Mahasiswa FK-KMK UGM Teliti Nilai Prediktif miRNA terhadap Toksisitas dan Kesintasan Pasien High-Grade Glioma

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada meluluskan mahasiswa Program Studi Doktor, Dr. dr. Rachmat Andi Hartanto, Sp.BS(K), dengan predikat Cumlaude sebagai Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan. Dalam ujian terbuka di Auditorium FK-KMK UGM pada Selasa, (10/2). dr. Rachmat memaparkan hasil penelitiannya yang berjudul “Nilai Prediktif Ekspresi Microrna-10b dan Microrna-21 dalam Plasma terhadap Toksisitas, Rekurensi, dan Kesintasan Penderita High-Grade Glioma yang Menjalani Kemoterapi Menggunakan Temozolomide”.

High-grade glioma merupakan tumor sistem saraf pusat dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Meskipun pendekatan tata laksana multimodal telah berkembang, peningkatan angka kesintasan pasien masih terbatas. Kondisi ini mendorong perlunya identifikasi biomarker molekuler yang mampu memprediksi respons terapi serta luaran klinis. MiRNA-10b dan miRNA-21 diketahui mengalami peningkatan ekspresi pada pasien HGG, namun peran klinisnya terhadap toksisitas terapi, rekurensi, dan kesintasan belum banyak diteliti pada populasi manusia di Indonesia.

Penelitian dr. Rachmat ini mengevaluasi peran ekspresi miRNA-10b dan miRNA-21 dalam plasma sebagai faktor prediktif terhadap toksisitas, rekurensi, dan kesintasan pasien high-grade glioma (HGG) yang menjalani kemoterapi temozolomide. Penelitian ini dilaksanakan di RS Kemenkes Sardjito Yogyakarta bekerja sama dengan FK-KMK UGM pada periode Januari 2021 hingga Desember 2024, dengan melibatkan pasien HGG yang telah menjalani prosedur maximal safe resection dan menyelesaikan terapi kemoradiasi konkuren (concurrent chemoradiotherapy/CCRT).

Pada pelaksanaannya, penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan mixed cohort (prospektif dan retrospektif). Sampel plasma diambil sebelum induksi anestesi untuk mengukur kadar miRNA-10b dan miRNA-21. Luaran yang dianalisis meliputi kejadian toksisitas berat, rekurensi tumor, serta overall survival. Dari total sampel, 46 pasien dianalisis untuk toksisitas, 49 pasien untuk rekurensi, dan 60 pasien untuk kesintasan.

“Ekspresi miRNA-10b yang tinggi sebelum kita lakukan tindakan, di dalam plasma yang kita lakukan penelitian ini menggambarkan progresivitas high-grade glioma pada saat penderita kita temukan. Ekspresi miRNA-10b yang tinggi dengan menggambarkan progresivitas yang tinggi, akan menghasilkan suatu gangguan defisit neurologis dan gangguan sistemik pada penderita. Ini adalah faktor penentu yang terjadinya rendahnya kesintasan,” terang dr. Rachmat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 30,4% pasien mengalami toksisitas berat, dan ekspresi tinggi miRNA-21 terbukti berhubungan signifikan dengan peningkatan risiko toksisitas tersebut. Pada analisis rekurensi, hampir setengah pasien mengalami kekambuhan, namun tidak ditemukan hubungan bermakna antara kadar miRNA-10b maupun miRNA-21 dengan kejadian rekurensi. Sementara itu, pada analisis kesintasan, dua pertiga pasien meninggal dengan median overall survival 338 hari. Ekspresi miRNA-10b yang tinggi terbukti berkorelasi dengan kesintasan yang lebih pendek dan peningkatan risiko kematian lebih dari dua kali lipat. Faktor usia juga berpengaruh signifikan, dengan pasien berusia di atas 60 tahun memiliki angka kesintasan yang lebih rendah.

Kegiatan ujian terbuka ini sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan tata laksana kanker berbasis bukti ilmiah, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan riset kedokteran translasi, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pemanfaatan teknologi molekuler dalam pengembangan terapi presisi di bidang neuro-onkologi, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Humas/Sitam).