FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) turut serta dalam forum diskusi strategis mengenai Indonesia’s Health System Transformation yang diselenggarakan pada 5 Juli 2025. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian sesi paralel yang menghadirkan para pemangku kepentingan penting, termasuk Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, serta Asian Development Bank (ADB). Forum ini menggali secara mendalam bagaimana pandemi COVID-19 menjadi pemicu bagi reformasi menyeluruh terhadap sistem kesehatan Indonesia.
Dalam pembukaan, Wakil Presiden ADB Scott Morris menyoroti keberanian Indonesia dalam merespons krisis melalui agenda transformasi sistem kesehatan yang dibangun di atas enam pilar strategis. Meskipun menghadapi tantangan sosial, geografis, dan ekonomi yang besar, Indonesia dinilai mampu membentuk langkah reformasi yang ambisius.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, menekankan bahwa pandemi memberikan momentum untuk membangun sistem kesehatan nasional yang lebih tangguh dan adaptif. Enam pilar yang menjadi fondasi transformasi ini meliputi perbaikan layanan primer dan rujukan, ketahanan sistem, pembiayaan kesehatan, penguatan SDM, serta adopsi teknologi. Ia juga menjelaskan bahwa revitalisasi lebih dari 10.000 Puskesmas kini didukung oleh pendekatan life-cycle dan digitalisasi penuh, termasuk kolaborasi dengan inisiatif konektivitas satelit untuk menjangkau daerah terpencil.
Pada sesi panel diskusi, para pembicara menyampaikan berbagai strategi kunci untuk mendukung agenda reformasi. Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI, Maria Endang Sumiwi, menggarisbawahi pentingnya transisi dari pendekatan kuratif ke preventif melalui program seperti Birthday Checkup. Murti Utami, Plt. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, menyoroti fokus pada penyakit prioritas seperti tuberkulosis dan kanker. Sementara itu, Prof. Ali Ghufron Mukti dari BPJS Kesehatan menekankan perlunya memperkuat pembiayaan komunitas, termasuk integrasi dengan sumber pendanaan seperti zakat.
Penutupan sesi dilakukan oleh Eduardo Banzon dari ADB yang menekankan pentingnya meninggalkan pola kerja sektoral yang terfragmentasi. Ia menegaskan bahwa transformasi sistem kesehatan nasional hanya dapat tercapai melalui pendekatan lintas sektor dan kolaboratif.
Keterlibatan FK-KMK UGM dalam forum ini mencerminkan komitmen akademisi dalam memperkuat sistem kesehatan nasional melalui sinergi dengan para pemangku kepentingan. Forum ini juga menjadi bukti nyata kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan layanan kesehatan masyarakat, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi lintas institusi untuk mewujudkan transformasi sistem kesehatan yang inklusif dan berkelanjutan. (Kontributor: dr Ichlasul Amalia).




