FK-KMK UGM. Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM menyelenggarakan praktik lapangan berupa layanan terapi komplementer Su Jok sebagai bagian dari pembelajaran klinis berbasis pengalaman langsung. Kegiatan ini menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menerapkan keterampilan keperawatan sekaligus memberikan manfaat kesehatan bagi masyarakat. Praktik lapangan tersebut dilaksanakan pada Senin, 9 Maret 2026 di ruang robotik RSUP Dr Sardjito Yogyakarta dan melibatkan 24 mahasiswa yang mengikuti Program Magang Terapi Su Jok.
Program ini merupakan bagian dari Pembelajaran di Luar Program Studi yang dikoordinasikan oleh Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., MNSc., PhD. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kompetensi klinis serta memahami pendekatan terapi komplementer yang dapat digunakan sebagai pendamping terapi medis. Terapi Su Jok sendiri merupakan metode terapi yang berasal dari Korea Selatan yang bekerja dengan merangsang titik-titik tertentu pada tangan dan kaki yang merepresentasikan organ atau bagian tubuh tertentu, sehingga dapat membantu meredakan berbagai keluhan kesehatan.
Layanan terapi berlangsung selama kurang lebih dua jam. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa memberikan layanan kepada sejumlah klien dengan berbagai keluhan kesehatan. Berdasarkan observasi yang dilakukan selama praktik, lima keluhan yang paling sering disampaikan oleh klien antara lain nyeri pada leher, kepala, dada, bahu, serta ekstremitas. Mahasiswa kemudian melakukan terapi dengan menggunakan berbagai alat yang umum digunakan dalam metode Su Jok, seperti probe, elastic wire color and tera-wave therapy (EWCT) berwarna biru, chia seed, serta magnet.
Metode yang paling sering digunakan dalam praktik ini adalah stimulasi titik korespondensi menggunakan probe, yang kemudian dilanjutkan dengan penempelan biji pada titik yang telah distimulasi. Pendekatan tersebut bertujuan untuk membantu merangsang respons tubuh terhadap titik refleksi tertentu yang berkaitan dengan keluhan yang dirasakan pasien.
Selama praktik berlangsung, mahasiswa juga mendokumentasikan perkembangan kondisi klien setelah terapi dilakukan. Salah satu kasus yang menarik terjadi pada seorang klien perempuan berusia 32 tahun yang mengeluhkan nyeri pada telapak kaki dengan skala nyeri 8. Setelah menjalani terapi Su Jok, intensitas nyeri secara bertahap menurun menjadi skala 6 pada menit ke-5, kemudian skala 4 pada menit ke-15, hingga akhirnya mencapai skala 0 pada menit ke-30.
Pelaksanaan kegiatan ini turut melibatkan sejumlah dosen lintas departemen yang telah memiliki lisensi sebagai terapis Su Jok. Para dosen tersebut berperan dalam mendampingi mahasiswa selama praktik berlangsung sekaligus memastikan bahwa setiap prosedur terapi dilakukan secara tepat, aman, dan sesuai dengan prinsip pelayanan kesehatan. Keterlibatan dosen dari berbagai bidang juga menunjukkan pentingnya kolaborasi interdisipliner dalam pengembangan layanan kesehatan yang lebih komprehensif.
Kegiatan ini juga sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya memperkenalkan terapi komplementer yang dapat membantu masyarakat mengelola keluhan kesehatan secara aman dan meningkatkan kualitas hidup, SDG 9: Industri Inovasi dan Infrastruktur melalui penerapan pendekatan inovatif dalam proses pembelajaran dan pelayanan kesehatan yang memadukan metode terapi alternatif dengan praktik keperawatan modern, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara mahasiswa, dosen lintas departemen, serta institusi layanan kesehatan dalam penyelenggaraan kegiatan edukasi dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. (Kontributor: Aulia Mayshalwa Az Zahra, Christine Chintia Tesalonika dan Prof. Intansari Nurjannah, SKp., MNSc., PhD)



