Peran Strategis Ilmu Gizi dalam Pencegahan dan Penanganan Penyakit Kronis di Indonesia

Indonesia merupakan negara yang memiliki tantangan yang cukup besar terkait dengan penyakit kronis. Pola hidup dan pengetahuan masyarakat Indonesia cenderung memahami penyakit kronis merupakan hasil dari faktor keturunan (genetik) saja. Akan tetapi, penyakit kronis ini hadir karena keterkaitan antara faktor genetik dan pola hidup tidak sehat, termasuk kebiasaan pola konsumsi masyarakat yang kurang tepat. Mengkritisi kondisi sosial tersebut, pendekatan ilmu gizi memiliki peranan penting untuk memberikan edukasi terkait pola konsumsi yang menyesuaikan kebiasaan hidup.  

Berangkat dari kondisi tersebut, Dian Caturini Sulistyoningrum, B.Sc., M.Sc., Ph.D selaku ahli gizi dan dosen Program Studi (Prodi) Gizi FK-KMK UGM memberikan tanggapan bahwasanya pola hidup yang kurang seimbang, termasuk pola asupan  memiliki peranan penting untuk dipahami sebagai upaya pencegahan, pengobatan, dan menjaga kualitas hidup khususnya terkait penyakit kronis.

“Dalam merespons penyakit kronis berupa kanker dan lain sebagainya, ilmu gizi memiliki peranan bukan hanya tentang pola makan, melainkan juga strategi penting untuk mengurangi resiko penyakit kronis, memperkuat imunitas, hingga mendukung keberhasilan terapi medis,” kata bu Dian.

Secara garis besar, ilmu gizi dalam merespons penyakit kronis seperti kanker terbagi menjadi tiga tahapan. Pertama, pencegahan. Biasanya, pencegahan ini dimulai sejak dalam masa kehamilan hingga 1.000 hari pertama kehidupan yang menentukan bagaimana pola asupan yang dapat berpengaruh pada risiko kesehatan jangka panjang. Kedua, manajemen penyakit. Misalnya, pada penderita diabetes mellitus tipe 2, pola pengaturan konsumsi perlu ditentukan dengan rendah gula dan tinggi serat untuk menstabilkan kadar glukosa darah. Ketiga, peningkatan kualitas hidup pasien. Ilmu gizi berperan pada peningkatan kualitas hidup dengan mengutamakan daya tahan tubuh, peningkatan respons  terapi, dan mencegah kekambuhan. 

“Peran gizi itu sangat besar. Bukan hanya mencegah penyakit, tetapi juga menjaga agar pasien tetap kuat saat menjalani terapi,” tegas bu Dian.

Sementara itu, ketika ada kasus kanker yang membutuhkan kemoterapi dan radioterapi, kondisi tubuh pasien memiliki beberapa efek samping yang perlu diperhatikan, khususnya pada asupan gizi. Pasien yang menjalani kemoterapi dan radioterapi cenderung mengalami efek samping berupa kerusakan saluran cerna, gangguan indera perasa, hingga sariawan parah (oral mucositis). Akibat dari efek samping ini, pasien sulit makan dan penyerapan gizi akan terganggu. Keadaan ini bisa juga didefinisikan bahwa sebenarnya kanker cukup mengganggu metabolisme tubuh, termasuk keseimbangan glukosa dan insulin, serta peradangan. Kondisi inilah yang cenderung menyebabkan pasien kanker menjadi malnutrisi.

“Terapi kanker memang menjadi tantangan pada pola asupan gizi dikarenakan pasien tidak sepenuhnya bisa dengan sempurna menyerap nutrisi. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan asupan, ahli gizi biasanya memprioritaskan nutrisi untuk mendukung daya tahan tubuh dan efektivitas terapi,” kata bu Dian. 

