Minggu, 9 Februari 2025. Pagi itu, suasana di Sanggar Seni Budaya (SSB) Tamansari dusun Sompok, Sriharjo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, lebih ramai dari biasanya. Puluhan atau bahkan ratusan warga berduyun-duyun mendatangi SSB Tamansari untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM). Kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai rangkaian acara dari Dies Natalis ke-79 FK-KMK UGM, HUT ke-43 RSUP Dr. Sardjito, HUT ke-97 RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, dan HUT ke-13 RS Akademik UGM.
Pemeriksaan kesehatan gratis itu bukan kali pertama dilakukan oleh FK-KMK UGM di Sompok. Program pengabdian masyarakat di Sompok telah dilakukan secara bertahap oleh tim Klaster Biomedis FK-KMK UGM sejak 2023, yang terdiri atas tenaga pendidik, mahasiswa, dan alumni Departemen Patologi Anatomik (PA), Anatomi, Biokimia, Farmakologi dan Terapi, Fisiologi, Histologi dan Biologi Sel, Mikrobiologi, Parasitologi, dan Patologi Klinik.
Koordinator Klaster Biomedis pada pengabdian masyarakat di Sompok, dr. Hanggoro Tri Rinonce, PhD, Sp.PA(K), mengungkapkan, pengabdian masyarakat FK-KMK UGM di Sompok bermula dari Guru Besar Farmakologi FK-KMK UGM, Prof. Dr. apt. Mustofa, M.Kes., yang berasal dari Sompok. Prof. Mustofa telah lebih dulu melakukan pengabdian masyarakat di daerahnya terkait gizi. Kemudian, pada Dies Natalis ke-76 FK-KMK UGM, kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan di Sompok.
Latar Belakang Pemilihan Dusun Sompok
Pada pengabdian masyarakat Kluster Biomedis pertama tahun 2023, dr. Hanggoro Tri Rinonce, PhD, Sp.PA(K) mengemban tanggung jawab sebagai Koordinator Klaster Biomedis. dr. Hanggoro dan tim memulai langkah pertama, yakni melakukan survei dan asesmen pemetaan masalah kesehatan di Sompok dari rumah ke rumah. Tim Kluster Biomedis mengidentifikasi dan memetakan masalah kesehatan utama serta kesulitan yang dihadapi kader kesehatan. Hingga akhirnya, dr. Hanggoro dan tim menemukan bahwa indikator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Sompok adalah yang paling rendah di antara dusun-dusun lainnya di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul.
Berbagai indikator yang diukur antara lain kualitas air, kebiasaan mencuci tangan, sumber daya manusia yang membantu proses kelahiran ibu—apakah dibantu oleh bidan atau dukun bayi, pemeriksaan balita, sanitasi, konsumsi sayur dan buah, aktivitas olahraga, perilaku merokok, hingga perkembangbiakan nyamuk. Dari berbagai indikator tersebut, tim Kluster Biomedis dapat mengetahui indikator yang paling rendah nilainya untuk menentukan permasalahan kesehatan di Sompok.
Hasilnya, berbagai permasalahan kesehatan terbesar yang ditemukan di Sompok adalah Penyakit Tidak Menular (PTM), meliputi hipertensi, diabetes, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, dan persentase otot skeletal yang rendah. Ada pula permasalahan perilaku merokok, gangguan kesehatan jiwa (cemas, depresi, PTSD), dan penyakit menular seperti leptospirosis yang ditemukan di sana.
“Di sana, anak SMP sudah mulai merokok. Ada juga permasalahan kesehatan jiwa, yang mana di sana ada tujuh Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Karena di sana banyak permasalahan kesehatan, kami memilih untuk melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Sompok,” kata dr. Hanggoro.
Jejak Langkah Persiapan Pengabdian
Setelah mengetahui permasalahan kesehatan di Sompok, langkah selanjutnya yang tim Kluster Biomedis lakukan adalah menemui Kepala Dusun Sompok dan beberapa perwakilan kader kesehatan Sompok untuk menyampaikan program pengabdian masyarakat yang akan dilakukan, serta mendiskusikan waktu pelaksanaan kegiatan. Menurut dr. Hanggoro, ada 11 kader kesehatan yang aktif di Sompok. Namun, kegiatan kesehatan yang aktif hanyalah Posyandu yang berfokus pada balita dan lansia.
“Di sana, Posyandu yang belum berjalan adalah kegiatan untuk remaja. Bapak-bapak dan remaja tidak tercakup dalam kegiatan Posyandu saat ini,” ungkap dosen Patologi Anatomik FK-KMK UGM tersebut.
Selain berkoordinasi dengan pihak dusun Sompok, tim Kluster Biomedis juga menemui pihak Puskesmas Imogiri II untuk mengoordinasikan kegiatan. Harapannya, terdapat sinergi antara FK-KMK UGM dan Puskesmas Imogiri II dalam kegiatan pengabdian masyarakat di Sompok. Saat kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan, Puskesmas Imogiri II turut mendapatkan pendataan baru terkait kondisi kesehatan warga Sompok.
