Sistem Kesehatan Akademik UGM memasuki babak baru dalam penyusunan Rencana Strategis (Renstra) untuk periode 2025-2029. Perubahan ini tidak hanya mencerminkan perkembangan regulasi nasional tetapi juga menjadi langkah konkret dalam memperkuat sinergi antara institusi akademik, pemerintah daerah, dan rumah sakit pendidikan. Pada periode sebelumnya (2018-2022), Renstra telah mengeksplorasi berbagai aspek yang perlu diperkuat, baik secara internal maupun eksternal. Namun, dinamika yang terjadi sepanjang waktu, termasuk ketidakjelasan kebijakan kesehatan di tingkat nasional dan daerah pada 2023, sempat menyulitkan arah pengembangan sistem ini. Kini, dengan hadirnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 serta Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024, arah kebijakan kesehatan semakin jelas, memberikan dasar yang lebih kuat bagi pengembangan Sistem Kesehatan Akademik UGM.
Dalam penyusunan Renstra 2025-2029, ada beberapa aspek utama yang menjadi fokus. Salah satunya adalah memperkuat peran dan keterlibatan berbagai institusi, termasuk fakultas, pemerintah daerah, dan rumah sakit pendidikan, agar manfaat yang diperoleh lebih merata. Selama ini, kebermanfaatan yang dirasakan oleh masing-masing institusi masih dirasa timpang, sehingga perlu strategi yang lebih inklusif dan kolaboratif. Menurut dr. Haryo Bismantoro, MPH selaku Koordinator Sistem Kesehatan Akademik Wilayah IV langkah strategis yang dilakukan oleh Sistem Kesehatan Akademik UGM pada dasarnya melanjutkan beberapa aspek yang belum tereksplorasi di lima tahun sebelumnya. Sehingga, di tahun 2025-2029 setidaknya ada lima rencana strategis yang menjadi prioritas.
“Sistem Kesehatan Akademik UGM ini masih perlu banyak penyesuaian, itu perlu kita perdalam. Di samping kebermanfaatannya dirasa masih timpang antara yang dirasakan fakultas, pemda, maupun rumah sakit pendidikan. Kemudian ini juga menjadi fokus kita di Renstra 2025-2029 supaya manfaatnya bisa saling menguntungkan di tiap institusi,” terang dr. Haryo.
Lima rencana strategis Sistem Kesehatan Akademik UGM ini meliputi Meningkatkan derajat kesehatan melalui pelayanan yang bermutu dan aman dengan penguatan tema prioritas; Menghasilkan lulusan yang adaptif, inovatif, dan menjadi pelopor perubahan melalui pendidikan yang terintegrasi dalam Sistem Kesehatan Akademik UGM untuk memenuhi kebutuhan wilayah kerja IV; Menghasilkan penelitian kesehatan yang kolaboratif dan berkontribusi dalam penyelesaian masalah kesehatan dan menjadi rujukan nasional dan internasional; Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam lingkup Sistem Kesehatan Akademik UGM; serta Meningkatkan pemanfaatan sistem teknologi informasi dalam lingkup Sistem Kesehatan Akademik UGM.
Dalam pelaksanaannya, tentu tidak mudah. Karena kondisi terdapat beberapa pembatasan, terutama dalam hal pendanaan, sehingga menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, strategi yang akan diterapkan dalam Renstra kali ini tidak hanya berfokus pada efektivitas program, tetapi juga mencari alternatif dalam memperkuat sumber daya strategis. Optimalisasi sumber daya manusia, pendanaan, serta sarana dan prasarana menjadi kunci agar Sistem Kesehatan Akademik UGM tetap berjalan secara berkelanjutan.
“Pada renstra ini, kami harus fokus bagaimana dengan aktivitas yang mungkin cenderung sama atau bahkan lebih, namun dengan dana yang terbatas. Sistem Kesehatan Akademik UGM ini harus bisa tetap survive dalam menjalankan seluruh perencanaan itu seoptimal mungkin. Jadi memang itu menjadi salah satu yang disorot juga bagaimana strategi kita untuk bisa mencari berbagai alternatif dalam memperkuat sumber daya strategis yang kita perlukan baik itu SDM, pendanaan, maupun sarana prasarana.”
