Perjalanan Sistem Kesehatan Akademik UGM: Menguatkan Layanan Kesehatan untuk Indonesia

Di tengah tantangan dunia kesehatan yang semakin kompleks, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM terus berupaya menghadirkan solusi yang berkelanjutan. Melalui Sistem Kesehatan Akademik (Academic Health System – AHS), UGM menginisiasi kolaborasi erat antara institusi pendidikan, rumah sakit, dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas kesehatan di wilayah jangkauan. Sistem Kesehatan Akademik merupakan wadah sinergi lintas sektor yang dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Kolaborasi ini menargetkan cakupan wilayah luas, dengan misi utama meningkatkan derajat kesehatan melalui prioritas-prioritas strategis yang disepakati bersama.

Sejak awal, AHS UGM mempunyai lima tujuan utama yang sudah dipetakan dengan baik. Pertama, meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui penguatan layanan yang berkualitas. Kedua, menghasilkan lulusan tenaga kesehatan yang adaptif, inovatif, dan mampu menjadi pelopor perubahan. Ketiga, melahirkan penelitian kesehatan kolaboratif yang menjadi rujukan nasional maupun internasional. Keempat, memperkuat kualitas SDM di lingkup AHS. Kelima atau terakhir untuk mengembangkan sistem informasi kesehatan yang terintegrasi.

Sepanjang perjalanan, proses untuk merealisasikan target tujuan AHS UGM tidak mudah. Berbagai tantangan harus bisa diselesaikan dengan baik. Adanya kesenjangan akses layanan, keterbatasan tenaga medis, hingga kebutuhan riset yang lebih relevan menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Tantangan ini kemudian dipetakan agar menjadi peluang dalam berinovasi.

Pada pertemuan dengan jejaring AHS dalam Forum Komunikasi Rumah Sakit Jejaring FK-KMK UGM yang diselenggarakan pada 01 Agustus 2025 di Ruang Rapat 1.1 Gedung Pusat FK-KMK UGM, Dr. dr. Sudadi Sp.An., KNA., KAR. selaku Ketua AHS UGM memaparkan laporan kegiatan Triwulan II AHS yang sudah dilakukan dan masih berjalan, serta menyampaikan kembali Renstra AHS Tahun 2025.

“Kita mempunyai tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan bermutu dengan penguatan prioritas. Beberapa waktu yang lalu, kami (AHS) pernah mengundang bapak-ibu para jejaring untuk menentukan tema prioritas. Kemudian tema-tema tersebut kami tuangkan dalam Renstra AHS UGM,” terang dr. Sudadi.

Empat Prioritas Program Utama Sistem Kesehatan Akademik UGM

dr. Sudadi menerangkan secara spesifik prioritas program utama AHS UGM yang sudah dirumuskan dalam Renstra berdasarkan kebutuhan di lapangan, khususnya untuk kesehatan masyarakat Indonesia. “Ada empat prioritas yang kita petakan sesuai dengan program AHS. Mulai dari Menua dengan Sehat, Program Kesehatan Ibu dan Anak, Tanggap Darurat Bencana Kesehatan, serta Kesehatan Pariwisata (Health Tourism).”

Keempat program ini sudah dijalankan sejak awal tahun 2025. Program Menua Sehat difokuskan pada peningkatan kualitas hidup lansia, mulai dari edukasi kesehatan, skrining penyakit degeneratif, hingga layanan pendampingan. Hal ini berkaitan dengan data jumlah penduduk lanjut usia di wilayah ini cukup tinggi. Hal yang sama dilakukan pada program Kesehatan Ibu dan Anak. Berbagai program edukasi dan intervensi kesehatan telah berulang kali dilakukan, dengan harapan angka stunting dapat terus ditekan.

Pada program Tanggap Darurat Bencana Kesehatan, AHS UGM telah melatih tenaga cadangan kesehatan di beberapa rumah sakit, seperti RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro, RSUD Wates, dan RSA UGM. “Dalam waktu dekat, akan dibentuk Emergency Medical Team (EMT) yang siap diterjunkan ketika bencana terjadi. Sehingga dalam situasi tertentu, kita bisa mengirimkan tenaga kesehatan untuk membantu. Selain itu, kita juga melakukan pelatihan untuk masyarakat di kawasan wisata, karena Yogyakarta merupakan salah satu kota tujuan wisata di Indonesia,” terang. dr Sudadi.

