FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Tirakatan dan Buka Puasa Bersama pada Kamis (26/2/2026). Kegiatan diselenggarakan di Atrium Gedung Radiopoetro FK-KMK UGM, dengan mengangkat tema “Refleksi Pendidikan Kedokteran dari Masa ke Masa”. Acara ini menjadi bagian dalam rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-80 FK-KMK UGM, HUT ke-44 RSUP Dr. Sardjito, HUT ke-98 RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, dan HUT ke-14 RS Akademik UGM.
Ketua Dies Natalis ke-80 FK-KMK UGM, Prof. dr. Retno Sutomo, Sp.A(K)., Ph.D., dalam sambutannya mengungkapkan bahwa tema yang diangkat akan memaparkan bagaimana perjalanan FK-KMK sejak awal dalam membangun fakultas hingga menjadi sekarang. “Hal-hal yang sudah baik kita lanjutkan, hal-hal yang belum optimal kita optimalkan, sehingga pada akhirnya fakultas dapat perjalan semakin langgeng dengan kemajuan semakin baik pada masanya,” harap Prof. Retno Sutomo.
Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D, FRSPH, turut mengungkapkan bahwa tirakatan bukan hanya sekadar tradisi tahunan, tetapi ruang refleksi jasa para pendahulu, meneguhkan jati diri, dan memperbarui komitmen FK-KMK UGM ke depan. “Tema ‘Refleksi Pendidikan Kedokteran dari Masa ke Masa’ mengajak kita untuk mengambil hikmah, menjaga integritas dari masa lalu, beradaptasi dengan tantangan masa kini, dan menyiapkan generasi masa depan,” ujar Prof. Yodi.
Memasuki sesi pemaparan materi yang dimoderatori oleh dr. Yoyo Suhoyo, M.Med.Ed. PhD, narasumber pertama, Prof. Dr. dr. Hardyanto Soebono, Sp.D.V.E, Subsp.D.T, memaparkan linimasa sejarah FK-KMK UGM yang terdiri atas periode Perguruan Tinggi Klaten, periode Mangkubumen, periode Sekip, hingga periode PTBH MN yang berubah menjadi PTN BH. “Tahun 2025, sudah ada 152 Fakultas Kedokteran di Indonesia. Kalau ke depan tidak ada kebijakan nasional tentang pemanfaatan dokter-dokter baru, kita tidak tahu generasi penerus kita akan menjadi apa,” ungkap Prof. Hardyanto.
Prof. Dr. dr. Ismail Setyopranoto, Sp.S(K) selaku narasumber kedua menambahkan, sejak berdiri pada 1946, FK UGM memiliki filosofi kedokteran kerakyatan yang bermakna orientasi pada kebutuhan masyarakat, fokus pada akses kesehatan yang merata, dokter sebagai agen perubahan sosial, serta pendekatan promotif dan preventif. Pada sejarah perjalanannya, FK UGM juga terlibat dalam pengembangan puskesmas, yakni terlibat dalam konsep pelayanan kesehatan primer, mendukung pendirian Puskesmas, melakukan pendekatan wilayah dan berbasis masyarakat, serta memberikan pelayanan yang komprehensif.
“FK UGM berkontribusi dalam kurikulum berbasis komunitas, melakukan kemitraan dengan Puskesmas, menerapkan pendidikan berbasis masalah kesehatan lokal, serta riset dan pengabdian masyarakat,” terang Prof. Ismail.
Sementara itu, narasumber ketiga, Prof. dr. Budi Mulyono, Sp.PK.(K).,MM., menerangkan tentang penerapan pembelajaran di FK UGM, seperti pembelajaran era Perkuliahan Terpimpin dan penerapan sistem kredit perkuliahan. Menurut Prof. Budi, pembelajaran di FK UGM sangat menekankan pada pembangunan karakter profesional dan integritas intelektual. Ia juga menyebut, komunikasi intra-generasi dan inter-generasi berkembang seiring berjalannya pendidikan di fakultas.
“Pengembangan kemampuan pribadi dilaksanakan terprogram dan pencapaian tergantung dengan dinamika individual. Harmoni fakultas dengan berbagai rumah sakit juga sangat mengesankan,” tutur Prof. Budi.
Setelah sesi pemaparan materi dari ketiga narasumber, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian ceramah agama oleh dr. Probosuseno, Sp.PD, KGer, SE, MM. Acara tirakatan ditutup dengan buka bersama seluruh sivitas akademika FK-KMK UGM yang hadir.
Tirakatan dan Buka Puasa Bersama yang diselenggarakan oleh FK-KMK UGM merupakan salah satu upaya fakultas dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan dan SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Melalui tema ini, FK-KMK UGM memberikan akses terhadap pendidikan kedokteran di FK-KMK UGM dari masa ke masa sekaligus menyediakan pangan dengan gizi seimbang berupa makanan buka puasa untuk para sivitas akademika. (Penulis: Citra/Humas).


