Pengabdian dr. Lisa Carolline, Sp.B di Ujung Negeri Membawa Harapan Sehat bagi Warga Morotai

dr. Lisa Carolline, Sp.B merupakan salah satu alumnus dari Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Bedah Angkatan 2020 yang kini mengabdi di Kabupaten Morotai, Maluku Utara. Dokter kelahiran Surabaya ini memiliki jalan yang tidak biasa dengan mengabdi di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Sejak november 2024, ia bertugas di RSUD Ir. Soekarno Morotai dan menjadi salah satu dari dua dokter spesialis bedah yang mengabdi disana.

“Tahun 2024 saya lulus PPDS dan sembari menunggu wisuda, saya mendapatkan tawaran untuk bergabung di RSUD (Ir. Soekarno) Morotai. Tanpa pikir panjang saya mengambil tawaran itu dan melaksanakan wawancara,  hingga akhirnya bertugas pertama kali pada November 2024.”

dr. Lisa menjelaskan bahwa, RSUD Ir. Soekarno yang menjadi lokasi prakteknya memiliki akses perjalanan yang tidak sederhana. Ia harus menempuh perjalanan selama dua hari dari Surabaya menggunakan transportasi udara, lalu transit ke Ternate dan melanjutkan perjalanan dengan transportasi laut selama 12 jam. Setibanya di Morotai, ia mengakui menemukan tempat yang cukup berbeda dari segala bayangan rumah sakit pada umumnya.

dr. Lisa menjelaskan bahwa,  RSUD Ir. Soekarno dahulu merupakan rumah sakit kontainer (rumah sakit bergerak) yang disediakan pemerintah secara berpindah-pindah untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat pelosok Morotai. Kemudian, rumah sakit ini mulai dibangun permanen oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dan diresmikan pada tahun 2022. Sebagai rumah sakit yang cukup baru, ketersediaan dokter spesialis di rumah sakit tersebut masih menjadi kendala. Kedatangan dr. Lisa ke daerah tersebut,  memberikan harapan baru bagi masyarakat Morotai untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik khususnya dalam penanganan bedah medis.

“Rumah sakit tempat saya praktek ini berada hampir di tengah hutan yang cukup strategis dalam menjangkau masyarakat Morotai yang mayoritas tinggal di pesisir pantai,” kata dr. Lisa. 

Walaupun di daerah Morotai ini telah memiliki RSUD Ir. Soekarno, dr. Lisa menegaskan rumah sakit tersebut belum sepenuhnya mampu memberikan penanganan medis tingkat lanjut. Ia menjelaskan pengalamannya ketika menangani pasien kanker payudara yang keadaannya cukup parah. Dikarenakan fasilitas kesehatan belum mampu mendukung, ia pun merujuknya di rumah sakit terdekat di Ternate. Ia juga menceritakan dengan merujuk pasien bukan berarti penanganan medis dapat diberikan dengan cepat. Justru akan menimbulkan masalah baru khususnya dalam akses ke daerah Ternate yang membutuhkan waktu 12 jam perjalan dan biaya kapal yang cukup mahal.

Sebagai salah satu dokter bedah di daerah terpencil, dr. Lisa melihat langsung realitas akses kesehatan yang belum merata dan minimnya kesadaran masyarakat untuk berobat. Ia sering mendapatkan kasus medis dalam kondisi terlambat dikarenakan masyarakat lebih mendahulukan pengobatan tradisional. Dalam menjalankan tugasnya sebagai dokter, ia sering menekankan pentingnya edukasi kesehatan sedini mungkin pada gejala penyakit yang ada. Walaupun kesadaran masyarakat masih rendah terhadap edukasi kesehatan, ia tak pernah lelah memberikan edukasi dikarenakan kesehatan masyarakat merupakan prioritas utamanya.