Memperluas Jejaring dengan Penambahan Rumah Sakit Pendidikan
Salah satu program rencana strategis Sistem Kesehatan Akademik UGM adalah optimasi fungsi rumah sakit pendidikan anggota Sistem Kesehatan Akademik UGM. Sehingga pada tahun 2025 ini terdapat 10 tambahan anggota. Sampai sekarang, Sistem Kesehatan Akademik UGM sebanyak 20 anggota yang meliputi Perguruan Tinggi, Rumah Sakit Pendidikan, Pemerintah Daerah, serta Rumah Sakit Satelit yang tersebar di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan yang meliputi eks Karesidenan Kedu dan Karesidenan Banyumas.
“Ada penambahan 10 rumah sakit pendidikan satelit yang tersebar di di DIY, wilayah penyanggah DIY, dan juga sampai ke eks Karesidenan Kedu dan Karesidenan Banyumas. Di mana semuanya menjadi sentra kekuatan dari proses kolaborasi yang kita lakukan,” terang dr. Haryo.
Bergabungnya sepuluh rumah sakit pendidikan yang diproyeksikan menjadi anggota baru Sistem Kesehatan Akademik UGM. Adapun tambahan anggota tersebut adalah RSUD Prambanan, RSUD Nyi Ageng Serang, RSUD Bagas Waras, RSUD Muntilan, RSUD Cilacap, RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara, RSUD KRT. Setjonegoro Wonosobo, RS Soerojo Magelang, RS Mata Dr. Yap, dan RS Jiwa Grhasia. Seluruh rumah sakit pendidikan ini telah menandatangani komitmen bersama pada saat Puncak Dies FK-KMK tahun 2025.
Bertambahnya anggota Sistem Kesehatan Akademik UGM ini memang sudah diusulkan oleh fakultas untuk bisa menjadikan rumah sakit yang selama ini sebagai tempat pendidikan dinaikkan statusnya menjadi rumah sakit pendidikan Sistem Kesehatan Akademik UGM. Terdapat berbagai pertimbangan untuk menambah rumah sakit pendidikan, karena tanggung jawab semakin bertambah. Rumah sakit pendidikan tidak hanya sebagai tempat pendidikan, tetapi juga sebagai sarana ataupun wahana untuk mengembangkan penelitian, pengabdian masyarakat, serta pelayanan secara terpadu.
Terdapat prosedur yang harus dipenuhi suatu rumah sakit untuk menjadi anggota Sistem Kesehatan Akademik UGM. Salah satu persyaratannya adalah rumah sakit tersebut sudah tersertifikasi sebagai rumah sakit pendidikan, karena status sertifikasi ini sudah melalui berbagai tahapan standar yang dibuat oleh Kementerian Kesehatan. Sehingga rumah sakit tersebut mempunyai komitmen dan upaya dalam perbaikan kualitas, memiliki prosedur operasional standar, serta berbagai hal yang mengarahkan rumah sakit tersebut menjadi sebuah rumah sakit pendidikan.
- Haryo menyampaikan bahwa persyaratan tersebut menjadi bagian yang penting. Ketika setiap rumah sakit tersebut terlibat dalam Sistem Kesehatan Akademik UGM, mereka langsung berjalan untuk berproses menjadi rumah sakit pendidikan. “Artinya langsung berkolaborasi dalam bidang penelitian serta membuat konsep pelayanan terpadu dengan berbasis bukti. Apabila ini tidak dipersiapkan sejak awal, atau tidak ada komitmen bersama untuk menuju ke sana, maka akan menjadi beban tersendiri bagi rumah sakit.”
Menyelaraskan dengan Program Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah
“Fokus kita saat ini adalah membantu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk pemenuhan-pemenuhan indikator yang mereka punyai. Pada level pemerintah pusat, Sistem Kesehatan Akademik UGM menyesuaikan dengan Asta Cita yang yang disampaikan oleh Presiden Indonesia. Pada Asta Cita, terdapat tiga fokus yang berkaitan dengan kesehatan,” tutur dr. Haryo.
