Kesehatan mental menjadi sesuatu yang penting bagi kesejahteraan masyarakat. Tekanan akademik, ekspektasi sosial, hingga pengaruh media digital membuat banyak individu, terutama remaja dan mahasiswa, berjuang untuk tetap nyaman dalam kesehariannya. Di usia yang seharusnya menjadi masa eksplorasi dan pertumbuhan, tidak sedikit yang justru bergulat dengan kecemasan, kehilangan arah, bahkan rasa tidak percaya diri terhadap dirinya sendiri.
Fenomena tersebut tidak boleh diabaikan. Berbagai kasus menunjukkan meningkatnya angka stres dan gangguan perilaku pada remaja, yang kemudian menjalar ke usia mahasiswa. Di ruang-ruang kelas dan kampus, kelelahan mental sering kali tersembunyi di balik prestasi dan senyuman. Di sinilah salah satu peran yang diharapkan dari Fakultas Kedokteran untuk mendampingi agar risiko kesehatan mental dapat ditangani dengan baik.
Menurut dr. Winengku Basuki Adi, M.Med.Sc., Sp.KJ, yang merupakan residen Program Studi Ilmu Kedokteran Jiwa FK-KMK UGM, kesehatan mental tidak dapat ditangani dengan sekadar memberikan materi ajar maupun seminar. Beliau menambahkan bahwa kegiatan intervensi yang dilakukan dalam rangka pengabdian kepada masyarakat dengan target yang sudah ditentukan menjadi kunci penting dalam penanganan kesehatan mental.
“Pengabdian kepada masyarakat ini seperti wadah bagi tenaga medis untuk belajar, tidak hanya terkait keilmuannya saja. Tetapi belajar tentang empati, komunikasi, dan pendampingan.”
Berfokus pada Kesehatan Mental Remaja
Sejak tahun 2023, dr. Winengku aktif terlibat dalam serangkaian kegiatan pengabdian masyarakat yang berfokus pada skrining dan edukasi kesehatan mental remaja, bekerja sama dengan berbagai instansi dan sekolah di Yogyakarta. Melalui kegiatan itu, ia berupaya menanamkan kesadaran bahwa menjaga kewarasan adalah bagian tak terpisahkan dari menjaga kesehatan. Bahkan, WHO telah menegaskan bahwa “There is no health without mental health”.
“Kami melakukan skrining kesehatan mental remaja, bekerja sama dengan beberapa departemen di FK-KMK UGM seperti Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa dan Departemen Ilmu Kesehatan Anak. Kami ingin membantu mereka memahami bahwa stres bukan hal tabu, dan meminta bantuan bukan tanda lemah,” tutur dr. Winengku.
Kegiatan itu berlanjut di tahun 2024. Bersama tim dari FK-KMK UGM, dr. Winengku terlibat dalam penyusunan modul edukasi kesehatan mental remaja di SMA Negeri 6 Yogyakarta. Modul tersebut tidak hanya berisi materi tentang kesehatan mental, tetapi juga membahas edukasi seksual dan nutrisi remaja. Modul itu dirancang untuk mudah dipahami dan diterapkan oleh siswa maupun guru pendamping; dan mendapatkan dukungan hibah dana masyarakat dari FK-KMK UGM.
“Modul dikembangkan dengan Isi yang relevan dengan kehidupan mereka. Dua materi yang saya tulis adalah tentang kesehatan mental remaja dan dukungan sosial dari teman sebaya. Intervensi yang kami kembangkan tidak hanya menuntut siswa untuk mendengarkan. Namun siswa dituntut untuk aktif terlibat dalam kegiatan ini dengan membuat video kampanye yang kemudian diunggah di media sosial. Selanjutnya, kami memberikan apresiasi dari karya-karya terbaik mereka.”
Kini, modul tersebut telah mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan masih digunakan hingga hari ini di SMA 6 Yogyakarta. Menurut dr. Winengku, modul tersebut diharapkan menjadi edukasi kesehatan mental bagi remaja secara berkelanjutan. Sehingga dapat dilakukan dengan pendekatan kreatif dan empatik.
Mengidentifikasi Keresahan Remaja
Melalui interaksi dengan para siswa, dr. Winengku menyadari bahwa persoalan kesehatan mental di kalangan remaja bukan sekadar fenomena media sosial. Banyak di antara mereka yang diam-diam memendam beban. “Ada remaja yang menanggung tekanan akademik tinggi, ada yang mengalami perundungan, ada juga yang kehilangan komunikasi yang berkualitas dengan keluarga.”
Situasi semacam itu sering membuat remaja menarik diri, malas bersekolah, atau kehilangan motivasi. Karena itu, skrining awal di sekolah menjadi langkah penting. dr. Winengku pernah bekerja sama dengan puskesmas Gondokusuman menyebarkan kuesioner kepada siswa-siswa di sekolah binaan dengan tujuan untuk melakukan pemetaan terkait kesehatan mental di sekolah.
“Kami dulu juga melakukan pelatihan di Puskesmas Gondokusuman untuk dokter dan psikolog agar dapat mendeteksi gangguan perilaku dan emosi lebih dini di sekolah binaan. Tujuannya agar puskesmas bisa menindaklanjuti hasil kuesioner tersebut.”
Tantangan Kesehatan Mental di Kampus
Beralih ke pendidikan di kampus, masalah kesehatan mental juga erat dengan mahasiswa. Berdasarkan pengalamannya, dr. Winengku melihat bahwa mahasiswa kedokteran justru termasuk kelompok yang rentan secara mental. Tekanan akademik yang tinggi, jadwal padat, dan ekspektasi besar sering kali membuat mereka kehilangan keseimbangan.