Ditambahkan oleh dr. Sudadi, program keempat adalah Health Tourism. Sistem Kesehatan Akademik UGM mulai membangun Health Tourism Board untuk mengembangkan wisata kesehatan di Yogyakarta. Beberapa rumah sakit seperti RSUP Dr. Sardjito, RSA UGM, dan RS Bethesda telah bersertifikasi health tourism, dan upaya ini diharapkan meluas hingga Jawa Tengah. Disampaikan oleh dr. Sudadi bahwa pada tanggal 29 Juli 2025 sudah diresmikan board-nya yang berkaitan dengan Health Tourism Board.

“Jika kita menilik board yang ada di Bali ataupun Malang, di situ sudah ada berbagai fitur seperti akses pelayanannya, tarifnya dan lainnya. Di Yogyakarta, kita juga merangkul para pelaku wisata untuk membuat program ini,” ujar dr. Sudadi.

Pengembangan Big Data untuk Penelitian

Tidak hanya empat program prioritas, AHS UGM juga melaksanakan berbagai kegiatan yang selaras dengan Renstra AHS 2025. Salah satunya adalah Penguatan Kompetensi SDM dan Optimalisasi terkait Sistem Informasi dan Digitalisasi, khususnya terkait Big Data. Pada Dies Natalis FK-KMK UGM tahun 2024, disepakati komitmen pengembangan Big Data berbasis Dataset Klaim JKN. Saat ini, lebih dari 1,5 juta data telah terkumpul dari RSUP Dr. Sardjito, RSA UGM, dan rumah sakit lainnya.

“Kemudian akan bergabung RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten, RSUD Sleman, RSUD Wates, dan RSUD Banyumas. Workshop pengiriman data yang aman telah dilakukan, dan tahap berikutnya adalah pelatihan pemanfaatan data untuk penelitian.”

Workshop Big Data pertama AHS UGM sudah terlaksana pada 4 Juni 2025. Pada pertemuan pertama lebih fokus sosialisasi ulang terkait Big Data AHS UGM, identifikasi kendala penerapan tahap pertama penerapan Big Data, hingga Troubleshooting. Kegiatan ini akan berlanjut hingga akhir tahun, memastikan setiap RS mampu mengoptimalkan data untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Sistem Kesehatan Akademik UGM juga melaksanakan penyiapan detail ekspansi fitur Big Data Sistem Kesehatan UGM: AI-assistance dan integrasi data Satu Sehat.

Dukungan untuk Kesehatan di Sektor Pariwisata

Sebagai bentuk turunan dari program prioritas Health Tourism, Sistem Kesehatan Akademik UGM membentuk badan medical and wellness tourism. Sebuah langkah yang inovatif, karena gagasan ini bukan hanya untuk mengangkat potensi kesehatan dan pariwisata, tetapi juga untuk membuka pintu bagi kolaborasi lintas sektor, dari pelayanan medis hingga promosi wisata kesehatan yang berkelanjutan.

Tidak hanya berfokus pada destinasi wisata di Yogyakarta, AHS UGM juga membantu Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara dan Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo dalam Memperkuat Pemahaman untuk Tata Kelola Kasus Hipotermia bagi Tenaga Kesehatan di Puskesmas dalam rangka Dieng Culture Festival 2025. Kegiatan ini sebagai mitigasi untuk menangani risiko hipotermia bagi wisatawan yang datang tanpa dengan persiapan memadai.

“Pelaksanaan Dieng Culture Festival sekitar bulan agustus, dan biasanya suhu di lokasi minus. Kadang-kadang wisatawan yang datang tidak peduli dan tanpa persiapan dengan baik, sehingga kita membantu terkait tatalaksana hipotermia. Kalau untuk manajemen emergency-nya di sana sudah bagus,” kata dr. Sudadi.

Penguatan Tridharma dan Kemandirian Finansial

Tahun 2025 AHS UGM memfokuskan diri pada penguatan kapasitas tridarma anggota AHS melalui program hibah. Setiap unit kerja yang berpartisipasi mendapat bantuan dana 25.000.000 rupiah. Hibah ini digunakan untuk melaksanakan kegiatan yang sesuai dengan rencana strategis AHS, memperkuat tata kelola, dan membangun kapasitas organisasi.