Menilik rencana strategis pertama Sistem Kesehatan Akademik UGM yang berfokus pada peningkatan derajat kesehatan, terdapat lima program yang menjadi prioritas. Kelima program tersebut dikembangkan agar selaras dengan kebijakan pemerintah pusat. Di level pemerintah pusat, tiga fokus yang berkaitan dengan kesehatan adalah terkait Skrining, Tuberkulosis, dan Penguatan Fasilitas Kesehatan. Maka Sistem Kesehatan Akademik UGM memiliki tema prioritas dalam menyelaraskan dengan Asta Cita.
Empat tema prioritas yang tetap dipertahankan Sistem Kesehatan Akademik UGM adalah Menua Sehat, Kesehatan Ibu dan Anak, Tanggap Darurat Bencana Kesehatan, dan Pariwisata Medis dan Kesehatan. Pada unsur Tuberkulosis, Sistem Kesehatan Akademik UGM memasukkan pada tema Menua Sehat. Kemudian terkait Skrining dimasukkan pada tema Kesehatan Ibu dan Anak. Sementara Penguatan Fasilitas Kesehatan dimasukkan pada Tanggap Darurat Bencana Kesehatan, karena penguatan di rumah sakit pendidikan tidak hanya secara tata kelola yang bersifat normatif, tetapi juga dalam situasi darurat karena merupakan suatu kebutuhan.
“Di samping itu, Sistem Kesehatan Akademik UGM berfokus pada Pariwisata Medis dan Kesehatan, karena DIY dan Jawa Tengah merupakan daerah pariwisata. Sehingga kami mendorong agar rumah sakit mempunyai inovasi-inovasi dalam memperkuat pariwisata medis maupun pariwisata kesehatan,” terang dr. Haryo.
Sistem Kesehatan Akademik UGM juga terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah, terlebih beberapa waktu yang lalu ada perubahan kepemimpinan di beberapa daerah tersebut. Jika dicermati tentang misi para menteri maupun kepala daerah beberapa waktu lalu di Magelang, ternyata ada beberapa kepala daerah yang membahas tentang sumber daya manusia (terkait kesehatan). Hanya saja belum menggambarkan bagaimana langkah strategis yang dilakukan. Sedangkan Kementerian Kesehatan sendiri menyokong pemerintah daerah dalam pengembangan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit pendidikan sebagai penyelenggara utama RSUP, namun semuanya masih butuh waktu.
“Isu-isu terkait kesehatan selalu dibutuhkan, khususnya berkaitan dengan produksi tenaga medis dan tenaga kesehatan. Karena bagaimanapun Kementerian Kesehatan itu tetap menyebarluaskan peralatan, memperkuat rumah sakit-rumah sakit di daerah terpencil, tapi selama SDM-nya tidak ada, tentu tidak akan bisa jalan. Di sinilah peran Sistem Kesehatan Akademik UGM,” ujar dr. Haryo.
Berkomitmen dalam Pemerataan Tenaga Kesehatan di Wilayah IV
Sistem Kesehatan Akademik UGM menjadi koordinator wilayah IV yang meliputi Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, serta Seluruh Provinsi di Pulau Kalimantan. Pemenuhan kebutuhan tenaga medis dan tenaga kesehatan di wilayah tersebut beragam kebutuhannya maupun tantangannya. Lebih khusus di Kalimantan, karena memang mencakup seluruh wilayah di pulau tersebut. Sistem Kesehatan Akademik UGM sedang berproses dalam menghadirkan pendidikan UGM di pulau Kalimantan dengan Skema Konsorsium.
Skema Konsorsium dilakukan dengan cara Pemerintah Daerah sudah memiliki calon putra daerah yang ingin disekolahkan, sementara di daerah tersebut belum ada program studi tujuan, sehingga putra daerah tersebut melanjutkan pendidikan di UGM dengan prosedur pendaftaran yang berlaku. UGM menjadikan rumah sakit terbesar di daerah tersebut sebagai rumah sakit jejaring, sehingga ketika sudah ada pengajarnya, sarana prasarana memadai, maka proses pendidikan yang semula lebih banyak di UGM menjadi lebih banyak di rumah sakit jejaring tersebut.