“Mahasiswa kedokteran itu tahu tanda-tanda stres, tapi justru mereka paling sulit mengakuinya. Apalagi di tahun-tahun awal kuliah, ketika adaptasi belum sempurna. Mereka sibuk, kadang tidak punya waktu istirahat, dan sulit menemukan ruang aman untuk berbicara.”
Ia menjelaskan bahwa ada banyak faktor yang memengaruhi kondisi mental mahasiswa. Faktor pertama adalah lingkungan terdekat, terutama keluarga. Dukungan emosional dari rumah dapat menjadi pelindung kuat dari tekanan kampus. “Kalau mahasiswa punya keluarga yang mau mendengar, biasanya lebih kuat. Tapi banyak juga yang merasa tidak didengarkan, atau sejak kecil tidak terbiasa terbuka dengan orang tua. Akibatnya, mereka menanggung semuanya sendiri.”
Faktor kedua adalah pengalaman sosial di sekolah atau kampus. Perundungan, konflik dengan teman, atau rasa terisolasi dapat menjadi pemicu stres jangka panjang. “Kalau semua dipendam, lama-lama menjadi permasalahan yang sangat besar,” terang dr. Winengku.
Fasilitas dan Dukungan di FK-KMK UGM
Kesadaran pentingnya kesehatan mental ini direspons serius oleh FK-KMK UGM. Di lingkungan fakultas, tersedia berbagai fasilitas konseling dan dukungan psikologis yang mudah diakses. Informasi tentang layanan tersebut terpampang di tempat-tempat strategis. Mulai dari papan pengumuman hingga lift fakultas. Mahasiswa dapat berkonsultasi secara anonim atau langsung dengan psikolog dan dosen pendamping.
“Kalau mahasiswa merasa tidak baik-baik saja, mereka bisa memanfaatkan layanan konseling tanpa harus takut dihakimi. Bahkan kalau masih ragu, mereka bisa mulai dari Dosen Pembimbing Akademik (DPA). DPA berperan penting untuk menghubungkan mahasiswa dengan pihak yang bisa membantu seperti pelayanan di kampus,” jelas dr. Winengku.
Selain itu, FK-KMK juga memiliki teman sebaya kesehatan mental yang disebut dengan teman baik FK-KMK. Teman baik ini berasal dari mahasiswa yang sudah mendapat pembekalan dan siap menjadi “teman curhat” bagi mahasiswa lainnya. Teman baik FK-KMK ini seperti first aider kesehatan mental, yang juga akan menghubungkan ke pihak lain (profesional) jika diperlukan.
Sejak awal perkuliahan, FK-KMK UGM juga melibatkan orang tua mahasiswa dalam proses adaptasi. Mereka diundang untuk mendapatkan edukasi tentang tantangan akademik dan fasilitas dukungan yang tersedia, agar bisa turut berperan menjaga kondisi mental anak. Selain itu, tersedia pula hotline pelaporan perundungan dan layanan khusus untuk konsultasi psikologis gratis.
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM juga menekankan peran teman sebaya. Menurut dr. Winengku, mahasiswa kedokteran punya kepekaan tinggi terhadap perubahan perilaku teman-temannya. “Kalau melihat teman tiba-tiba sering absen, tampak murung, atau kehilangan minat, seharusnya kita tidak diam saja,” katanya. “Cukup sapa, tanyakan kabar, ajak ngobrol. Kadang itu saja sudah bisa menyelamatkan seseorang.”
Menumbuhkan Empati di Dunia Akademik
Di FK-KMK UGM, sistem pendampingan dosen dan layanan psikologi bekerja saling melengkapi. Ketika ada mahasiswa yang tampak menurun performa akademiknya, DPA biasanya akan melakukan pendekatan personal. Jika diperlukan, mahasiswa akan diarahkan untuk konsultasi ke konselor psikologi FK-KMK, Gadjah Mada Medical Center (GMC) atau layanan profesional lainnya.
Yang terpenting, kata dr. Winengku, adalah mendengarkan tanpa menghakimi. “Kadang mahasiswa hanya butuh tempat aman untuk didengar. Dari situ baru kita bisa tahu apakah dia perlu pendampingan lebih lanjut.”
Beliau menambahkan bahwa waktu terbaik untuk mencari bantuan bagi korban kesehatan mental bukan ketika keadaan sudah berat. “Jangan menunggu sampai tidak bisa berfungsi dengan baik. Begitu merasa ada yang berbeda, lebih mudah marah, sulit tidur, atau kehilangan minat, itu sudah saatnya bicara dengan seseorang.”
Berdasarkan pengalaman dalam pengabdian kepada masyarakat maupun pendidikan di kampus, dr. Winengku meyakini bahwa kesehatan mental adalah fondasi keberhasilan pendidikan kedokteran. Tanpa empati, ilmu medis kehilangan makna. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini juga menjadikan para residen dapat belajar tentang kehidupan sosial masyarakat yang membentuk kesehatan seseorang.
“Kalau ada dana atau kesempatan lagi, saya pasti ingin ikut lagi (pengabdian kepada masyarakat). Mungkin bukan sebagai ketua, karena sekarang fokus pendidikan lanjut, tapi tetap dalam tema yang sama: kesehatan mental remaja,” pungkas dr. Winengku dalam wawancaranya. (Penulis: Nasirullah Sitam. Narasumber: dr. Winengku Basuki Adi, M.Med.Sc., Sp.KJ. Editor: Supriyati)