“Tantangan edukasi kesehatan menjadi kendala saya dalam bertugas,  tetapi kalau bukan kita (dokter di RSUD Ir. Soekarno) siapa lagi yang akan memberitahu mereka. Saya meyakini edukasi merupakan bagian dari tugas kemanusiaan,” kata dr. Lisa.

Ketulusan dr. Lisa ini didapatkan karena ia telah memiliki pengalaman praktik medis yang cukup panjang. Sebelum menempuh pendidikan spesialis ia pernah pernah praktik di PTT Puskesmas Senggi Keerom, Papua pada 2012-2015 dan RS Petrokimia Gresik, Jawa Timur pada 2015-2020. Selain itu, selama menjadi residen PPDS Ilmu Bedah ia pernah menjalani stase di RS Naas Kulon Progo, RSUD Purworejo, RSUD Cilacap, RSUD Pati, dan RSUD Klaten.

Sederet pengalaman yang cukup lengkap ini telah membentuk ketulusan diri dari dr. Lisa sebagai dokter bedah.  Berada di tengah keterbatasan peralatan dan obat-obatan, ia tetap berusaha menjaga profesionalitas. Ia menegaskan, menjadi dokter di Morotai harus siap sedia dengan kebiasaan masyarakatnya yang kompleks. Dengan mayoritas masyarakat bermata pencaharian sebagai nelayan, ia menyampaikan hampir setiap hari dirinya melakukan pelayanan kesehatan berupa penanganan luka akibat kecelakaan kerja,  hingga operasi apendisitis dan hernia. 

Mengabdi sebagai dokter spesialis di Morotai membuat dr. Lisa harus siap dengan segala kemungkinan yang tidak terprediksi. Dimulai dari sinyal yang terkadang putus dan kondisi alam yang tak menentu menjadi tantangan tersendiri bagi pelayanan kesehatan. Selain itu, dengan menjadi dokter di daerah 3T kesiapsiagaan menjadi prioritas utama dalam menjalani keseharian. Berdasarkan pada pengalaman praktiknya, Ia menjelaskan menjadi dokter di kota dan di daerah pelosok memiliki perbedaan yang signifikan. Ketika menjadi dokter di kota ia harus siap menghadapi pasien yang cukup banyak dan tidak menentu untuk memberikan pelayanan kesehatan. Sedangkan di pelosok jumlah pasien yang ada tidak sebanyak di kota, tetapi justru pasien datang dengan kondisi yang cenderung sudah cukup parah dan minimnya pengetahuan kesehatan. 

Sebagai dokter di daerah 3T dr. Lisa menjelaskan bahwasanya, dokter harus siap menghadapi kendala pada aspek ekonomi dan administratif. Dalam aspek ekonomi, harga kebutuhan pokok yang cukup mahal harus dihadapi dengan pola konsumsi yang setepat mungkin. Sedangkan, dalam aspek administratif, mengabdi sebagai dokter di daerah 3T memiliki resiko gaji yang terlambat dikarenakan status kerja yang terikat dengan pemerintah daerah. Namun, ia menegaskan kondisi tersebut bukan menjadi kendala besar dikarenakannya Kementrian Kesehatan Republik Indonesia turut membantu memenuhi hak dokter di daerah melalui Program Pendayagunaan Dokter Spesialis (PGDS). Melalui program tersebut, dokter di daerah 3T dapat terbantu untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Serangkaian kendala yang dihadapi, bukan menjadi penghambat besar dalam bertugas. Dengan menjunjung tinggi profesionalitas dan kemanusiaan ia menekankan dua nilai tersebut perlu menjadi prioritas untuk memberikan pelayanan terbaik. 

“Ini tempat pertama saya bekerja setelah lulus, dan saya bangga memiliki pengalaman berharga dengan mengabdi disini,” pungkas dr. Lisa. (Penulis: Tedy Aprilianto, S.Fil. Narasumber: dr. Lisa Carolline, Sp.B. Editor: Kurnia Widiastuti)