Residen Anestesi FK-KMK Mengabdi di Papua Melalui Program AHS Afirmatif

Residen Anestesiologi dan Terapi Intensif FK-KMK UGM menjalani stase  di Rumah Sakit Dok 2 Jayapura. Stase ini merupakan Program Afirmatif dari Academic Health System (AHS) FK-KMK UGM yang bertujuan untuk membina pemerataan mutu pendidikan dan tenaga medis anestesiologi di Jayapura. Program yang relatif baru ini diikuti oleh 3 orang residen, diantaranya dr. Sondi Valentinus Lumban Batu, dr. Ulfah Sya’diah Madamar, dan dr. Yusuf Rimbiak. Ketiga dokter tersebut merupakan putra daerah Papua yang sedang menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis di UGM. 

Prof. dr. Yunita Widyastuti, M.Kes., Sp.An-TI., Subsp.An.Ped(K)., Ph.D selaku Kepala Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FK-KMK UGM turut menjelaskan bahwa stase ini merupakan bentuk kerja sama antara Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Cenderawasih (UNCEN) dalam meningkatkan kualitas pendidikan dokter di tanah Papua. UGM disini mendapatkan tanggung jawab sebagai fasilitator yang bertugas membina UNCEN untuk menjalani persiapan pembukaan program studi dokter spesialis anestesi.

Prof. Yunita menjelaskan, stase ini memiliki tujuan mulia membantu memeratakan tenaga medis di Indonesia. Selama di sana, residen juga diharapkan dapat memberikan pelayanan terbaik dan kelak setelah lulus dapat kembali kesana dan mengajar di prodi anestesi yang hendak didirikan FK UNCEN.

Stase di Papua ini turut didukung oleh pendanaan Pemerintah Daerah Papua. UGM melalui program AHS Afirmatif ini memberikan kesempatan kepada putra daerah Papua yang memiliki semangat untuk mengabdi di daerahnya. Keberadaan ketiga residen tersebut diharapkan  dapat merespon dengan cepat perkembangan kasus-kasus medis yang ada disana. Mengingat kasus medis di dunia kedokteran sangat kompleks, dokter harus mampu mengenal pola hidup masyarakat supaya dapat menangani kasus secara cepat.

Persiapan Pengiriman Residen Melalui  Supervisi 

Untuk mendukung program AHS Afirmatif, Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FK-KMK UGM terlebih dahulu  mengirimkan perwakilannya, yaitu dr. Bhirowo Yudo Pratomo, Sp.An., KAKV dan dr. Djayanti Sari, M.Kes., Sp.An untuk mensupervisi Rumah Sakit Dok 2 Jayapura yang akan digunakan sebagai lokasi stase residen anestesi. Selain itu, rombongan ini turut melakukan visitasi untuk meninjau fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan yang kelak akan menunjang pendidikan dokter spesialis. 

Dari visitasi ini didapatkan temuan bahwa Universitas Cenderawasih sebagai bakal calon penyelenggara Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) masih belum memiliki kesiapan secara fasilitas pendidikan. Kemudian, Rumah Sakit Dok 2 Jayapura selaku mitra universitas justru masih kekurangan dokter spesialis khususnya di bidang anestesi. Temuan ini turut dipertegas Prof. Yunita yang menjelaskan bahwa jumlah dokter di lokasi tersebut baru tersedia 4 orang. Namun, dalam bertugas medis, hanya 2 dokter spesialis yang bersedia. Sedangkan, 2 dokter sisanya masih menjalani tugas belajar. 

Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 93/E/KPT/2020 dijelaskan bahwa universitas dapat membuka Program Studi Dokter Spesialis (PPDS) dengan memiliki tenaga dosen minimal 5 orang yang terdiri dari 3 dokter subspesialis dan sisanya dokter spesialis yang memiliki pengalaman kerja paling sedikit 5 tahun di bidang peminatan yang setara.  Mengacu pada dasar hukum tersebut maka Universitas Cenderawasih masih terkendala untuk mendirikan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) khususnya anestesi.

Melalui program AHS Afirmasi ini, residen anestesi yang merupakan putra daerah diharapkan dapat membantu mengatasi krisis tenaga kesehatan saat ini dan kelak setelah lulus dapat menunjang penyelenggaraan pendidikan disana. Selain itu, dengan adanya kasus-kasus medis yang berbeda dengan kasus-kasus di Jawa, residen anestesi diharapkan dapat belajar lebih banyak sambil memberikan kontribusi nyata dengan memberikan pelayanan kesehatan terbaik. Menurut Prof. Yunita, karena residen-residen  ini sudah cukup familiar dengan budaya di Papua diharapkan mereka dapat lebih responsif terhadap temuan-temuan kasus medis yang kompleks.

Persiapan dan Pembekalan Residen Sebelum Menjalani Stase

Residen anestesi yang menjalani stase di Papua merupakan residen tingkat madya yaitu, residen semester 4. Sejak Juli 2025 para residen ini menjalani stase dan membantu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Dok 2 Jayapura selama 1 tahun. Sebelumnya, Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif melakukan pembekalan akademik dengan memberikan pemahaman dasar materi ilmu anestesi untuk kemudian diuji.  Selain itu, residen anestesi ini diwajibkan juga untuk menjalani kegiatan di Rumah Sakit Umum Pusat dr. Sarjito untuk mempelajari dan mengenal kasus-kasus medis sebelum terjun ke lapangan langsung. 

 Prof. Yunita menambahkan, walaupun residen ini merupakan putra daerah, mereka tetap dipersiapkan secara profesional dengan diperkenalkan budaya akademik FK-KMK UGM terlebih dahulu sebelum bertugas. Prof. Yunita berharap pembekalan dan pendampingan yang diberikan oleh Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif dapat memberikan preferensi pembelajaran dan budaya akademik yang kelak ditularkan di Papua. Melibatkan calon dosen dan dokter sebagai tenaga pengajar sangatlah penting dalam mempersiapkan pendirian program PPDS Anestesiologi dan Terapi di FK UNCEN. Berbagai upaya ini adalah bagian dari peningkatan kualitas tenaga kesehatan dan pemerataan pelayanan kesehatan yang layak di Papua. 

[Penulis: Tedy Aprilianto, Narasumber: Prof. dr. Yunita Widyastuti, M.Kes., Sp.An-TI., Subsp.An.Ped(K)., Ph.D]