FK-KMK UGM. Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan bersama Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dan DPC Gerkatin Kota Yogyakarta menyelenggarakan Launching Puskesmas Ramah Tuli sebagai bagian dari upaya memperkuat akses layanan kesehatan yang inklusif bagi komunitas Tuli. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu, 30 September 2026, di Aula Krisna Husada, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, sekaligus menjadi bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat FK-KMK UGM bertajuk “Penguatan Layanan Kesehatan Ramah Tuli melalui Peningkatan Keterampilan Komunikasi Inklusif bagi Tenaga Kesehatan Layanan Primer di Kota Yogyakarta”.
Peluncuran ini menjadi bagian dari rangkaian program yang sebelumnya telah dilakukan oleh tim pengabdian FK-KMK UGM. Program tersebut mencakup pengembangan media kit komunikasi visual serta pelatihan komunikasi inklusif bagi tenaga kesehatan layanan primer. Kedua kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun dukungan komunikasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan komunitas Tuli ketika mengakses pelayanan kesehatan.
Kegiatan diawali dengan sambutan dr. Bagas Suryo Bintoro selaku Ketua Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan sekaligus bagian dari tim pengabdian. Dalam sambutannya, ia menyoroti bahwa komunitas Tuli masih dapat menghadapi hambatan dalam berbagai situasi, termasuk ketika mengakses layanan kesehatan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelayanan yang inklusif membutuhkan perhatian tidak hanya pada ketersediaan layanan, tetapi juga pada cara komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Dialog Interaktif yang menghadirkan perwakilan DPC Gerkatin Kota Yogyakarta, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dan Tim Pengabdian kepada Masyarakat. Forum ini memberikan ruang bagi komunitas Tuli untuk menyampaikan pengalaman mereka secara langsung sekaligus mendiskusikan kebutuhan yang perlu diperhatikan dalam pelayanan kesehatan tingkat primer.
Perwakilan DPC Gerkatin Kota Yogyakarta menyampaikan berbagai pengalaman dan tantangan yang dihadapi komunitas Tuli saat menggunakan layanan kesehatan. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam diskusi karena memberikan gambaran mengenai hambatan yang muncul dalam proses pelayanan sekaligus harapan terhadap layanan kesehatan yang lebih mudah diakses.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, dr. Ardhina Ramania, M.P.H., turut memaparkan rangkaian program yang telah dilakukan. Paparan tersebut menjelaskan proses pengembangan kegiatan, termasuk upaya meningkatkan kemampuan komunikasi inklusif tenaga kesehatan dan penyediaan media pendukung komunikasi visual di fasilitas pelayanan kesehatan.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta yang diwakili oleh drg. Arumi Wulansari, M.P.H., memberikan tanggapan terhadap kegiatan yang telah dilakukan tim pengabdian. Dinas Kesehatan mendorong puskesmas untuk menerapkan dukungan komunikasi yang telah dikembangkan sekaligus mengajak komunitas Tuli memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia di puskesmas.
Sejumlah peserta dari komunitas Tuli membagikan pengalaman ketika berhadapan dengan layanan kesehatan, mulai dari kesulitan berkomunikasi dengan petugas, hambatan ketika tenaga kesehatan menggunakan masker, proses administrasi, hingga memahami informasi mengenai penggunaan obat.
Berbagai pengalaman tersebut kemudian dibahas bersama narasumber untuk melihat bagaimana pelayanan kesehatan dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasien Tuli. Pembahasan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, tetapi juga mengenai penggunaan media visual dan penyesuaian proses pelayanan agar informasi kesehatan dapat diterima dengan lebih baik.
Dalam diskusi turut disampaikan mengenai dukungan Juru Bahasa Isyarat (JBI) melalui Pusat Layanan Juru Bahasa Isyarat (PLJ). Dukungan tersebut dapat menjadi salah satu pilihan yang dapat dijalin bersama fasilitas kesehatan ketika dibutuhkan untuk membantu proses komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien Tuli.
Setelah sesi dialog, kegiatan dilanjutkan dengan peluncuran Puskesmas Ramah Tuli melalui penyerahan simbolis dan penayangan video alur pelayanan inklusif. Peluncuran tersebut menandai dimulainya komitmen bersama untuk mendorong pelayanan kesehatan yang lebih responsif terhadap kebutuhan komunitas Tuli.
Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya memperkuat akses terhadap pelayanan kesehatan yang inklusif. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan melalui peningkatan akses dan komunikasi bagi komunitas Tuli. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi FK-KMK UGM, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, puskesmas, dan komunitas Tuli. (Kontributor: Sinta Ristiyanti).