Kegiatan Tridharma ini disesuaikan dengan tema prioritas AHS UGM yang dapat diikuti oleh rumah sakit jejaring. Hal ini disampaikan oleh dr. Haryo Bismantoro, MPH selaku Koordinator AHS Wilayah IV bahwa perlu adanya kolaborasi antar AHS UGM dengan rumah sakit jejaring dalam kegiatan tridharma.

“Tadi sudah disampaikan oleh dr. Sudadi bahwa bertambahnya jumlah anggota jejaring ini, maka terdapat kapasitas yang terbatas dalam melaksanakan program skema hibah. Bisa jadi satu daerah hanya melakukan satu program secara bersama. Namun, kita bisa duduk bersama untuk mengkonsolidasikan tahun depan program apa yang harus dilakukan bersama,” tambah dr. Haryo.

Sistem Kesehatan Akademik UGM juga menargetkan optimalisasi Clinical Research Unit (CRU) berbasis kapasitas rumah sakit pendidikan. Kolaborasi dengan CEBU menjadi pintu masuk bagi riset translasional, jenis penelitian yang langsung menjembatani hasil laboratorium ke praktik pelayanan pasien. Harapannya, riset ini tidak hanya mengisi jurnal ilmiah, tetapi juga mengubah standar layanan di lapangan.

Berbagai program yang dilakukan oleh AHS UGM juga harus diidentifikasi lebih baik. Harapannya, untuk masa mendatang, di tahun 2026, AHS UGM bisa menggandeng pihak swasta maupun program Corporate Social Responsibility (CSR) melalui kerja sama. Dengan demikian, akan tercipta kemandirian finansial di tengah terbatasnya dana hibah.

Inovasi yang dilakukan oleh AHS UGM dengan mendorong pembentukan tim ad-hoc creative funding. Tim ini bertugas menjajaki peluang kerja sama dengan mitra internal seperti komunitas alumni, Sahabat UGM, dan jaringan pendukung lainnya. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa AHS UGM tidak hanya berpikir tentang program yang sudah berjalan, tetapi juga tentang keberlanjutan jangka panjang.

Merangkul Jejaring AHS dalam Pengiriman Residen

Sistem Kesehatan Akademik UGM juga mempunyai tugas dalam pemerataan tenaga kesehatan di Indonesia, khususnya wilayah IV yang meliputi Provinsi DIY, Jawa Tengah, dan seluruh Kalimantan. Sehingga dibutuhkan jejaring sebagai rumah sakit pendidikan. Salah satunya yang dapat dilakukan secara bersama adalah meningkatkan kuota mahasiswa PPDS.

dr. Haryo Bismantoro, MPH memaparkan bahwa sentra proses pendidikan dokter spesialis dan subspesialis tidak hanya di rumah sakit pendidikan. Tetapi rumah sakit yang masuk dalam jejaring AHS UGM pun berpotensi dijadikan wahana pendidikan. Beliau juga menyampaikan bahwa sudah dilakukan identifikasi dalam proses penerimaan residen dan koas di rumah sakit jejaring.

“Bapak-ibu (jejaring) sudah mengutarakan ingin menerima residen dan koas dari stase apa saja. Nah itu nanti kami minta izin bisa menindaklanjuti terkait dengan kapasitas yang ada di sana, sehingga pendidikan dokter spesialisnya bisa tersebar, tentunya dengan standar sumber daya manusia yang sudah disepakati bersama. Ini yang sebenarnya bisa menjadi peluang kita untuk memperluas keberadaan dari program pendidikan dokter spesialis ke rumah sakit bapak-ibu sekalian,” ujar dr. Haryo.

Selaras dengan yang disampaikan oleh dr. Haryo, di akhir pemaparan dr. Sudadi, beliau menyampaikan bahwa di tahun 2025, mahasiswa PPDS yang melanjutkan pendidikan di FK-KMK UGM meningkat. Hal ini merupakan kontribusi adanya AHS UGM. “Tahun ini, sekitar 35,4% peserta PPDS baru berasal dari wilayah AHS UGM. Penyebaran ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di seluruh jejaring, sekaligus membuka akses pendidikan kedokteran spesialis yang lebih luas,” pungkas dr. Sudadi.

(Reporter Nasirullah Sitam, SIP; Narasumber Dr. dr. Sudadi Sp.An., KNA., KAR & dr. Haryo Bismantoro, MPH.)