Berbagai studi ilmu gizi menunjukkan bahwa pola makan tertentu berhubungan erat dengan pencegahan kanker dan penyakit kronis lainnya. Diantaranya, perbanyak variasi antara  buah dan sayur, terutama sayuran berwarna dan dari kelompok crucifers (brokoli, kubis, kembang kol) yang kaya antioksidan; konsumsi protein rendah lemak seperti ikan dan daging yang rendah lemak; hindari makanan yang diolah ultra proses seperti makanan yang bentuk alaminya sudah tidak terlihat lagi dan kecenderungan memiliki kandungan tinggi gula, garam, pengawet serta, rendah gizi; batasi konsumsi daging asap, daging olahan dengan nitrat, serta makanan yang dibakar gosong karena ada senyawa karsinogenik yang berbahaya bagi tubuh.

“Konsumsi yang baik untuk pencegahan kanker masyarakat bisa menggunakan pangan lokal berupa sumber protein rendah lemak, sayuran lokal sesuai musim yang lebih bergizi dan tidak harus membeli pangan sehat yang mahal selayaknya produk impor,” kata bu Dian.

Lebih lanjut, bu Dian menekankan bahwa pencegahan kanker tidak bisa hanya dilakukan melalui pengaturan pola makan dan pengendalian stres. Faktor lingkungan seperti polusi udara, kualitas air yang buruk, hingga paparan bahan kimia dalam keseharian juga perlu diperhatikan secara serius.
“Faktor lingkungan merupakan komponen hidup yang sulit dikontrol dan direkayasa. Oleh sebab itu, sebagai masyarakat yang bijak, kita perlu mengendalikan diri melalui pola makan yang sehat agar kesehatan tetap terjaga,” jelas Dian.

Asupan gizi yang dikonsumsi sehari-hari juga perlu mempertimbangkan aspek biologis dan sosial. Studi terdahulu melaporkan, dalam konteks masyarakat Indonesia yang masih kental dengan sistem patriarkal, akses terhadap makanan bergizi sering kali lebih diprioritaskan untuk laki-laki. Sehingga akses makanan yang tinggi protein lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Padahal, secara biologis, perempuan memiliki kerentanan yang lebih tinggi, misalnya karena hormon estrogen yang dapat meningkatkan risiko kanker tertentu, serta kecenderungan lebih rentan terhadap sindrom metabolik. Oleh karena itu, distribusi konsumsi makanan bergizi harus diseimbangkan antara laki-laki dan perempuan sesuai kebutuhan biologis masing-masing, tanpa terhambat oleh konstruksi sosial yang tidak berpihak pada kesehatan gender.
“Pola asupan gizi seimbang perlu dimulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga. Dengan bekal pengetahuan tentang gizi dan pemanfaatan pangan lokal, konsumsi sehari-hari dapat lebih terkontrol sehingga risiko penyakit kronis dapat dicegah,” tambah bu Dian.

Lebih lanjut, edukasi kebutuhan gizi sejak dini menjadi salah satu strategi paling efektif dalam membangun pola konsumsi sehat. Dengan pengetahuan yang memadai, anak-anak dapat dilatih untuk membedakan makanan sehat dan tidak sehat. Edukasi ini membantu menumbuhkan kesadaran jangka panjang mengenai pentingnya nutrisi. Minimnya pengetahuan mengenai pola makan sehat di masyarakat menyebabkan kecenderungan masyarakat  khususnya di Indonesia lebih banyak mengonsumsi karbohidrat dan lemak secara berlebihan, sementara asupan protein, serat, vitamin, dan mineral sering terabaikan.

“Dalam mengontrol gizi masyarakat, dibutuhkan adanya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, lembaga pendidikan, ahli gizi, stakeholder swasta, dan masyarakat untuk dapat mengenalkan pangan dan cara pengolahan yang sesuai dengan kondisi geografis dan sosial,” kata bu Dian.

[Penulis: Tedy Aprilianto; Narasumber: Dian Caturini Sulistyoningrum, B.Sc., M.Sc., P.hD]