FK-KMK UGM. Mahasiswa Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada, Keshia Offira Safari Putri, mendapatkan kesempatan berharga untuk menjalankan program elektif klinis di Johannes Kepler University Linz (JKU), Austria. Kegiatan ini dilaksanakan secara intensif di Kepler University Hospital, sebuah institusi kesehatan ternama di wilayah Upper Austria.
Selama menjalani program yang dikenal dengan istilah famulatur ini, Keshia ditempatkan di Klinik Universitas untuk Ortopedi dan Traumatologi. Departemen ini beroperasi sebagai pusat rujukan tersier di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Tobias Gotterbarm yang memiliki spesialisasi dalam menangani berbagai patologi sistem muskuloskeletal. Pelayanan yang diberikan mencakup spektrum yang luas, mulai dari penanganan cedera akut dan fraktur sederhana hingga kasus polytrauma kompleks yang memerlukan tindakan resusitasi cepat di unit gawat darurat. Tidak hanya itu, departemen ini juga menjadi pusat keunggulan dalam bedah rekonstruksi, penanganan penyakit sendi degeneratif, kelainan bawaan, hingga kasus ortopedi onkologi.
Keshia terlibat dalam rutinitas harian departemen selayaknya mahasiswa koas. Di bawah supervisi langsung dari para dokter spesialis dan residen, ia berpartisipasi dalam rangkaian perawatan pasien yang komprehensif. Kegiatannya dimulai dari mengikuti rapat pagi yang disiplin untuk serah terima pasien, melakukan penilaian klinis di poliklinik rawat jalan, hingga memantau perkembangan pasien pascaoperasi melalui kegiatan bangsal (ward round). Di unit gawat darurat, ia berkesempatan mengamati alur penanganan trauma yang sangat efisien, sementara di ruang operasi, ia menyaksikan berbagai prosedur canggih seperti artroplasti, artroskopi, dan teknik osteosintesis.
Keterlibatan Keshia tidak sebatas observasi pasif. Ia dipercaya untuk membantu prosedur medis dasar seperti melakukan perawatan luka, mengganti balutan medis, serta melakukan pemeriksaan stabilitas sendi pada pasien. Pengalaman ini diperkaya dengan adanya sesi diskusi kasus dan penalaran diagnostik yang rutin dilakukan bersama tim medis. Selain aspek klinis, Keshia juga mempelajari sistem manajemen rumah sakit modern di Eropa, seperti penggunaan teknologi pelacakan alat bedah berbasis barcode dan sistem dokumentasi medis berbasis dikte yang terintegrasi. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya efisiensi teknologi dalam mendukung keselamatan pasien dan akurasi pelayanan kesehatan di rumah sakit bertaraf internasional.
Penerapan koordinasi tim melalui rapat terstruktur dua kali sehari serta spesialisasi layanan gawat darurat yang terbagi atas traumatologi, penyakit dalam, dan pediatri menjadi poin pembelajaran krusial dalam efisiensi alur kerja. Melalui paparan langsung terhadap standar pelayanan kesehatan di Austria, Keshia memperoleh pemahaman mendalam mengenai pentingnya kolaborasi multidisiplin. Pengalaman internasional ini diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis mahasiswa, tetapi juga membentuk karakter profesional medis yang adaptif terhadap perkembangan teknologi kesehatan.
Pertukaran pelajar ini juga sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dalam upaya mencetak calon tenaga medis yang memiliki pemahaman standar kesehatan global, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pemberian akses bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman belajar di institusi pendidikan tinggi ternama, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kerja sama lintas negara antara universitas dalam memajukan ilmu pengetahuan dan praktik kedokteran secara kolaboratif. (Kontributor: Agustina Latifah Hanum SPsi).




