FK-KMK UGM. Keterlibatan pasien dan keluarga dalam penanganan penyakit kronis, khususnya gagal jantung, menjadi salah satu faktor kunci dalam meningkatkan kualitas hidup pasien dan efektivitas pengobatan. Menyadari pentingnya peran ini, Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FK-KMK UGM bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Cabang Yogyakarta menginisiasi diskusi mengenai pembentukan Perkumpulan Pasien Gagal Jantung dan Prevensi Kardiovaskular Indonesia pada Sabtu (22/02) di Yogyakarta.
Diskusi ini menghadirkan Profesor Salvatore Di Somma, beliau merupakan ahli kardiologi dari Universitas La Sapienza Italia, yang berbagi pengalaman dalam membina perkumpulan serupa di Italia. Acara ini dihadiri oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari RSUP Dr. Sardjito, RSA UGM, RSUD Sleman, serta perwakilan dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, bersama pasien dan keluarga pasien gagal jantung.
Dalam paparannya, Profesor Salvatore Di Somma menjelaskan bahwa di negara-negara maju, keterlibatan pasien dan keluarga menjadi bagian integral dalam penelitian dan pengembangan terapi baru, termasuk obat-obatan dan teknologi medis. Pasien dan keluarga tidak hanya sebagai penerima manfaat layanan kesehatan, tetapi juga memiliki peran aktif dalam proses pengambilan keputusan medis. Mereka sering tergabung dalam asosiasi pasien yang secara rutin mengadakan berbagai kegiatan edukasi, advokasi, dan peningkatan kualitas hidup pasien.
Perkumpulan Pasien Gagal Jantung dan Prevensi Kardiovaskular di Italia memiliki beberapa misi utama, antara lain: mempromosikan informasi tentang gagal jantung dan penyakit kardiovaskular, memberikan edukasi terkait pencegahan dan pengelolaan penyakit, mengorganisir pertemuan rutin bagi pasien dan keluarga, menyampaikan aspirasi pasien kepada pemerintah dan institusi kesehatan, serta meningkatkan akses pasien terhadap layanan kesehatan berbasis digital melalui sistem telemonitoring. Melalui sistem ini, pasien dapat dipantau secara real-time sehingga memungkinkan intervensi lebih cepat dalam mencegah kondisi yang lebih buruk.
Sesi diskusi ini, peserta yang terdiri dari dokter, tenaga medis, serta pasien dan keluarga, mengungkapkan pentingnya keberadaan perkumpulan serupa di Indonesia. Mereka berharap perkumpulan ini dapat menjadi wadah bagi pasien dan keluarga dalam mendapatkan informasi yang valid, meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan penyakit kardiovaskular, serta memperkuat komunikasi antara pasien dan tenaga medis.
Profesor Di Somma menegaskan bahwa pembentukan perkumpulan ini di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, dapat menjadi langkah awal yang signifikan dalam mendukung program pemerintah dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan, khususnya dalam pencegahan dan pengelolaan penyakit kardiovaskular. Inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Melalui forum ini, diharapkan terbentuk langkah konkret dalam mendirikan Perkumpulan Pasien Gagal Jantung dan Prevensi Kardiovaskular di Indonesia. Dengan adanya komunitas ini, pasien dan keluarga dapat lebih berdaya dalam mengelola penyakit, mendapatkan dukungan yang lebih baik, serta turut serta dalam peningkatan kebijakan kesehatan di masa depan. (Kontributor: Anggoro Budi Hartopo/ Editor: Sitam).