FK-KMK UGM Kembangkan Rumus Estimasi Tinggi Badan Berbasis Panjang Tulang Ulna untuk Populasi Dewasa Sleman

FK-KMK UGM. Tim Health and Demographic Surveillance System FK-KMK UGM menyelenggarakan pengembangan dan diseminasi inovasi metode estimasi tinggi badan orang dewasa berbasis panjang tulang ulna sebagai solusi atas keterbatasan pengukuran antropometri di lapangan. Inovasi ini dikembangkan untuk menjawab kebutuhan petugas kesehatan dan enumerator survei di wilayah Sleman yang kerap menghadapi kendala tidak tersedianya stadiometer, ruang sempit, maupun kondisi responden yang tidak memungkinkan berdiri tegak. Pengembangan rumus ini dilakukan berbasis analisis data HDSS Sleman siklus 9 tahun 2023 dan diperuntukkan bagi populasi dewasa, termasuk kelompok usia lanjut.

Di berbagai praktik layanan kesehatan dan kunjungan rumah, tinggi badan tetap menjadi variabel penting untuk menghitung indeks massa tubuh, menilai status gizi, serta memantau risiko penyakit kronis. Namun, standar pengukuran sering kali sulit diterapkan di lapangan. Berangkat dari kesenjangan tersebut, tim FK-KMK UGM menyusun formula lokal yang memanfaatkan panjang tulang ulna, usia, dan jenis kelamin sebagai prediktor tinggi badan. Berbagai studi internasional menunjukkan bahwa panjang ulna memiliki korelasi kuat dengan tinggi badan dan dapat diukur dalam posisi duduk atau berbaring menggunakan alat sederhana, sehingga lebih praktis dibandingkan proksi lain seperti tinggi lutut atau rentang lengan. Meski demikian, formula dari populasi luar negeri belum tentu sesuai dengan karakteristik etnis dan riwayat gizi masyarakat Indonesia, sehingga pendekatan berbasis data lokal menjadi krusial.

Analisis dilakukan terhadap 5.245 responden dewasa dengan data lengkap dari total 5.518 partisipan, menggunakan regresi linear berbobot survei yang memperhitungkan strata dan bobot sampel agar representatif terhadap populasi Kabupaten Sleman. Rata-rata tinggi badan responden tercatat 157,7 cm dengan panjang ulna 25,3 cm. Korelasi antara panjang ulna dan tinggi badan mencapai sekitar 0,79 dan tetap konsisten pada berbagai kelompok usia dan jenis kelamin. Dari beberapa model yang diuji, diperoleh rumus terbaik yaitu Tinggi badan dalam sentimeter sama dengan 99,943 ditambah 2,629 dikalikan panjang ulna dalam sentimeter, dikurangi 0,115 dikalikan usia dalam tahun, dan dikurangi 6,628 dikalikan jenis kelamin dengan kode 0 untuk laki-laki dan 1 untuk perempuan.

Interpretasi model menunjukkan bahwa setiap tambahan 1 cm panjang ulna meningkatkan estimasi tinggi badan sekitar 2,6 cm, sementara setiap pertambahan usia satu tahun menurunkan estimasi sekitar 0,1 cm. Perempuan dengan panjang ulna yang sama diprediksi sekitar 6,6 cm lebih pendek dibandingkan laki-laki. Validasi silang sepuluh lipatan menghasilkan nilai Mean Absolute Error sekitar 3,5 cm dan Root Mean Squared Error sekitar 4,5 cm, yang dinilai memadai untuk konteks survei populasi dan praktik klinis ketika pengukuran langsung tidak memungkinkan.

Penelitian ini sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan kualitas data kesehatan yang menjadi dasar pemantauan status gizi dan penyakit tidak menular, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara akademisi, tim surveilans, enumerator lapangan, dan pemangku kepentingan layanan kesehatan di Sleman dalam menghasilkan inovasi berbasis kebutuhan nyata masyarakat. (Kontributor: Septi Kurnia Lestari dan Wulan Febryana   Editor: Naufal Farah Azizah Dokumentasi: Rahayu Kia Sandi Cahaya Putri ).