“Jadi, tujuan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan pelibatan kader kesehatan dalam upaya preventif dan promotif di dusun Sompok, serta mengoptimalkan program pemetaan, pencegahan, dan penanganan penyakit. Sehingga, penyakit bisa dicegah sebelum terjadi,” jelas dr. Hanggoro.
Penyuluhan Kader hingga Pemeriksaan Kesehatan
Implementasi pengabdian masyarakat di Sompok mulai dilakukan pada awal 2024. Berbagai program dilakukan oleh tim Kluster Biomedis, berupa penyuluhan kader kesehatan, pelatihan kader kesehatan, dan penyuluhan masyarakat. dr. Hanggoro menyebut, kegiatan dilaksanakan setidaknya 3-4 kali dalam setahun. Penyuluhan kader kesehatan berfokus pada edukasi mengenai berbagai masalah utama yang ditemukan, khususnya PTM, melalui pertemuan-pertemuan kecil.
“Jika masalahnya stunting, kami mengajarkan bagaimana mengukur tinggi badan dan berat badan yang benar, komposisi makanan, dan nutrisi. Dari kami, Kluster Biomedis membagi menjadi kelompok-kelompok kecil, seperti dari Departemen Biokomia akan fokus memberikan penyuluhan tentang nutrisi. Jadi, setiap penyuluhan ada beberapa topik. Nantinya, kader menyampaikan edukasi tersebut ke warga saat pelaksanaan Posyandu balita dan lansia,” terang dr. Hanggoro.
Tim Kluster Biomedis juga setidaknya telah melaksanakan tiga kali pemeriksaan kesehatan pada warga Sompok dalam skala besar. dr. Hanggoro mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan perangkat dusun Sompok mengumpulkan warga di SSB Tamansari untuk melakukan pemeriksaan kesehatan terkait PTM dan konseling hasil pemeriksaan.
“Meskipun peningkatan kualitas kesehatan warga belum begitu nampak, tetapi pengetahuan warga dan kader jelas meningkat,” ujar dr. Hanggoro.
Misi Pengabdian Tahun 2025 untuk Pembangunan Berkelanjutan
Upaya promotif dan preventif terkait PTM di dusun Sompok telah dilaksanakan sepanjang 2024. Pada 2025, program pengabdian tim Kluster Biomedis akan berfokus pada penanganan perilaku merokok, gangguan kesehatan jiwa, dan leptospirosis. Pada program penanganan perilaku merokok, sasaran akan berfokus pada anak remaja. Rencananya, tim Kluster Biomedis akan bekerja sama dengan Quit Tobacco Indonesia—bagian dari Quit Tobacco Internasional yang berfokus pada program pengendalian tembakau di Indonesia serta berada di bawah Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan FK-KMK UGM—untuk hadir di berbagai Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Sompok dan mengedukasi para siswa terkait bahaya merokok. Menurut dr. Hanggoro, mengedukasi para remaja yang sedang dalam tahap perkembangan lebih mudah dilakukan untuk mendukung perilaku berhenti merokok.
Upaya promotif akan dilakukan dengan pemeriksaan fungsi dan kesehatan paru-paru menggunakan respirometer. Melalui alat tersebut, para remaja dapat mengetahui kondisi kesehatan paru-paru mereka dan dapat mendeteksi penggunaan rokok pada masing-masing individu. “Kalau dia (remaja) ketahuan merokok dan fungsi paru-parunya lebih buruk dari teman-temannya, mungkin akan ada kesadaran untuk berhenti merokok,” kata dr. Hanggoro.
Tak hanya itu, Koordinator Klaster Biomedis Pengabdian Masyarakat FK-KMK UGM itu mengemukakan, timnya juga akan melakukan penyuluhan terkait bahaya merokok, zat-zat yang dapat menyebabkan beberapa penyakit, pengukuran tekanan darah tinggi, Hb, tinggi badan, hingga kadar CO dalam paru-paru. Terkait program penanganan gangguan kesehatan jiwa, tim Kluster Biomedis akan kembali melakukan penyuluhan kepada kader kesehatan.
Sementara itu, program penanganan leptospirosis berakar pada sanitasi di Sompok yang kurang memadai. dr. Hanggoro mengungkapkan, terdapat kebiasaan warga dalam membuang limbah domestik di selokan. “Apabila hujan, sampah akan menggenang. Itu yang membuat risiko leptospirosis, sehingga perlu dicoba untuk dilakukan pemeriksaan, apakah kasus leptospirosis memang tinggi atau tidak,” ujar dr. Hanggoro.
Dengan berbagai program pengabdian masyarakat yang akan diimplementasikan pada 2025, dr. Hanggoro mengatakan, FK-KMK UGM terus berupaya untuk mendukung Pembangunan Berkelanjutan yang berfokus pada kesejahteraan dan kemandirian di bidang kesehatan.
“Nantinya, kader dan warga punya pengetahuan yang cukup terkait kesehatan, sehingga mereka bisa mandiri dalam mengupayakan kesehatan mereka, mulai dari upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif,” tutupnya. (Penulis: Citra Agusta Putri Anastasia. Editor: Supriyati)