,” kata dr. Raehanul
Lebih lanjut, profesi tenaga kesehatan di bulan Ramadan ini mengalami fase untuk muhasabah diri terhadap ibadah dan tanggung jawab profesi. dr. Raehanul meyakini fase ini merupakan fase untuk membentuk karakter diri yang senantiasa sadar dalam pengawasan allah Swt.
“Adapun karakter yang sedang kita bentuk di bulan suci Ramadan ini ialah, etika medis, kejujuran ilmiah, empati kepada pasien, dan tanggung jawab profesional,” kata dr. Raehanul.
Kegiatan ini sejalan dengan komitmen pada Sustainable Development Goals (SDGs). Diantaranya, SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dengan menekankan pentingnya edukasi kesehatan baik sesama profesi tenaga kesehatan maupun masyarakat luas untuk membentuk karakter yang mulia; SDGs 8: Pekerjaan yang Layak dan Pertumbuhan Ekonomi dengan menekankan pentingnya penyesuaian kesejahteraan jasmani dan rohani bagi tenaga medis dalam memberikan pelayanan terhadap pasien. (Reporter/Tedy).