Strategi lainnya yang dilakukan Sistem Kesehatan Akademik UGM dengan cara memfasilitasi Pemerintah Daerah untuk memperluas informasi tentang kebutuhan di daerahnya ke peserta didik maupun alumni. Penyebaran informasi ini diharapkan ada peserta didik ataupun alumni yang berminat kerja di wilayah tersebut. Bahkan, tidak sedikit Pemerintah Daerah menyediakan beasiswa, namun peminatnya tidak banyak dengan berbagai pertimbangan.
Salah satu langkah yang dilakukan Sistem Kesehatan Akademik UGM dengan mengadvokasi kepada program studi yang ada di UGM bersama Pemerintah Daerah di Kalimantan dalam menyediakan dukungan pengiriman residen senior. Pada proses pengiriman, Sistem Kesehatan Akademik UGM memperhatikan berbagai aspek bagi residen senior. Mulai dari keamanan, perlindungan selama di daerah tersebut, fasilitas pendukung, serta kompensasi yang sepadan, karena residen yang dikirim merupakan tenaga pembantu kesehatan.
“Karena kebutuhan pelayanan kesehatan tidak akan bisa menunggu selesainya pendidikan putra daerah yang dikirimkan dalam pendidikan. Sehingga mengirimkan residen senior sebagai opsi. Secara umum mereka memiliki kapasitas keilmuan dan keahlian, meskipun belum resmi sebagai dokter spesialis. Mereka (residen senior) bisa dikirimkan ke daerah-daerah yang memang membutuhkan. Dan memang sudah ada beberapa case-case pengiriman itu terjadi dari UGM ke daerah, karena pemerintah daerah tersebut datang ke UGM untuk meminta dikirimkan,” terang dr. Haryo.
Harapan Sistem Kesehatan Akademik di Masa Mendatang
Renstra 2025-2029 diharapkan dapat menjawab berbagai tantangan serta membawa Sistem Kesehatan Akademik UGM ke arah yang lebih maju dan berdampak luas bagi semua pihak yang terlibat dengan pendekatan yang lebih adaptif dan strategis. Diharapkan bahwa terdapat suatu sistem atau sumber daya strategis yang kuat dan saling bersinergi. Sehingga baik rumah sakit ataupun perguruan tinggi dapat saling memberikan kebermanfaatan secara merata. Baik terkait pendidikan, pelatihan, riset, dan sebagainya.
“Tentu harapannya ada kolaborasi yang baik antara perguruan tinggi dengan rumah sakit. Perpaduan antara teori dengan aspek-aspek praktis di rumah sakit itu bisa menjadi penguatan pembelajaran luar biasa apabila kita bicara tentang pendidikan klinis. Perguruan tinggi bisa memberikan penguatan SDM, dan rumah sakit sebagai sumber kasus untuk dapat dipelajari para residen.”
dr. Haryo juga menyampaikan bahwa Sistem Kesehatan Akademik UGM agar seluruh instansi peduli dengan kemajuan teknologi informasi. Sehingga arah pengembangan dari Sistem Kesehatan Akademik UGM nantinya bisa memastikan input proses dan output berdasarkan pada teknologi informasi. “Oleh karena itu, kenapa dari beberapa tahun ke belakang itu kita mengembangkan Big Data dalam Sistem Kesehatan Akademik, dengan harapan adanya Big Data ini kita bisa mendorong anggota Sistem Kesehatan Akademik untuk bisa mengambil keputusan, baik keputusan manajerial maupun keputusan klinis berbasis dengan data.”
Di samping itu, Sistem Kesehatan Akademik UGM juga melatih lebih banyak SDM, kemudian mempersiapkan platform terintegrasi yang berbasis data dan juga bisa didukung oleh AI. “Karena Akal Imitasi (AI) ini bisa membantu bagaimana juga pengelolaan yang ada di internal maupun eksternal untuk proses bisnis kita sebagai suatu Sistem Kesehatan Akademik. Tentunya kita mendefinisikan keterpaduan di antara para anggota tersebut. Kemudian bagaimana dengan kontribusi masing-masing anggota, adanya upaya-upaya yang bisa diidentifikasi secara bersama, harapannya ini kita bisa berintegrasi. Tentunya kita tidak hanya berfokus pada penguatan internal tapi juga dengan eksternal,” pungkas dr. Haryo. (Penulis: Nasirullah Sitam. Editor: Sri Awalia Febriana)