Sinergi Tim EMT AHS UGM Pulihkan Ekosistem Pelayanan Penunjang dan Infrastruktur Vital RSUD Muchtar Hasbi, Aceh Utara

FK-KMK UGM. Keberhasilan penanganan darurat kesehatan dalam bencana banjir di Aceh Utara tidak hanya ditentukan oleh layanan medis di garda terdepan, tetapi juga oleh ketahanan infrastruktur pendukungnya. Melalui penugasan bertahap Tim Emergency Medical Team (EMT) Batch 1 hingga Batch 5 dari Academic Health System (AHS) UGM, fokus utama pada pemulihan fungsionalitas RSUD Muchtar Hasbi yang sempat lumpuh. Kegiatan ini tidak terlepas dari koordinasi ketat melalui Health Emergency Operation Center (HEOC) untuk memastikan bahwa intervensi teknis yang dilakukan sesuai dengan gambaran situasi di lapangan, di mana gangguan listrik, air bersih, serta rusaknya akses jalan menjadi hambatan utama dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

Sejak keberangkatan tim pertama pada 2 Desember 2025, prioritas utama adalah mengatasi krisis energi dan sanitasi. Tim berhasil menyelesaikan perbaikan genset rumah sakit hingga dapat dipergunakan kembali sebagai sumber daya cadangan yang vital. Di sektor sanitasi, langkah strategis dilakukan dengan memperbaiki sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang tercatat sudah tidak operasional selama lima tahun terakhir. Keberhasilan menghidupkan kembali sistem IPAL ini menjadi hal penting dalam menjaga standar kesehatan lingkungan rumah sakit, mencegah pencemaran wilayah sekitar, serta memastikan operasional rumah sakit berjalan sesuai protokol keamanan lingkungan yang berkelanjutan.

Dalam hal ketersediaan air bersih, tim secara konsisten berkoordinasi dengan PDAM untuk menjamin pasokan sebanyak 5.000 liter per hari. Dukungan ini diperkuat dengan perbaikan sistem distribusi air internal, meliputi perbaikan instalasi pipa, Water Level Control, hingga peningkatan kapasitas toren penyimpanan dari 5.000 liter menjadi 15.000 liter. Upaya ini membuahkan hasil signifikan dengan terpenuhinya kebutuhan air bersih yang stabil untuk ruang rawat inap, Instalasi Gawat Darurat (IGD), serta kebutuhan operasional petugas medis, yang sebelumnya sangat terbatas akibat dampak bencana.

Selain infrastruktur teknis, tim penunjang juga melakukan pembenahan kesehatan lingkungan yang menyeluruh. Di tengah kondisi sanitasi buruk di wilayah sekitar, tim melakukan pembersihan lingkungan rumah sakit, pengendalian populasi lalat, hingga perbaikan cold storage di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) limbah B3. Langkah-langkah ini diambil untuk menekan risiko infeksi nosokomial dan menjaga sterilitas area pelayanan medis. Dukungan operasional ini mencakup pemenuhan kebutuhan dasar rumah sakit agar siap melayani masyarakat kembali secara normal di tengah tantangan akses wilayah yang masih berlumpur dan rusak berat.

Perkembangan terkini menunjukkan bahwa listrik, air bersih, dan jaringan seluler di RSUD Muchtar Hasbi kini telah stabil. Meskipun demikian, laporan tim menegaskan bahwa kebutuhan prioritas tetap berfokus pada dukungan berkelanjutan untuk aspek sanitasi dan Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit (IPSRS), serta penguatan tenaga kesehatan lingkungan. Pengalaman dari Batch 1 hingga 5 ini membuktikan bahwa edukasi gizi dan sanitasi lapangan harus berjalan beriringan dengan perbaikan fisik infrastruktur guna menciptakan resiliensi sistem kesehatan yang mampu bertahan dalam jangka panjang menghadapi ancaman bencana serupa di masa depan.

Kegiatan ini berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yaitu SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pemulihan layanan kesehatan esensial; SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui implementasi pembelajaran berbasis pengabdian yang meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam manajemen bencana; SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak melalui aktivasi kembali IPAL dan sistem air bersih; serta SDG 17: Kemitraan untuk mencapai tujuan melalui kolaborasi strategis antara AHS UGM, pemerintah daerah, PLN, dan PDAM dalam merespons krisis secara terpadu. (Kontributor: Dea Wahyu Lestyarini)